Disusun Oleh :
Achmad Zufar Ar Rafii’ (25051204245)
Alfandi Indra Kurniawan (25051204155)
Dwi Ratna Anjani (25051204034)
Rahmat Arif Anwar (25051204156)
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Penetasan telur ayam memerlukan kondisi lingkungan yang stabil, terutama pada aspek suhu dan kelembapan. Dalam proses penetasan, perubahan suhu yang terlalu tinggi atau terlalu rendah dapat menyebabkan embrio gagal berkembang ataupun menetas tidak sempurna. Pada peternakan skala kecil maupun menengah, pengaturan suhu kandang masih sering dilakukan secara manual sehingga tidak konsisten dan membutuhkan banyak waktu serta tenaga.
Kemajuan teknologi memungkinkan pengembangan alat penyetabil suhu otomatis yang dapat memonitor serta menyesuaikan kondisi kandang secara real-time. Dengan memanfaatkan sensor suhu, kipas, dan lampu untuk mengatur suhu, alat ini diharapkan mampu meningkatkan efisiensi penetasan, mengurangi kesalahan manusia, dan meningkatkan kualitas produksi. Oleh karena itu, diperlukan sebuah penelitian dan laporan mengenai perancangan alat penyetabil suhu kandang ayam untuk mendukung keberhasilan penetasan telur.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan penjabaran latar belakang di atas, dapat dirumuskan masalah sebagai berikut:
1. Bagaimana cara merancang alat penyetabil suhu yang mampu menjaga kestabilan suhu kandang ayam untuk proses penetasan telur?
2. Komponen apa saja yang diperlukan untuk membuat alat penyetabil suhu tersebut?
3. Bagaimana sistem kerja alat dalam memantau dan mengatur suhu secara otomatis?
1.3 Tujuan Laporan
Berdasarkan pada rumusan masalah di atas, maka tujuan dari penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Mendeskripsikan proses perancangan alat penyetabil suhu kandang ayam untuk penetasan telur.
2. Menjelaskan komponen utama yang digunakan, termasuk sensor suhu, pengendali, dan sumber pemanas.
3. Menyajikan cara kerja alat dalam menjaga kestabilan suhu secara otomatis.
1.4 Manfaat Penulisan
Manfaat yang diharapkan dari kegiatan ini adalah:
1. Memberikan solusi praktis untuk menjaga suhu kandang tetap stabil sehingga meningkatkan tingkat keberhasilan penetasan.
2. Menjadi referensi dalam pengembangan alat selanjutnya.
3. Mendorong inovasi pada alat otomatisasi di sektor peternakan unggas.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Dasar Teori
2.1.1 Arduino Uno
Arduino Uno adalah sebuah papan mikrokontroler berbasis ATmega328P yang dirancang untuk memudahkan proses pembelajaran, penelitian, dan pengembangan perangkat elektronik berbasis mikrokontroler. Arduino Uno banyak digunakan dalam proyek elektronika, otomasi, Internet of Things (IoT), dan sistem kendali karena bersifat mudah diprogram, murah, serta memiliki komunitas pengguna yang sangat besar.
Secara umum, Arduino Uno memiliki 14 pin digital, 6 pin analog (A0–A5), serta berbagai fitur pendukung seperti komunikasi serial, PWM, SPI, dan I2C. Board ini dapat diprogram menggunakan Arduino IDE dengan bahasa berbasis C/C++. Arduino Uno bekerja pada tegangan 5V dan menggunakan USB sebagai antarmuka pemrograman sekaligus sumber daya.
2.1.2 IDE Arduino
Arduino Integrated Development Environment (IDE) adalah perangkat lunak utama yang digunakan untuk menulis, mengedit, mengompilasi, serta mengunggah program ke papan mikrokontroler Arduino. Arduino IDE menyediakan antarmuka yang sederhana dan mudah dipahami sehingga sangat cocok digunakan oleh pemula hingga pengguna tingkat lanjut.
Arduino IDE menggunakan bahasa pemrograman berbasis C/C++, dilengkapi dengan pustaka (library) bawaan yang mempermudah pengendalian pin digital, analog, sensor, dan berbagai modul elektronik. IDE ini terdiri dari beberapa komponen penting, yaitu text editor, serial monitor, compiler, dan upload tool. Text editor digunakan untuk menulis program (sketch), compiler mengubah kode menjadi bahasa mesin, dan upload tool bertugas mengirimkan hasil kompilasi ke mikrokontroler melalui USB
2.2 Komponen
1. Kipas angin 12v
| Kipas angin 12v |
2. Breadboard
3. Adaptor
4. LCD 16 x 12 + I2C
5. Kable USB
6. Arduino UNO
7. Kabel Jumper
8. Lampu LED (Bisa diganti dengan bohlam)
9. Relay (2 buah)
10. Sensor suhu (DHT11)
11. Jack DC
BAB III
PEMBAHASAN
1. Hubungkan kabel GND dan positif ke breadboard untuk memberikan aliran listrik pada breadboard
2. Hubungkan kaki LCD ke Arduino
- SDA> A4
- SCL> A5
- Positif > Positif(breadboard)
- GND> GND(breadboard)
3. Hubungkan kaki Sensor dht11(suhu) ke Arduino
- Positif > positif (breadboard)
- GND > GND (breadboard)
- Out > pin 2 arduino
4. Hubungkan terminal relay ke Arduino
- Positif > positif (breadboard)
- GND>GND (breadboard)
- IN > pin 3 arduino
5. Hubungkan terminal (NO)relay ke kabel positif kipas, dan terminal (COM) relay ke positif jack DC, lalu hubungan kabel negatif kipas ke jack DC
6. hubungkan terminal relay ke Arduino
- IN> pin 4 arduino
- Positif> Positif (breadboard)
- GND>GND (breadboard)
lalu menghubungkan terminal (NO) relay ke kaki positif led, dan terminal (COM) relay ke positif breadboard, lalu menghubungkan kaki negatif led ke GND breadboard
7. Menghubungkan Jack dc ke adaptor
3.2 Program
1. Siapkan Arduino Uno, Kabel USB dan IDE Arduino yang tersedia.
2. Hubungkan laptop dan Arduino UNO dengan kabel USB
3. Buka software Arduino IDE lalu atur jenis board-nya menjadi “Arduino UNO”
4. Download dan masukkan library Arduino LiquidCrystal I2C dan DHT Sensor
5. Buat atau copy sketch yang telah jadi ke Arduino IDE
6. Run code untuk mengecek apakah sudah berhasil.
7. Upload sketch dengan cara menekan tombol tanda panah ke samping kanan hingga muncul tampilan “Done Uploading” di jendela debug Arduino IDE.
BAB IV
PENUTUP
4.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil perancangan dan pengujian prototype penyetabil suhu penetasan ayam berbasis Arduino Uno, dapat disimpulkan bahwa sistem mampu melakukan pengendalian suhu secara otomatis sesuai range suhu yang dibutuhkan. Arduino Uno berfungsi sebagai pusat kendali yang membaca suhu dari sensor DHT11, kemudian mengaktifkan pemanas (lampu LED) ketika suhu berada pada kondisi tertentu, serta mengaktifkan kipas sebagai pendingin apabila suhu melebihi batas suhu yang ditentukan. LCD I2C digunakan untuk menampilkan informasi kondisi suhu secara real-time sehingga memudahkan proses pemantauan.
Prototype ini menunjukkan bahwa penggunaan mikrokontroler mampu memberikan kontrol suhu yang stabil dan responsif. Meskipun demikian, karena menggunakan lampu LED sebagai pemanas, prototype ini hanya dapat memberikan simulasi pemanasan dan belum mampu menghasilkan panas yang cukup untuk proses penetasan ayam yang sesungguhnya. Oleh karena itu, prototype ini lebih tepat digunakan sebagai model awal atau simulasi sebelum diterapkan pada alat penetas yang sebenarnya.
4.2 Saran
1. Mengganti Lampu LED dengan Bohlam atau Pemanas Sebenarnya Untuk penerapan nyata dalam penetasan telur ayam, lampu LED sebaiknya diganti dengan bohlam pijar atau elemen pemanas (heater) karena mampu menghasilkan panas yang memadai untuk mencapai temperatur ideal penetasan yaitu 37–38°C.
2. Menggunakan Sensor Suhu yang Lebih Akurat DHT11 memiliki toleransi kesalahan yang cukup besar. Sangat disarankan menggunakan sensor seperti DHT22, DS18B20, atau termokopel untuk memperoleh pembacaan suhu yang lebih presisi.
Menambahkan Sistem Keamanan Sistem dapat dikembangkan dengan fitur alarm atau auto cut-off apabila suhu melebihi batas aman untuk mencegah kerusakan telur atau perangkat
DAFTAR PUSTAKA
Banzi, Massimo. Getting Started with Arduino. Maker Media, 2015.
Arduino Documentation. Arduino Uno Board Overview. Arduino.cc.
https://www.arduino.cc/en/Main/ArduinoBoardUno
Arduino Documentation. Arduino IDE Overview. Arduino.cc.
Monk, Simon. Programming Arduino: Getting Started with Sketches. McGraw-Hill Education, 2019.
LAMPIRAN
Tidak ada komentar:
Posting Komentar