Disusun
oleh:
1.
Farel Alfarizi (25051204076)
2.
Nathaniela Honey (25051204112)
3.
Syafilla Fitri Faradilla (25051204176)
4.
Alkhalifi Annabil (25051204199)
BAB I : PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Sistem operasi Linux telah lama
menjadi primadona di dunia teknologi karena sifatnya yang open-source.
Siapa pun memiliki kebebasan untuk melihat, memodifikasi, dan mendistribusikan
ulang kode sumbernya. Saat ini, ada ratusan distribusi (distro) Linux yang
beredar, seperti Ubuntu, Debian, atau Kali Linux. Namun, distro-distro standar
ini biasanya dirancang untuk kebutuhan umum (general-purpose).
Akibatnya, sistem seringkali membawa banyak aplikasi bawaan yang tidak kita
butuhkan (bloatware), atau sebaliknya, belum dilengkapi dengan perangkat
lunak spesifik yang sangat kita perlukan.
Untuk mengatasi hal tersebut,
hadirlah teknik yang disebut Remastering. Remastering adalah proses membongkar
sistem operasi yang sudah ada, memodifikasinya sesuai keinginan, dan
mengemasnya kembali menjadi sistem operasi yang benar-benar baru. Bayangkan kita
sedang meracik ulang sebuah sistem: kita bisa membuang aplikasi yang
memberatkan, memasukkan aplikasi khusus (misalnya untuk laboratorium komputer,
server, atau kasir), hingga merombak antarmukanya. Melalui praktikum ini, kita
tidak lagi hanya bertindak sebagai pengguna pasif, melainkan beralih peran
menjadi kreator yang mampu merancang distro Linux secara mandiri dan
fungsional.
1.2 Rumusan Masalah
- Apa saja landasan teori dan
komponen yang menyusun sebuah distro Linux?
- Bagaimana tahapan dan proses
sistematis dalam melakukan remastering Linux dari file ISO mentah menjadi
distro baru?
- Bagaimana cara memvalidasi dan
menguji keberhasilan distro baru yang telah dimodifikasi?
1.3 Tujuan Praktikum
- Memahami arsitektur dasar Linux
dan konsep root file system yang menjadi fondasi remastering.
- Menguasai penggunaan perangkat
lunak remastering untuk menambah aplikasi, menghapus bloatware,
dan memodifikasi antarmuka visual (tema/ikon).
- Memaketkan (build)
kembali sistem yang telah dimodifikasi menjadi sebuah file ISO baru yang
dapat di-boot (bootable) dan siap diinstal.
1.4 Manfaat Praktikum
1. Menjadi literatur dan acuan praktis dalam proses pembelajaran mata kuliah sistem operasi.
2. Distro hasil remastering memungkinkan instalasi massal di banyak komputer secara instan.
3. Mampu menciptakan sistem operasi yang jauh lebih ringan dan efisien karena disesuaikan secara spesifik dengan kapasitas perangkat keras keras yang ada
BAB II : TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Dasar
Teori
Remastering Linux adalah proses
pembuatan turunan sistem operasi baru dari paket sistem operasi yang sudah ada
(biasanya berformat .iso). Secara teknis, proses ini
melibatkan teknik chroot (Change Root), di mana kita masuk ke dalam
"jantung" sistem operasi virtual yang sedang dibongkar seolah-olah
kita sedang berada di dalamnya. Di dalam lingkungan chroot inilah kita
bebas mengeksekusi perintah berbasis teks (CLI) untuk menginstal paket aplikasi
baru (apt install), menghapus perangkat
lunak, atau mengubah konfigurasi sistem lokal. Setelah proses modifikasi
selesai, file system tersebut dikompresi kembali menjadi file image
(ISO) yang bisa dibaca oleh flashdisk atau CD-ROM.
2.2 Komponen
|
Perintah |
Fungsi Utama dalam Sistem |
|
unsquashfs & mksquashfs |
Membongkar (ekstrak) file system OS utama, dan memadatkannya
kembali setelah dimodifikasi. |
|
chroot |
Masuk ke dalam sistem operasi yang
sedang dibongkar agar bisa diotak-atik langsung dari dalam. |
|
mount & umount |
Menghubungkan (dan memutuskan)
akses sistem inti komputer agar OS yang sedang diracik bisa menggunakan
internet dan hardware. |
|
apt install / apt purge |
Menambah aplikasi baru atau
menghapus aplikasi bawaan (bloatware) yang tidak diperlukan. |
|
xorriso / genisoimage |
Membungkus ulang seluruh file
hasil modifikasi menjadi sebuah file .iso baru yang bootable (siap
diinstal). |
BAB III : PEMBAHASAN
3.1 Alat
dan Bahan
- Perangkat Keras (Hardware):
Laptop atau PC dengan spesifikasi yang memadai (disarankan RAM minimal 8GB
dan ruang penyimpanan kosong minimal 40GB) untuk proses ekstrak dan build
ISO.
- Sistem Operasi Host: Sistem
operasi utama (bisa berupa Linux atau Windows) tempat kita melakukan
pekerjaan.
- VirtualBox / VMware: Perangkat lunak virtualisasi
untuk menguji file ISO distro baru yang telah selesai dibuat.
- Aplikasi Remastering:
Perangkat lunak khusus seperti Custom Ubuntu ISO Creator (Cubic), Pinguy
Builder, atau MX Snapshot (tergantung basis distro yang
dipilih).
- File ISO Master: File sistem
operasi asli yang akan dibongkar (misalnya Ubuntu 22.04 LTS atau Linux
Mint).
3.2 Langkah-langkah
- Pada tahap awal, dilakukan persiapan sistem operasi Ubuntu sebagai dasar dalam proses remastering distro Linux. Sistem operasi dipilih karena memiliki stabilitas yang baik, ringan digunakan, serta mendukung berbagai kebutuhan pengembangan perangkat lunak. Selain itu, dilakukan pengaturan awal seperti pembaruan sistem, pengaturan user, serta konfigurasi tampilan desktop agar siap digunakan untuk proses kustomisasi.
Tahap ini sangat penting karena menjadi pondasi utama sebelum melakukan modifikasi sistem dan penambahan software pendukung lainnya.
- Setelah sistem siap digunakan, tahap berikutnya adalah membuat identitas khusus untuk distro yang dikembangkan dengan nama “Lunaris”. Pada proses ini dilakukan kustomisasi tampilan desktop seperti mengganti wallpaper, menambahkan logo distro, mengatur tema sistem menjadi dark mode, serta menyusun dock launcher agar tampak lebih modern dan profesional.
Tujuan dari tahap ini adalah menghasilkan distro Linux yang memiliki ciri khas visual tersendiri sehingga berbeda dari distro bawaan Ubuntu. Selain meningkatkan estetika, tampilan yang menarik juga memberikan kenyamanan bagi pengguna saat menggunakan sistem operasi.
- Tahap selanjutnya yaitu menginstal berbagai software dan tools development yang dibutuhkan dalam proses pemrograman. Software yang diinstal meliputi Python, Node.js, NPM, Git, MySQL, dan Visual Studio Code.
Proses instalasi dilakukan menggunakan terminal Linux dengan perintah package manager Ubuntu. Setelah instalasi selesai, sistem akan secara otomatis menambahkan software tersebut ke environment Linux sehingga dapat digunakan langsung melalui terminal maupun aplikasi desktop.
Tahap ini bertujuan agar distro Lunaris tidak hanya berfungsi sebagai sistem operasi biasa, tetapi juga siap digunakan sebagai media pengembangan perangkat lunak dan pembelajaran pemrograman.
- Setelah seluruh tools berhasil diinstal, dilakukan konfigurasi Visual Studio Code sebagai code editor utama pada distro Lunaris. Pada tahap ini pengguna membuka Visual Studio Code, membuat folder project, kemudian membuat file program baru dengan ekstensi .py.
Selain itu dilakukan pengaturan extension pendukung Python agar editor dapat menjalankan program secara langsung melalui terminal bawaan Visual Studio Code. Tahap ini mempermudah proses coding karena seluruh kebutuhan pemrograman dapat dilakukan dalam satu aplikasi.
- Pada tahap ini dilakukan pengujian sistem menggunakan program Python sederhana. Pengguna membuat file bernama main.py kemudian menuliskan program dasar untuk menampilkan teks “Hello World”.
Program dijalankan melalui terminal menggunakan interpreter Python 3. Jika output berhasil muncul sesuai perintah program, maka dapat disimpulkan bahwa Python telah berhasil terinstal dan berjalan dengan baik pada distro Lunaris.
- Tahap terakhir yaitu melakukan
pengecekan versi dari seluruh software development yang telah
diinstal. Proses ini dilakukan menggunakan terminal Linux dengan
tujuan memastikan bahwa setiap tools berhasil dipasang tanpa
kendala. Software yang diverifikasi meliputi; Node.js, NPM, Git, MySQL, Python
3.3 Hasil
Pengamatan
Gambar 3.3.1
Pada gambar pertama ditampilkan
hasil akhir tampilan desktop distro “Lunaris” setelah proses remastering
dilakukan. Sistem operasi telah berhasil dikustomisasi menggunakan tema
futuristik berwarna biru gelap dengan logo “Lunaris” pada bagian tengah desktop.
Dock launcher berada di sisi kiri layar untuk mempermudah akses aplikasi
utama. Tampilan ini menunjukkan bahwa proses personalisasi distro berhasil
dilakukan sehingga memiliki identitas visual yang berbeda dari Ubuntu standar.
Gambar 3.3.2
Pada gambar kedua ditunjukkan proses
pengujian bahasa pemrograman Python menggunakan Visual Studio Code.
File main.py berhasil dibuat dan
dijalankan menggunakan terminal Linux. Program sederhana print("Hello World") berhasil
menampilkan output “Hello World”, yang menandakan bahwa interpreter
Python telah terpasang dan dapat digunakan dengan baik pada distro Lunaris.
Gambar 3.3.3
Pada gambar ketiga ditampilkan
proses verifikasi instalasi beberapa tools development pada distro
Lunaris. Terminal menunjukkan versi dari Node.js, NPM, Git, MySQL, dan
Python yang telah berhasil terinstal. Hasil ini membuktikan bahwa distro
Lunaris telah siap digunakan sebagai sistem operasi untuk kebutuhan pemrograman
dan pengembangan perangkat lunak.
BAB IV : PENUTUP
4.1 Kesimpulan
Pada praktikum ini telah diberikan
pemahaman mengenai konsep remastering Linux sebagai proses modifikasi
sistem operasi open-source untuk kebutuhan khusus. Melalui proses remastering,
distro Ubuntu berhasil dikustomisasi menjadi distro baru bernama “Lunaris”
dengan tampilan visual yang lebih modern dan futuristik. Tidak hanya
dari sisi antarmuka, distro tersebut juga berhasil dilengkapi dengan berbagai software
development seperti Python, Node.js, NPM, Git, MySQL, dan Visual
Studio Code sehingga siap digunakan sebagai lingkungan pengembangan
perangkat lunak.
Hasil pengujian menunjukkan bahwa
seluruh tools yang diinstal dapat berjalan dengan baik tanpa kendala.
Program sederhana Python yang dijalankan melalui Visual Studio Code
berhasil menampilkan output sesuai harapan, dan proses verifikasi versi software
pada terminal membuktikan bahwa seluruh environment development telah
terpasang dengan benar. Dengan demikian, praktikum ini tidak hanya meningkatkan
keterampilan penggunaan Linux berbasis CLI, tetapi juga memberikan
pengalaman dalam membangun dan mengembangkan distro Linux yang lebih
ringan, fungsional, serta sesuai kebutuhan pengguna.
4.2 Saran
- Sebelum melakukan proses remastering, sebaiknya
pengguna memahami terlebih dahulu struktur dasar file system Linux
dan fungsi dari setiap perintah administrasi sistem agar tidak terjadi
kesalahan konfigurasi.
- Gunakan perangkat keras dengan
kapasitas RAM dan penyimpanan yang memadai karena proses remastering dan build
file ISO membutuhkan sumber daya sistem yang cukup besar.
- Lakukan pengujian distro hasil remastering
menggunakan VirtualBox atau VMware terlebih dahulu sebelum
digunakan secara langsung pada perangkat utama, guna memastikan seluruh
fitur dan software berjalan dengan stabil.
DAFTAR PUSTAKA
Shotts,
William E. The Linux Command Line: A Complete Introduction. No Starch
Press, 2019.
Negus, Christopher. Linux Bible. Wiley Publishing, 2020.
Ward,
Brian. How Linux Works: What Every Superuser Should Know. No Starch
Press, 2021.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar