Sabtu, 13 Desember 2025

ARDUINO ESP32 SEBAGAI PENDETEKSI KELEMBAPAN TANAH UNTUK MENINGKATKAN KESESUAIAN KADAR AIR PADA TANAMAN

 Disusun oleh:

Ahmad Jouwdad Aufa Robbani                  (25051204163)

Sidqiana Azzahra                                        (25051204037)

Garda Putra Widi Sanjaya                          (25051204160)

Muh. Arga Gumilang Sulfa                        (25051204183)

Ahmad Sulthan Maulana Yusuf                 (25051204118)


BAB I

PENDAHULUAN


1.1. Latar Belakang

    Air adalah sumber kehidupan bagi makhluk hidup, terutama tanaman. Air sebagai komponen utama yang dibutuhkan di berbagai proses vital seperti penyerapan nutrisi, fotosintesis, dan semacamnya. Maka dari itu, kesesuaian kadar air sangat berpengaruh terhadap kualitas pertumbuhan pada tanaman tersebut. Kelebihan kadar air yang diberikan berpotensi menghambat respirasi akar, sehingga tidak dapat menyerap nutrisi dengan baik. Jika dibiarkan, pertumbuhan tanaman pun terhambat, bahkan membusuk. Begitu pula jika kadar air yang diberikan tidak mencukupi kebutuhan tanaman, proses fotosistesis tidak dapat dilakukan secara maksimal, rentan terhadap serangan hama dan penyakit. Berdasarkan kebiasaan masyarakat pada umumnya, petani menyiram tanaman dengan kadar air menurut perkiraan saja, tanpa didasarkan data yang akurat. Sementara perubahan cuaca dapat berubah kapan saja. Hal ini membuktikan perlunya sistem pendeteksi kondisi kelembapan tanah secara real-time demi kesesuaian kadar air yang diberikan.

    Teknologi berkembang begitu pesat, menghadirkan berbagai inovasi yang mampu dijadikan sebagai solusi dari segala aspek kehidupan. Salah satunya, pengembangan Arduino dan ESP32. Alat ini merupakan kit elektronik sebagai pengendali mikro open source dalam proyek perangkat lunak untuk memudahkan penggunaan elektronik di berbagai bidang. Dalam praktikum ini, Arduino diaplikasikan sebagai inti dari sistem pendeteksi kelembapan tanah menggunakan sensor kelembapan (soil moisture sensor). Data yang diperoleh dari sensor akan diproses oleh ESP32 untuk mengontrol penyiraman tanaman secara otomatis atau memberikan notifikasi berupa indikator LED.

    Implementasi sistem berbasis ESP32 ini diharapkan dapat menjadi solusi yang efektif, efisien, dan terjangkau untuk mengoptimalkan irigasi tanaman. Sistem ini tidak hanya membantu mencegah penyiraman berlebihan atau kekurangan air, tetapi juga menghemat tenaga dan sumber daya air. Pada akhirnya, teknologi sederhana ini berpotensi meningkatkan produktivitas tanaman, mendukung praktik pertanian berkelanjutan, dan mengedukasi masyarakat tentang pentingnya presisi dalam perawatan tanaman di era digital.

 

1.2. Rumusan Masalah

    Bagaimana implementasi sistem monitoring kelembapan tanah secara real-time menggunakan sensor kelembapan tanah dan ESP32/Arduino, serta mengatur penyiraman otomatis berdasarkan kadar air yang terdeteksi?

1.3. Tujuan Laporan

Membangun sistem monitoring kadar air tanah berbasis ESP32/Arduino yang mampu
menampilkan data kelembapan secara real-time.

Mengimplementasikan kontrol otomatis penyiraman tanaman berdasarkan ambang
batas kelembapan tanah yang telah ditentukan.  

Menguji efektivitas sistem dalam mempertahankan kelembapan tanah optimal untuk
pertumbuhan tanaman.

1.4. Manfaat Laporan

Memberikan solusi elektronik yang efektif bagi petani dalam monitoring tanaman
Sebagai salah satu upaya peningkatan kualitas pertanian di Indonesia
Menyalurkan edukasi kebutuhan tanaman bagi petani maupun Masyarakat
Mengasah kemampuan problem solving bagi para pengembang sistem
Memanfaatkan kemudahan teknologi dalam konteks pemeliharaan alam 

 

BAB II

LANDASAN TEORI

2.1. ESP32 dan Mikrokontroler

    Mikrokontroler adalah sebuah chip terintegrasi yang berfungsi sebagai unit pengendali dalam suatu sistem elektronik. Komponen ini dapat diprogram untuk menjalankan tugas-tugas spesifik, menjadikannya otak dari berbagai perangkat cerdas, terutama dalam ekosistem Internet of Things (IoT). Pemilihan mikrokontroler yang tepat merupakan langkah strategis yang menentukan kapabilitas, efisiensi, dan skalabilitas sebuah proyek. Dalam konteks ini, ESP32 menonjol sebagai pilihan yang unggul karena telah mengintegrasikan modul WiFi dan Bluetooth di dalam satu chip, didukung oleh kemampuan pemrosesan yang mumpuni untuk menangani aplikasi IoT modern. Untuk memvalidasi keunggulan ini, analisis mendalam terhadap spesifikasi teknis dan fitur perangkat keras ESP32 menjadi krusial.

    2.1.1. Spesifikasi Teknis Arduino Uno

    ESP32 merupakan mikrokontroler berdaya rendah yang dikembangkan oleh Espressif Systems sebagai penerus dari seri ESP8266. Papan pengembangan referensi untuk mikrokontroler ini adalah ESP32 Dev Kit V1, yang dibangun di atas mikrokontroler Tensilica 32-bit Xtensa LX6 berperforma tinggi. Papan ini dirancang serbaguna dan dilengkapi dengan beragam pin input/output serta antarmuka komunikasi, menjadikannya sangat cocok untuk berbagai aplikasi elektronika dan proyek IoT yang membutuhkan konektivitas nirkabel. 

    Berikut adalah rincian spesifikasi teknis dari papan pengembangan ESP32 Dev Kit V1.



    2.1.2. Fitur Perangkat Keras Utama

 Power ESP32 memiliki serangkaian fitur perangkat keras yang superior dibandingkan mikrokontroler sekelasnya, menjadikannya platform yang ideal untuk pengembangan aplikasi IoT yang kompleks dan kaya fitur.

Konektivitas Nirkabel Terintegrasi

o Salah satu keunggulan utama ESP32 adalah integrasi modul WiFi 802.11 b/g/n dan Bluetooth 4.2/BLE di dalam satu chip. Hal ini secara signifikan menyederhanakan desain perangkat keras, mengurangi biaya total komponen (Bill of Materials), dan meminimalkan potensi kegagalan sistem yang mungkin timbul dari penggunaan modul eksternal, yang pada mikrokontroler lain seperti Arduino UNO harus ditambahkan secara terpisah.  

Prosesor Dual-Core Berkecepatan Tinggi

o ESP32 ditenagai oleh prosesor Dual-Core Xtensa LX6 dengan kecepatan clock yang dapat mencapai 240 MHz. Kemampuan ini jauh melampaui mikrokontroler lain seperti Arduino UNO, yang hanya menggunakan prosesor single-core ATmega328P dengan kecepatan 16 MHz. Performa pemrosesan yang superior ini memungkinkan ESP32 menangani tugas-tugas komputasi yang intensif dan multitasking secara efisien, seperti menjalankan server web sambil memproses data sensor secara bersamaan tanpa degradasi kinerja.  

 
Kapasitas Memori yang Besargo

o ESP32 dibekali dengan kapasitas memori yang jauh lebih besar, yaitu 520 kB SRAM dan 4 MB memori Flash. Sebagai perbandingan, Arduino UNO hanya memiliki 2 kB SRAM dan 32 KB memori Flash. Kapasitas memori yang luas ini memberikan ruang yang leluasa bagi pengembang untuk membangun aplikasi yang lebih kompleks, menyimpan data dalam jumlah besar, dan mengimplementasikan fungsionalitas canggih seperti Over-The-Air (OTA) updates. 

Kemampuan Input/Output (I/O) yang Fleksibel

o Meskipun modul ESP32-WROOM-32 secara teoretis memiliki hingga 48 pin GPIO (General-purpose input/output), papan pengembangan ESP32 Dev Kit V1 yang umum digunakan memecah 25 pin digital untuk penggunaan umum, yang memberikan fleksibilitas luas untuk berbagai aplikasi. Papan ini menyediakan 6 kanal Analog-to-Digital Converter (ADC) dengan resolusi 12-bit, lebih tinggi dibandingkan resolusi 10-bit pada Arduino UNO. Hal ini memungkinkan ESP32 untuk menangkap nuansa sinyal analog dari sensor dengan presisi yang lebih tinggi, sebuah keunggulan krusial dalam aplikasi pengukuran saintifik. Selain itu, ESP32 juga dilengkapi dengan 2 kanal Digital-to-Analog Converter (DAC) dan antarmuka komunikasi serial yang melimpah seperti UART, SPI, dan I2C, memungkinkan interkoneksi dengan beragam sensor dan aktuator secara simultan. 

    2.1.3. Lingkungan Perangkat Lunak dan Pemrograman

    Untuk memprogram papan ESP32, pengembang dapat memilih dari beberapa lingkungan pengembangan terintegrasi (Integrated Development Environment - IDE) yang populer, masing-masing dengan keunggulannya.

Arduino IDE: Merupakan salah satu platform yang paling banyak digunakan karena kemudahan dan kesederhanaannya. Arduino IDE menggunakan bahasa pemrograman C/C++ yang telah disederhanakan dan dilengkapi dengan beragam library siap pakai yang mempermudah operasi input/output dan interaksi dengan berbagai modul perangkat keras. 

Visual Studio Code (VS Code) dengan PlatformIO IDE: Untuk proyek yang lebih besar dan kompleks, VS Code dengan ekstensi PlatformIO IDE menjadi alternatif yang lebih canggih. Lingkungan ini menawarkan fitur-fitur modern seperti auto-completion yang cerdas, pengecekan kesalahan sintaks secara real-time, dan sistem manajemen library yang lebih terstruktur. Keunggulan utamanya adalah kemampuan mengelola dependensi secara otomatis melalui berkas konfigurasi platformio.ini, sebuah peningkatan signifikan dibandingkan penanganan library manual di Arduino IDE, yang sangat vital untuk proyek dengan banyak berkas dan ketergantungan kompleks. 

2.2. Sensor Kelembapan Tanah

    Kelembapan tanah didefinisikan sebagai jumlah air yang tersimpan di antara pori-pori tanah. Parameter ini memegang peranan krusial dalam bidang pertanian, kehutanan, dan pemantauan lingkungan, karena secara langsung memengaruhi pertumbuhan tanaman dan berbagai proses biogeokimia. Penggunaan sensor untuk mengukur kelembapan tanah memungkinkan proses pengukuran dilakukan secara otomatis dan berkelanjutan. Hal ini mengarah pada pengelolaan sumber daya air yang lebih efisien, pengambilan keputusan irigasi yang lebih tepat, dan peningkatan produktivitas secara keseluruhan. Pemilihan sensor yang tepat bergantung pada pemahaman mendalam tentang prinsip kerja yang mendasarinya, yang secara umum terbagi menjadi dua metode utama: resistif dan kapasitif.

    2.2.1. Prinsip Kerja Sensor

    Sensor kelembapan tanah umumnya bekerja dengan memanfaatkan perubahan sifat elektrik tanah yang berkorelasi langsung dengan kandungan airnya. Dua prinsip kerja yang paling umum digunakan adalah resistif dan kapasitif.

Sensor Resistif 

    Sensor jenis ini bekerja dengan mengukur hambatan atau resistansi listrik antara dua probe konduktif yang dimasukkan ke dalam tanah. Prinsip dasarnya sederhana: karena air merupakan konduktor listrik yang baik, tanah yang basah akan memiliki resistansi listrik yang rendah. Sebaliknya, tanahyang kering akan memiliki resistansi yang tinggi karena aliran listrik terhambat. Sensor resistif populer karena harganya yang ekonomis dan kemudahan penggunaannya, namun memiliki kelemahan utama yaitu rentan terhadap korosi akibat aliran arus listrik langsung melalui probe, yang membatasi masa pakainya. 

Sensor Kapasitif 

    Sensor kapasitif mengukur kelembapan tanah dengan prinsip yang berbeda, yaitu dengan mengukur kapasitansi di mana tanah berfungsi sebagai medium dielektrik. Air memiliki konstanta dielektrik yang jauh lebih tinggi (sekitar 80) dibandingkan udara (sekitar 1). Oleh karena itu, ketika kandungan air dalam tanah meningkat, nilai kapasitansi yang terukur oleh sensor juga akan meningkat secara proporsional. Sensor jenis ini dianggap lebih unggul karena tidak mengalirkan arus listrik langsung ke tanah, sehingga lebih tahan terhadap korosi, memiliki masa pakai yang lebih panjang, dan memberikan pembacaan yang lebih stabil.  

    Berikut adalah tabel perbandingan ringkas antara kedua jenis sensor tersebut.     


    2.2.2. Jenis-Jenis Sensor Lanjutan

    Selain sensor resistif dan kapasitif yang umum digunakan dalam proyek skala kecil, terdapat teknologi yang lebih canggih untuk pengukuran yang lebih presisi, di antaranya: 

TDR (Time Domain Reflectometry) 

    Memberikan akurasi yang sangat tinggi dengan mengukur waktu yang dibutuhkan pulsa                elektromagnetik untuk merambat dan kembali melalui probe. 

FDR (Frequency Domain Reflectometry): 

    Bekerja dengan prinsip serupa TDR namun mengukur perubahan frekuensi resonansi sensor yang juga menawarkan akurasi tinggi. 

    Kemampuan sensor-sensor ini untuk mengukur kadar air tanah secara akurat
merupakan faktor fundamental dalam menjaga kesehatan dan produktivitas tanaman, yang
akan dibahas lebih lanjut pada bagian berikutnya.

2.3. Pengaruh Kelembapan Tanah bagi Tumbuhan

    Menjaga tingkat kelembapan tanah yang tepat merupakan faktor kritis bagi kesehatan, pertumbuhan, dan produktivitas tanaman. Kondisi air yang tidak seimbang, baik kelebihan maupun kekurangan, dapat memberikan dampak negatif yang signifikan terhadap fungsi fisiologis tanaman. Oleh karena itu, pemantauan dan pengelolaan kelembapan tanah secara otomatis menjadi strategi penting dalam pertanian modern untuk menciptakan lingkungan tumbuh yang optimal. Pemanfaatan sensor kelembapan tanah untuk manajemen air menawarkan sejumlah keuntungan strategis yang berkontribusi langsung pada keberhasilan budidaya tanaman.  

    Berikut adalah beberapa manfaat utamanya: 
 
Mencegah Kelebihan Air (Overwatering): Irigasi yang berlebihan dapat menyebabkan tanah menjadi jenuh air, yang menghalangi akar mendapatkan oksigen yang cukup. Kondisi ini dapat memicu masalah serius seperti busuk akar (root rot), yang merusak sistem perakaran dan pada akhirnya membahayakan kesehatan tanaman secara keseluruhan 
.
Mencegah Kekurangan Air (Underwatering): Sebaliknya, kekurangan air menyebabkan tanaman mengalami dehidrasi dan stres kekeringan (drought stress). Kondisi ini menghambat proses fotosintesis, menyebabkan tanaman layu, dan jika dibiarkan dapat mengakibatkan kematian tanaman. 
 
Meningkatkan Efisiensi Irigasi: Dengan menyediakan data kelembapan secara real-time, sistem dapat menyuplai air hanya ketika dibutuhkan dan dalam jumlah yang tepat. Pendekatan berbasis data ini mencegah pemborosan dan secara signifikan menghemat sumber daya air dan listrik yang digunakan untuk pompa irigasi. 
 
Mendukung Pertanian Presisi: Penggunaan sensor adalah inti dari konsep pertanian presisi atau smart farming. Data yang akurat memungkinkan petani untuk mengelola 10 kondisi pertumbuhan tanaman secara spesifik dan terkontrol, yang pada akhirnya meningkatkan hasil panen dan kualitas produk. Untuk dapat membangun sebuah sistem yang dapat merespons data dari sensor secara otomatis, dibutuhkan beberapa komponen pendukung yang berfungsi sebagai
aktuator dan antarmuka, yang akan dijelaskan pada bagian selanjutnya.

2.4. Komponen Pendukung

Sensor Input (Pendukung Fungsi Utama) 
 
o Sensor Soil Moisture (Kapasitif/Resistif): Ini adalah komponen utama yang bertindak sebagai input bagi ESP32. Fungsinya adalah mendeteksi dan mengukur kadar air dalam tanah, yang kemudian datanya diproses oleh ESP32.  
 
Antarmuka Output Visual (Pendukung Monitoring) 
 
o OLED Display 128x64 (0.96 inci) I2C: Berfungsi sebagai antarmuka visual untuk menampilkan hasil pengukuran (persentase kelembapan dan status tanah) yang sudah diproses oleh ESP32. 
 
o LED 3 Warna (Merah, Kuning, Hijau): Berfungsi sebagai indikator visual yang sederhana dan cepat untuk menunjukkan status kelembapan tanah (Kering, Cukup Lembap, Basah) berdasarkan logika yang diprogram pada ESP32. 
 
o Buzzer: Berfungsi sebagai indikator peringatan audio (khususnya untuk kondisi kering/bahaya) yang diaktifkan oleh ESP32. 
 
Komponen Pendukung Sirkuit dan Koneksi 
 
o Resistor 220ohm (3 buah): Digunakan untuk membatasi arus yang masuk ke LED agar tidak rusak ketika dihubungkan ke pin output digital ESP32. 
 
o Breadboard: Papan rangkaian yang memudahkan perakitan dan pengujian komponen sirkuit tanpa perlu menyolder. 
 
o Kabel Jumper (Male-to-Male & Male-to-Female): Digunakan untuk menghubungkan jalur listrik dan sinyal antara ESP32 dan semua komponen pendukung (sensor, OLED, LED, dll.).  
 
o Kabel USB Micro/Type-C: Digunakan untuk mengunggah program ke ESP32 dan sebagai sumber daya saat pengembangan. 
 
    Semua komponen ini, kecuali ESP32 itu sendiri (yang merupakan  mikrokontroler/otak), adalah komponen pendukung yang diperlukan agar sistem pengukuran dan monitoring kelembapan tanah dapat berfungsi sepenuhnya sesuai perancangan.


BAB III

PEMBAHASAN

3.1. Alat dan Bahan

    Berdasarkan perancangan sistem pendeteksi kelembapan tanah berbasis Internet of Things (IoT) dan monitoring visual, berikut adalah alat dan bahan yang digunakan:

    3.1.1. Perangkat Keras (Hardware) 

Arduino ESP32
 
  • Mikrokontroler ESP8266 / ESP32: Berfungsi sebagai otak utama sistem yang menggantikan Arduino Uno untuk memproses data dari sensor. Modul ini dipilih karena dimensinya yang ringkas dan kemampuan pemrosesan yang mumpuni.
Sensor soil moisture

  • Sensor Soil Moisture (Kapasitif/Resistif): Berfungsi sebagai input untuk mendeteksi kadar air dalam tanah
OLED Display

  • OLED Display 128x64 (0.96 inci) I2C: Berfungsi sebagai antarmuka output visual untuk menampilkan nilai kelembapan (persentase) dan status tanah secara real-time
Lampu LED

  • LED 3 Warna (Merah: tanah kering, Kuning: cukup lembap, Hijau:tanah basah): Berfungsi sebagai indikator visual status tanah
Resistor

  • Resistor 220Ω (3 buah): Berfungsi untuk menahan arus agar LED tidak rusak.
Breadboard

  • Breadboard: Papan rangkaian untuk merakit komponen tanpa penyolderan.
Kabel Jumper

  • Kabel Jumper (Male-to-Male & Male-to-Female): Sebagai penghubung jalur listrik antar komponen
Kabel Mikro USB

  • Kabel USB Micro/Type-C: Untuk menghubungkan ESP ke laptop saat pengunggahan program.

    3.1.1. Perangkat Lunak (Software)

Arduino IDE: Lingkungan pengembangan terpadu untuk menulis, mengompilasi, dan
mengunggah kode program ke Mikrokontroler ESP. 
 
Library Pendukung:
o Adafruit_SSD1306 & Adafruit_GFX (Untuk mengontrol layar OLED).
o ESP8266WiFi/WiFi.h (Jika fitur loT diaktifkan).

3.2. Langkah – Langkah

    Proses pembuatan alat pendeteksi kelembapan tanah ini dilakukan melalui beberapa tahapan sistematis:

    3.2.1. Perancangan Rangkaian (Wiring)

Rangkaian dirakit pada breadboard dengan konfigurasi sebagai berikut:

Sensor Kelembapan: Pin VCC ke 3.3V, GND ke GND, dan Pin Analog Output (AO) ke pin A0 pada ESP. 

OLED Display: Pin VCC ke 3.3V/5V, GND ke GND, Pin SCL ke pin D1 (GPIO 5), dan Pin SDA ke pin D2 (GPIO 4) (Konfigurasi umum pada NodeMCU ESP8266). 

Indikator LED & Buzzer:

oLED Merah (Kering) dihubungkan ke Pin Digital (misal: D5).

oLED Kuning (Lembap) dihubungkan ke Pin Digital (misal: D6).

oBuzzer dihubungkan ke Pin Digital (misal: D8). 

oLED Hijau (Basah) dihubungkan ke Pin Digital (misal: D7).

oSetiap kaki positif LED dipasangkan resistor 220Ω sebelum masuk ke pin mikrokontroler

    3.2.2. Pembuatan Kode Program (Coding)

Kode program ditulis pada Arduino IDE dengan logika algoritma sebagai berikut:
Inisialisasi sensor, layar OLED, dan pin output (LED & Buzzer).
Membaca nilai analog dari sensor soil moisture.
Melakukan pemetaan (mapping) nilai pembacaan sensor menjadi persentase (0% - 100%).
Logika Kondisional (If-Else):

o Jika kelembapan < 30% (Kering): Nyalakan LED Merah, Bunyikan Buzzer, Tampilkan status “KERING” di OLED. 

o Jika kelembapan 30% - 70% (Normal): Nyalakan LED Kuning, Matikan Buzzer, Tampilkan status “NORMAL” di OLED. 

o Jika kelembapan > 70% (Basah): Nyalakan LED Hijau, Matikan Buzzer, Tampilkan status “BASAH” di OLED. 

    3.2.2. Pengujian dan Kalibrasi

Program diunggah (upload) ke papan ESP.

Sensor diuji pada tiga kondisi media: udara bebas (kering), tanah lembap, dan air (basah) untuk memastikan pembacaan data akurat.

3.3. Hasil Praktikum

Berdasarkan pengujian yang telah dilakukan, sistem pendeteksi kelembapan tanah bekerja sesuai dengan rancangan. Berikut adalah hasil yang diperoleh: 

       


Kondisi Kering: Saat sensor tidak menyentuh air atau diletakkan pada tanah kering, layar OLED menampilkan persentase kelembapan rendah. LED Merah menyala dan Buzzer berbunyi sebagai peringatan bahwa tanaman membutuhkan air. 

Kondisi Ideal: Saat sensor ditancapkan pada tanah yang sudah disiram secukupnya, layar OLED menampilkan status “Normal”. LED Kuning menyala, menandakan kondisi tanah optimal bagi tanaman. 

Kondisi Basah: Saat sensor mendeteksi kadar air yang tinggi (jenuh), LED Hijau menyala. Ini menginformasikan pengguna bahwa tanah sudah terlalu basah dan tidak perlu disiram lagi. 

Tampilan Informasi: Layar OLED berhasil menampilkan data numerik dan teks status secara jelas, memudahkan pembacaan tanpa perlu melihat monitor komputer (Serial Monitor).

Sistem ini berhasil berfungsi sebagai alat monitoring portabel yang efektif untuk membantu pemeliharaan tanaman tanpa fitur penyiraman otomatis
 

 BAB IV 

PENUTUP

 4. 1. Kesimpulan

    Berdasarkan analisis dari laporan praktikum ini, ESP32 cocok dijadikan sebagai solusi efektif untuk menyesuaikan kadar air pada tanaman. Produk elektronik ini mampu memproses data kelembapan tanah secara real-time melalui sensor soil moisture dan menampilkannya dalam bentuk indikator visual maupun suara. Sistem ini membantu pengguna mengetahui kondisi tanah apakah kering, normal, atau basah. Sehingga, penyiraman dapat dilakukan secara tepat dan tidak berlebihan. Melalui dukungan komponen seperti LED, buzzer, dan OLED display, Arduino mampu memberikan informasi yang jelas, praktis, dan mudah dipahami. Penggunaan Arduino sebagai alat monitoring kelembapan tanah menjadi lebih akurat, efisien, dan mendukung pengelolaan air yang lebih baik bagi tanaman.



DAFTAR PUSTAKA

1. Rahma, R. Fungsi Air Bagi Tumbuhan https://www.gramedia.com/literasi/fungsi-air-bagi-tumbuhan/

2. Cherlinka, V. 2025. Kelembaban Tanah: Cara Mengukur & Memantau Kadarnya. https://eos.com/blog/soil-moisture/

3. Arduino. https://id.wikipedia.org/wiki/Arduino

4. Setiawan, Roni. 2022. Apa itu Arduino?. https://www.dicoding.com/blog/apa-itu-arduino/

5. Das, D.2024. Arduino Soil Moisture Sensor Tutorial - Complete Wiring Guide & Code. https://projecthub.arduino.cc/Aswinth/soil-moisture-sensor-with-arduino-91c818\

6. Umbu, A.B.S. 2023. KALIBRASI SENSOR KELEMBABAN TANAH YL-69 UNTUK SISTEM PENGUKURAN KELEMBABAN TANAH BERBASIS ARDUINO UNO. https://e-journal.uniflor.ac.id/index.php/optika/article/view/2691.

7. Rachmawati, A.V., Yantidewi, A.M.2024. BME280 Sensor Calibration Analysis with Linear Regression Approach for Temperature, Relative Humidity and Dew Point Measurements. https://share.google/NJg2QW6qbOpQzUgzx.

8. Setyawan, D.Y., Warsito,W., Marjunus, R., Sumaryo, S.2024. Novel Controlling System for Smart Farming-based Internet of Things (IoT). https://thesai.org/Publications/ViewPaper?Volume=15&Issue=5&Code=IJACSA &SerialNo=63.

9. Setyawan, D.Y., Rosmalia, L. Setiawati, M.G.2024. Analisis Perbandingan dan Karakterisasi Sensor Kelembaban Tanah Jenis Kapasitif dengan Jenis Resistif pada Objek Penginderaan yang Samahttps://share.google/qlNmPmuiCwrQU9mSN.

10. Soil Moisture Sebagai Pendeteksi Kelembapan Tanah.https://giteknindo.id/soil-moisture-sensor-sebagai-pendeteksi-kelembaban-tanah/.

11. https://jurnal.itscience.org/index.php/brilliance/article/view/5974.

12. https://staklim-sumsel.bmkg.go.id/soil-moisture/.

13. Putra, T.R., Triwiyatno, A., Afrisal, H.2021. PERANCANGAN SENSOR, AKTUATOR DAN AKUISISI DATA PADA PROTOTYPE SMART GREENHOUSEUNTUK PERTUMBUHAN TANAMAN SAWI. https://share.google/fqCIDNLiZMa0yVA3Q.

14. Agustinur, S.C., Yantidewi, M., Deta, U.M.2024. Kalibrasi Sensor MS1100-P111 sebagai Detektor Gas Formaldehid (HCHO) dan Sensor DHT22 untuk Mendeteksi Kelembaban Relatif dan Temperatur.
https://share.google/RqWx3Usx3QATmPo4U.



LAMPIRAN





 

 

 




 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar