Sabtu, 30 Mei 2026

REMASTERING UNTUK KEPERLUAN KHUSUS, MEMBUAT DISTRO BARU

 



Disusun oleh:

       1.  Farel Alfarizi (25051204076)

       2.  Nathaniela Honey (25051204112)

       3.  Syafilla Fitri Faradilla (25051204176)

       4.  Alkhalifi Annabil (25051204199)

 

 


 

 

 

 


BAB I : PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Sistem operasi Linux telah lama menjadi primadona di dunia teknologi karena sifatnya yang open-source. Siapa pun memiliki kebebasan untuk melihat, memodifikasi, dan mendistribusikan ulang kode sumbernya. Saat ini, ada ratusan distribusi (distro) Linux yang beredar, seperti Ubuntu, Debian, atau Kali Linux. Namun, distro-distro standar ini biasanya dirancang untuk kebutuhan umum (general-purpose). Akibatnya, sistem seringkali membawa banyak aplikasi bawaan yang tidak kita butuhkan (bloatware), atau sebaliknya, belum dilengkapi dengan perangkat lunak spesifik yang sangat kita perlukan.

Untuk mengatasi hal tersebut, hadirlah teknik yang disebut Remastering. Remastering adalah proses membongkar sistem operasi yang sudah ada, memodifikasinya sesuai keinginan, dan mengemasnya kembali menjadi sistem operasi yang benar-benar baru. Bayangkan kita sedang meracik ulang sebuah sistem: kita bisa membuang aplikasi yang memberatkan, memasukkan aplikasi khusus (misalnya untuk laboratorium komputer, server, atau kasir), hingga merombak antarmukanya. Melalui praktikum ini, kita tidak lagi hanya bertindak sebagai pengguna pasif, melainkan beralih peran menjadi kreator yang mampu merancang distro Linux secara mandiri dan fungsional.

1.2 Rumusan Masalah

  1. Apa saja landasan teori dan komponen yang menyusun sebuah distro Linux?
  2. Bagaimana tahapan dan proses sistematis dalam melakukan remastering Linux dari file ISO mentah menjadi distro baru?
  3. Bagaimana cara memvalidasi dan menguji keberhasilan distro baru yang telah dimodifikasi?

 

1.3 Tujuan Praktikum

  1. Memahami arsitektur dasar Linux dan konsep root file system yang menjadi fondasi remastering.
  2. Menguasai penggunaan perangkat lunak remastering untuk menambah aplikasi, menghapus bloatware, dan memodifikasi antarmuka visual (tema/ikon).
  3. Memaketkan (build) kembali sistem yang telah dimodifikasi menjadi sebuah file ISO baru yang dapat di-boot (bootable) dan siap diinstal.

1.4 Manfaat Praktikum

1.    Menjadi literatur dan acuan praktis dalam proses pembelajaran mata kuliah sistem operasi.

2.        Distro hasil remastering memungkinkan instalasi massal di banyak komputer secara instan.

3.   Mampu menciptakan sistem operasi yang jauh lebih ringan dan efisien karena disesuaikan secara spesifik dengan kapasitas perangkat keras keras yang ada

 

 

 

BAB II : TINJAUAN PUSTAKA

2.1       Dasar Teori
            Remastering Linux adalah proses pembuatan turunan sistem operasi baru dari paket sistem operasi yang sudah ada (biasanya berformat .iso). Secara teknis, proses ini melibatkan teknik chroot (Change Root), di mana kita masuk ke dalam "jantung" sistem operasi virtual yang sedang dibongkar seolah-olah kita sedang berada di dalamnya. Di dalam lingkungan chroot inilah kita bebas mengeksekusi perintah berbasis teks (CLI) untuk menginstal paket aplikasi baru (apt install), menghapus perangkat lunak, atau mengubah konfigurasi sistem lokal. Setelah proses modifikasi selesai, file system tersebut dikompresi kembali menjadi file image (ISO) yang bisa dibaca oleh flashdisk atau CD-ROM.

2.2       Komponen

Perintah

Fungsi Utama dalam Sistem

unsquashfs & mksquashfs

Membongkar (ekstrak) file system OS utama, dan memadatkannya kembali setelah dimodifikasi.

chroot

Masuk ke dalam sistem operasi yang sedang dibongkar agar bisa diotak-atik langsung dari dalam.

mount & umount

Menghubungkan (dan memutuskan) akses sistem inti komputer agar OS yang sedang diracik bisa menggunakan internet dan hardware.

apt install / apt purge

Menambah aplikasi baru atau menghapus aplikasi bawaan (bloatware) yang tidak diperlukan.

xorriso / genisoimage

Membungkus ulang seluruh file hasil modifikasi menjadi sebuah file .iso baru yang bootable (siap diinstal).

 

 

 

 

 

BAB III : PEMBAHASAN

3.1       Alat dan Bahan

  1. Perangkat Keras (Hardware): Laptop atau PC dengan spesifikasi yang memadai (disarankan RAM minimal 8GB dan ruang penyimpanan kosong minimal 40GB) untuk proses ekstrak dan build ISO.
  2. Sistem Operasi Host: Sistem operasi utama (bisa berupa Linux atau Windows) tempat kita melakukan pekerjaan.
  3. VirtualBox / VMware: Perangkat lunak virtualisasi untuk menguji file ISO distro baru yang telah selesai dibuat.
  4. Aplikasi Remastering: Perangkat lunak khusus seperti Custom Ubuntu ISO Creator (Cubic), Pinguy Builder, atau MX Snapshot (tergantung basis distro yang dipilih).
  5. File ISO Master: File sistem operasi asli yang akan dibongkar (misalnya Ubuntu 22.04 LTS atau Linux Mint).

 

3.2       Langkah-langkah

  1. Pada tahap awal, dilakukan persiapan sistem operasi Ubuntu sebagai dasar dalam proses remastering distro Linux. Sistem operasi dipilih karena memiliki stabilitas yang baik, ringan digunakan, serta mendukung berbagai kebutuhan pengembangan perangkat lunak. Selain itu, dilakukan pengaturan awal seperti pembaruan sistem, pengaturan user, serta konfigurasi tampilan desktop agar siap digunakan untuk proses kustomisasi.
Tahap ini sangat penting karena menjadi pondasi utama sebelum melakukan modifikasi sistem dan penambahan software pendukung lainnya.
  1. Setelah sistem siap digunakan, tahap berikutnya adalah membuat identitas khusus untuk distro yang dikembangkan dengan nama “Lunaris”. Pada proses ini dilakukan kustomisasi tampilan desktop seperti mengganti wallpaper, menambahkan logo distro, mengatur tema sistem menjadi dark mode, serta menyusun dock launcher agar tampak lebih modern dan profesional.
Tujuan dari tahap ini adalah menghasilkan distro Linux yang memiliki ciri khas visual tersendiri sehingga berbeda dari distro bawaan Ubuntu. Selain meningkatkan estetika, tampilan yang menarik juga memberikan kenyamanan bagi pengguna saat menggunakan sistem operasi.
  1. Tahap selanjutnya yaitu menginstal berbagai software dan tools development yang dibutuhkan dalam proses pemrograman. Software yang diinstal meliputi Python, Node.js, NPM, Git, MySQL, dan Visual Studio Code.
Proses instalasi dilakukan menggunakan terminal Linux dengan perintah package manager Ubuntu. Setelah instalasi selesai, sistem akan secara otomatis menambahkan software tersebut ke environment Linux sehingga dapat digunakan langsung melalui terminal maupun aplikasi desktop. 
  
Tahap ini bertujuan agar distro Lunaris tidak hanya berfungsi sebagai sistem operasi biasa, tetapi juga siap digunakan sebagai media pengembangan perangkat lunak dan pembelajaran pemrograman.
  1. Setelah seluruh tools berhasil diinstal, dilakukan konfigurasi Visual Studio Code sebagai code editor utama pada distro Lunaris. Pada tahap ini pengguna membuka Visual Studio Code, membuat folder project, kemudian membuat file program baru dengan ekstensi .py.
Selain itu dilakukan pengaturan extension pendukung Python agar editor dapat menjalankan program secara langsung melalui terminal bawaan Visual Studio Code. Tahap ini mempermudah proses coding karena seluruh kebutuhan pemrograman dapat dilakukan dalam satu aplikasi.
  1. Pada tahap ini dilakukan pengujian sistem menggunakan program Python sederhana. Pengguna membuat file bernama main.py kemudian menuliskan program dasar untuk menampilkan teks “Hello World”.
Program dijalankan melalui terminal menggunakan interpreter Python 3. Jika output berhasil muncul sesuai perintah program, maka dapat disimpulkan bahwa Python telah berhasil terinstal dan berjalan dengan baik pada distro Lunaris.
  1. Tahap terakhir yaitu melakukan pengecekan versi dari seluruh software development yang telah diinstal. Proses ini dilakukan menggunakan terminal Linux dengan tujuan memastikan bahwa setiap tools berhasil dipasang tanpa kendala. Software yang diverifikasi meliputi; Node.js, NPM, Git, MySQL, Python

3.3       Hasil Pengamatan

Gambar 3.3.1

Pada gambar pertama ditampilkan hasil akhir tampilan desktop distro “Lunaris” setelah proses remastering dilakukan. Sistem operasi telah berhasil dikustomisasi menggunakan tema futuristik berwarna biru gelap dengan logo “Lunaris” pada bagian tengah desktop. Dock launcher berada di sisi kiri layar untuk mempermudah akses aplikasi utama. Tampilan ini menunjukkan bahwa proses personalisasi distro berhasil dilakukan sehingga memiliki identitas visual yang berbeda dari Ubuntu standar.

 

Gambar 3.3.2

Pada gambar kedua ditunjukkan proses pengujian bahasa pemrograman Python menggunakan Visual Studio Code. File main.py berhasil dibuat dan dijalankan menggunakan terminal Linux. Program sederhana print("Hello World") berhasil menampilkan output “Hello World”, yang menandakan bahwa interpreter Python telah terpasang dan dapat digunakan dengan baik pada distro Lunaris.

 


Gambar 3.3.3

Pada gambar ketiga ditampilkan proses verifikasi instalasi beberapa tools development pada distro Lunaris. Terminal menunjukkan versi dari Node.js, NPM, Git, MySQL, dan Python yang telah berhasil terinstal. Hasil ini membuktikan bahwa distro Lunaris telah siap digunakan sebagai sistem operasi untuk kebutuhan pemrograman dan pengembangan perangkat lunak.

 

 

BAB IV : PENUTUP

4.1 Kesimpulan

Pada praktikum ini telah diberikan pemahaman mengenai konsep remastering Linux sebagai proses modifikasi sistem operasi open-source untuk kebutuhan khusus. Melalui proses remastering, distro Ubuntu berhasil dikustomisasi menjadi distro baru bernama “Lunaris” dengan tampilan visual yang lebih modern dan futuristik. Tidak hanya dari sisi antarmuka, distro tersebut juga berhasil dilengkapi dengan berbagai software development seperti Python, Node.js, NPM, Git, MySQL, dan Visual Studio Code sehingga siap digunakan sebagai lingkungan pengembangan perangkat lunak.

Hasil pengujian menunjukkan bahwa seluruh tools yang diinstal dapat berjalan dengan baik tanpa kendala. Program sederhana Python yang dijalankan melalui Visual Studio Code berhasil menampilkan output sesuai harapan, dan proses verifikasi versi software pada terminal membuktikan bahwa seluruh environment development telah terpasang dengan benar. Dengan demikian, praktikum ini tidak hanya meningkatkan keterampilan penggunaan Linux berbasis CLI, tetapi juga memberikan pengalaman dalam membangun dan mengembangkan distro Linux yang lebih ringan, fungsional, serta sesuai kebutuhan pengguna.

4.2 Saran

  1. Sebelum melakukan proses remastering, sebaiknya pengguna memahami terlebih dahulu struktur dasar file system Linux dan fungsi dari setiap perintah administrasi sistem agar tidak terjadi kesalahan konfigurasi.
  2. Gunakan perangkat keras dengan kapasitas RAM dan penyimpanan yang memadai karena proses remastering dan build file ISO membutuhkan sumber daya sistem yang cukup besar.
  3. Lakukan pengujian distro hasil remastering menggunakan VirtualBox atau VMware terlebih dahulu sebelum digunakan secara langsung pada perangkat utama, guna memastikan seluruh fitur dan software berjalan dengan stabil.


DAFTAR PUSTAKA

Shotts, William E. The Linux Command Line: A Complete Introduction. No Starch Press, 2019.

Negus, Christopher. Linux Bible. Wiley Publishing, 2020.


Ward, Brian. How Linux Works: What Every Superuser Should Know. No Starch Press, 2021.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar