Laporan Hasil Praktek
Sistem Deteksi Api Berbasi Sensor
Infrared dan ESP8266
Kelompok 6:
Alfina Rosyada (25051204020)
Muaz Zulkarnain (25051204087)
Christian Rafael (25051204110)
Herlina Shafa M (25051204187)
DAFTAR ISI
BAB I PENDAHULUAN 1
1.1 Latar Belakang 1
1.2 Tujuan 1
BAB II TEORI PENUNJANG PRAKTIKUM 2
2.1 Arsitektur
Sistem Embedded 2
2.2 Mikrokontroler
Arduino / ESP8266 2
2.3 Sensor Flame
Infrared (IR) 3
2.4 Konsep Input,
Process, dan Output (IPO) 3
2.5 Buzzer sebagai
Aktuator 4
2.6 Arsitektur
Perangkat Keras Sistem 4
2.7 Pemrograman
Mikrokontroler Arduino 5
2.8 IoT pada Sistem
Pendeteksi Api (Opsional Jika ESP8266) 5
2.9 Kelebihan dan
Kelemahan Sistem 6
BAB III METODOLOGI ALAT & RANGKAIAN 7
3.1 Alat dan bahan7
3.2. Gambar Desain
Praktikum 9
3.3. Prosedur
Praktikum 10
BAB IV HASIL 11
4.1. Hasil 11
4.2. Analisa Hasil 11
KESIMPULAN 13
BAB I
PENDAHULUAN
I.I. Latar Belakang
Kebakaran merupakan salah satu
bahaya yang bisa terjadi kapan saja. Untuk mengurangi risiko kerugian,
dibutuhkan alat yang mampu mendeteksi adanya api sejak dini. Pada praktikum
mata kuliah Arsitektur dan Organisasi Komputer ini, kelompok kami mencoba
membuat sebuah sistem sederhana yang dapat mendeteksi api menggunakan sensor
infrared yang dihubungkan ke mikrokontroler ESP8266. Ketika sensor menangkap
adanya api, buzzer akan berbunyi sebagai tanda peringatan.
Praktikum ini dilakukan untuk
memahami bagaimana perangkat keras (hardware) dapat saling berkomunikasi dan
bekerja sama dalam sebuah rangkaian sederhana untuk menghasilkan fungsi
tertentu.
I.2. Tujuan
a. Membuat rangkaian sistem sederhana
berupa alat pendeteksi api menggunakan sensor infrared dan ESP8266.
b. Melatih kemampuan merangkai komponen
elektronika dasar.
c. Memahami cara kerja sensor,
mikrokontroler, serta proses komunikasi data antarperangkat dalam sistem
terbenam.
d.
Meningkatkan kemampuan analisis terhadap hubungan antara
perangkat keras dan fungsinya dalam suatu rangkaian elektronik.
BAB II
TEORI PENUNJANG PRAKTIKUM
2.1 Arsitektur Sistem Embedded
Sistem embedded adalah sistem
komputasi yang dirancang untuk menjalankan fungsi tertentu secara khusus.
Berbeda dari komputer umum (general purpose computer), sistem embedded biasanya
terdiri dari mikrokontroler yang memiliki CPU, memori, dan modul input/output
dalam satu chip.
Dalam konteks praktikum ini, Arduino
atau ESP8266 berperan sebagai sistem embedded yang mengontrol proses
pendeteksian api dan pengaktifan alarm. Mikrokontroler di dalamnya menjalankan
instruksi secara langsung tanpa sistem operasi sehingga responnya cepat dan
efisien.
2.2 Mikrokontroler Arduino / ESP8266
Arduino
(misalnya ATmega328P) atau ESP8266 merupakan inti pemrosesan dari sistem ini.
Mikrokontroler tersebut memiliki beberapa komponen utama yang berkaitan dengan
arsitektur komputer:
- Central Processing Unit (CPU)
Berfungsi mengeksekusi instruksi
program melalui siklus fetch, decode, execute. CPU mengolah data dari sensor
dan mengatur output pada buzzer.
- Memori
Mikrokontroler memiliki beberapa
jenis memori:
a. Flash Memory : tempat penyimpanan
program (non-volatile).
b. SRAM : digunakan untuk menyimpan
variabel saat program berjalan.
c.
EEPROM : menyimpan data permanen yang tidak hilang saat
listrik mati.
- Input/Output (I/O)
Mikrokontroler memiliki pin digital
dan analog yang memungkinkan interaksi dengan sensor flame dan buzzer. Pin ini
dikendalikan oleh CPU melalui instruksi program.
2.3 Sensor Flame Infrared (IR)
Sensor
Flame Infrared seperti modul HW-201 bekerja berdasarkan prinsip deteksi cahaya
infra merah yang dipancarkan oleh api. Api menghasilkan radiasi pada panjang
gelombang 760 - 1100 nm, yang kemudian dideteksi oleh sensor.
Komponen pada Flame Sensor:
a. Photodiode Infrared : Menangkap
pancaran sinar IR dari api.
b. Penguat (Amplifier) : Memperkuat
sinyal cahaya yang diterima.
c. Comparator dengan Potensiometer :
Membandingkan intensitas cahaya dengan nilai ambang (threshold). Jika
intensitas melebihi threshold, maka
output DIGITAL berubah.
d.
Output Sensor : AO (Analog Output) untuk nilai intensitas
IR dan DO (Digital Output) untuk HIGH/LOW berdasarkan threshold
Cara Kerja Sensor:
a. Ketika tidak ada api maka sensor
menghasilkan nilai HIGH
b.
Ketika ada api maka nilai berubah menjadi LOW (tergantung
modul)
LED DO pada sensor menyala sebagai
indikator bahwa sensor mendeteksi perubahan intensitas IR.
2.4 Konsep Input, Process, dan
Output (IPO)
Model IPO menjelaskan alur kerja
dari sistem pendeteksi api berbasis Arduino:
- Input : Sensor flame membaca intensitas sinar infra
merah.
- Process : Mikrokontroler
memproses input dengan logika:
a. Jika terdeteksi api, aktifkan buzzer
b.
Jika tidak, buzzer tetap mati
Semua
proses dilakukan oleh CPU dengan menjalankan instruksi program yang tersimpan
di memori.
- Output : Buzzer berbunyi
sebagai alarm peringatan adanya api.
2.5 Buzzer sebagai Aktuator
Buzzer adalah perangkat output yang
digunakan untuk menghasilkan suara sebagai tanda alarm.
Jenis Buzzer:
a. Buzzer Aktif (bunyi otomatis saat diberi tegangan).
b.
Buzzer Pasif (membutuhkan sinyal frekuensi (misal fungsi
tone pada Arduino).
Pada
praktikum ini buzzer digunakan sebagai aktuator yang akan aktif ketika Arduino
mendeteksi adanya api, sehingga menunjukkan peran I/O dalam arsitektur
komputer.
2.6 Arsitektur Perangkat Keras
Sistem
Rangkaian pendeteksi api terdiri
dari beberapa komponen:
- Sensor Layer : Flame sensor sebagai perangkat input
yang membaca keadaan lingkungan.
- Processing Layer :
Arduino/ESP8266 sebagai pemroses yang menjalankan logika program.
- Actuator Layer : Buzzer sebagai perangkat output
yang memberikan respon berupa alarm.
2.7 Pemrograman Mikrokontroler
Arduino
Program
pada Arduino ditulis menggunakan bahasa C/C++ yang disederhanakan.
Program terdiri dari dua fungsi utama:
- setup() : Berjalan sekali di awal. Digunakan untuk
inisialisasi pin I/O.
- loop() : Berjalan terus menerus. Digunakan untuk
membaca sensor dan memberikan output ke buzzer.
Instruksi sederhana seperti:
a. pinMode() : menentukan mode pin
b. digitalRead() : membaca sinyal
sensor
c.
digitalWrite() : mengatur output buzzer
Semua
instruksi ini diterjemahkan oleh CPU dalam bentuk operasi mesin (machine
instruction).
2.8 IoT pada Sistem Pendeteksi Api
(Opsional Jika ESP8266)
Jika
menggunakan ESP8266 dengan WiFi, sistem dapat dikembangkan menjadi sistem IoT.
IoT memungkinkan data sensor dapat dikirim ke internet atau dipantau secara
jarak jauh.
Konsep IoT dalam arsitektur sistem:
- Sensing (membaca api)
- Processing (mikrokontroler)
- Communication (WiFi MQTT/HTTP)
- Actuation (buzzer atau alarm lain)
Hal
ini menjadikan sistem pendeteksi api lebih modern dan dapat diintegrasikan
dengan sistem keamanan rumah.
2.9 Kelebihan dan Kelemahan Sistem
Kelebihan yang dimiliki oleh sistem
ini yaitu biaya pembuatannya yang murah karena menggunakan komponen sederhana
dan mudah diperoleh, sehingga sangat cocok digunakan untuk proyek praktikum
maupun penerapan skala kecil. Sistem ini juga mudah dirakit karena rangkaiannya
tidak terlalu rumit, sehingga memudahkan pengguna dalam proses instalasi maupun
perawatan. Selain itu, alat ini mampu mendeteksi keberadaan api dengan cepat
pada jarak dekat berkat sensitivitas sensor infrared yang cukup baik.
Kelemahan yang dimiliki oleh sistem
ini yaitu sensor infrared mudah terpengaruh oleh cahaya luar seperti sinar
matahari, sehingga hasil deteksi dapat menjadi kurang akurat. Jarak deteksinya
juga terbatas sehingga sensor hanya efektif untuk mendeteksi api pada jarak
dekat. Selain itu, sistem berpotensi mengalami false alarm akibat
pantulan cahaya tertentu, dan alat ini tidak mampu mendeteksi asap sehingga
hanya bekerja ketika ada nyala api. Faktor lingkungan seperti debu, kelembapan,
dan posisi pemasangan sensor juga dapat memengaruhi sensitivitas serta
keandalan alat dalam mendeteksi api.
BAB III
METODOLOGI ALAT & RANGKAIAN
3.1 Alat dan bahan
ALAT
|
No. |
Nama Alat |
Fungsi |
|
1. |
Gambar1. Laptop |
Membuat perintah yang akan di masukkan, dan menginputkan
coding yang akan di upload di esp 8266 |
|
2. |
Gambar2. Korek |
Untuk test hasil projek setelah di rakit |
BAHAN
|
No. |
Nama Bahan |
Fungsi |
|
1. |
Gambar3. Esp8266 |
Menerima perintah coding,kemudian menyimpannya serta
menjadi controller di breadboard. |
|
2. |
Gambar4. Sensor api HW 0-72 |
Memberikan sinyal ke ESP 8266 setelah didekatkan ke api
yang berasal dari korek |
|
3. |
Gambar5. Buzzer 2 pin |
Memberikan output suara Beep setelah mendapat sinyal dari
Esp 8266 |
|
4. |
Gambar6. Breadboard |
Menjadi papan sirkuit pusat yang menjadi jalur listrik
segala komponen |
|
5. |
Gambar7. jumper male to female |
Sebagai konektor dari ESP 8266 ke Sensor HW-072 |
|
6. |
Gambar8. Jumper Male to Male |
Sebagai konektor dari ESP 8266 ke Buzzer 2 pin |
3.2. Gambar Desain Praktikum
3.3. Prosedur Praktikum
- Menyiapkan semua alat dan bahan yang
diperlukan.
- Menempatkan ESP8266 dan sensor
infrared pada breadboard.
- Tancapkan active buzzer ke
breadboard.
- Wiring dengan kabel male to
female:
a. Active buzzer : vcc ke port 3.3 v,
gnd ke ground, dan i/o ke port d5.
b. Sensor infrared : vcc ke port 3.3v,
gnd ke ground, dan o ke port d1.
- Setelah itu, buka aplikasi
arduino IDE.
- Pastikan sudah memasukkan
esp8266 ke arduino.
- Coding command dan prompt yang
di butuhkan untuk membuat sistem bekerja.
- Setelah pencodingan selesai
verify dan upload di arduino (pastikan esp8266 dalam kondisi belum
dicoding sebelumnya, jikalau sudah ada prompt sebelumnya, bisa di reset).
- Setelah program terupload, tes
dengan mendekatkan api dari korek ke sensor.
- Jikalau berhasil maka buzzer akan
berbunyi beep. Namun, jika buzzer belum berbunyi maka diperlukan
troubleshooting dengan melihat berbagai step diatas.
BAB IV
HASIL
4.1. Hasil
Pada saat praktikum dilakukan,
rangkaian sensor infrared dan ESP8266 berhasil dirakit dan seluruh komponen
dapat menyala dengan baik. Namun, ketika dilakukan pengujian awal, kami mengalami hambatan yaitu buzzer langsung
berbunyi terus-menerus, dan terkadang sensor malah tidak mendeteksi api sama
sekali.
Setelah melakukan pengecekan ulang
terhadap program coding , pin yang digunakan, serta mengatur ulang
potensiometer pada sensor infrared, sistem mulai menunjukkan perubahan. Sensor
akhirnya dapat memberikan pembacaan yang stabil dan tidak lagi memicu buzzer
secara terus-menerus.
Pada tahap pengujian berikutnya,
ketika nyala korek api didekatkan ke arah sensor, alat berhasil mendeteksi
keberadaan api, dan buzzer berbunyi sesuai fungsi yang telah diprogram. Hasil
ini menunjukkan bahwa sistem pendeteksi api telah bekerja dengan benar setelah
penyesuaian dilakukan. Secara keseluruhan, kelompok kami berhasil membuat dan
menguji rangkaian sehingga sensor dan buzzer dapat berfungsi sesuai tujuan
praktikum.
4.2.
Analisa Hasil
Selama praktikum, kelompok kami
berhasil merangkai sensor infrared dan ESP8266 dengan baik. Semua komponen
terpasang rapi pada breadboard dan sensor dapat menyala ketika diberi daya,
menandakan bahwa rangkaian awal sudah tersusun dengan benar.
Namun, sebelum sistem bekerja sesuai
harapan, kami sempat mengalami hambatan. Diantaranya, buzzer terus berbunyi
tanpa henti, meskipun tidak ada api yang didekatkan ke sensor, dan juga sensor
tidak mendeteksi api. Kondisi ini menunjukkan bahwa sensor membaca input yang
salah, ataupun terdapat kesalahan di program coding yang kami buat. Untuk
mengatasi hal ini, kelompok kami melakukan beberapa penyesuaian, seperti
memeriksa kembali posisi kabel, mengecek program, serta mengatur ulang
sensitivitas sensor melalui potensiometer pada modul. Setelah dilakukan
penyesuaian tersebut, barulah sensor dapat memberikan pembacaan yang stabil.
Setelah hambatan teratasi, sensor
akhirnya dapat mendeteksi nyala api dengan baik. Ketika api didekatkan, sensor
memberi sinyal ke ESP8266, dan buzzer berbunyi sesuai fungsi yang diharapkan.
Hal ini membuktikan bahwa alur kerja sistem mulai dari input sensor, pemrosesan
pada mikrokontroler, hingga output buzzer telah berjalan dengan benar.
KESIMPULAN
Berdasarkan praktikum pembuatan
sistem pendeteksi api menggunakan sensor infrared dan ESP8266, dapat
disimpulkan bahwa kelompok kami berhasil merangkai dan mengoperasikan alat
sesuai tujuan awal, yaitu membuat sistem sederhana pendeteksi api berbasis
Arduino. Dengan hasil, seluruh komponen, mulai dari sensor, mikrokontroler,
hingga buzzer, dapat terhubung dan bekerja dengan baik setelah dilakukan
beberapa penyesuaian dan perbaikan.
Meskipun pada awal pengujian kami
mengalami hambatan-hambatan teknis, masalah tersebut dapat diatasi melalui
pengecekan ulang rangkaian, program dan pengaturan sensitivitas sensor. Setelah
dilakukan perbaikan, sistem mampu mendeteksi keberadaan api secara akurat dan
memberikan output berupa bunyi buzzer sebagai tanda peringatan.
Secara keseluruhan, praktikum ini
memberikan pemahaman nyata tentang hubungan antara sensor, mikrokontroler, dan
aktuator dalam sebuah sistem embedded. Selain itu, praktikum ini juga
meningkatkan kemampuan kelompok dalam melakukan troubleshooting dan menyusun
rangkaian elektronik sederhana. Dengan demikian, tujuan praktikum dapat
tercapai dan alat pendeteksi api berhasil bekerja dengan baik.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar