Disusun oleh :
Afnan Bagus Kurniawan (25051204078) Muhammad
Fawwaz Taufiqul Hakim (25051204175)
Calvin Azarya Pravita Yuwono (25051204177)
Aliya Shafia (25051204200)
BAB IPENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Sistem operasi Linux memiliki arsitektur yang memungkinkan modifikasi menyeluruh terhadap image instalasi atau live ISO-nya. Proses ini dikenal sebagai remastering, yaitu teknik mengambil distribusi Linux yang sudah ada, memodifikasi isinya sesuai kebutuhan spesifik, lalu mengemas ulang hasilnya menjadi ISO baru yang siap di-boot. Dalam konteks teknisi lapangan dan administrator sistem, ketersediaan distribusi berbasis live yang memuat alat pemulihan data dan diagnostik perangkat merupakan kebutuhan praktis yang nyata.
Distro generalis seperti Ubuntu atau Lubuntu tidak dirancang khusus untuk pekerjaan pemulihan. Ukurannya cukup besar dan memuat banyak aplikasi yang tidak relevan untuk skenario penyelamatan data atau perbaikan sistem. Sebaliknya, distribusi khusus rescue umumnya tidak menyertakan antarmuka grafis yang ramah, sehingga kurang efisien bagi teknisi yang tidak familiar dengan antarmuka berbasis teks sepenuhnya.
Praktikum ini menggunakan Lubuntu 24 (berbasis Ubuntu 24.04 LTS) sebagai base ISO karena ringan dan sudah menyertakan desktop environment LXQt. Di atas dasar itu, dilakukan remastering menggunakan Cubic (Custom Ubuntu ISO Creator) untuk menghasilkan distribusi baru bernama Rescue Lite, yaitu live distro yang dirancang khusus untuk tiga fungsi utama: penyelamatan data, pemulihan sistem, dan perbaikan perangkat (termasuk workstation Windows).
1.2 Rumusan Masalah
1. Bagaimana mengimplementasikan proses remastering distribusi Linux berbasis Lubuntu menggunakan Cubic?
2. Bagaimana cara mengintegrasikan paket-paket recovery data esensial seperti TestDisk, PhotoRec, Clonezilla, chntpw, dan ClamAV/ClamTK ke dalam image ISO Rescue Lite?
3. Bagaimana cara mengkonfigurasi dukungan sistem file non-Linux (NTFS dan exFAT) ke dalam distro hasil remastering untuk memastikan interoperabilitas dengan sistem Windows dan media penyimpanan modern?
1.3 Tujuan Praktikum
1. Memahami konsep dan alur kerja remastering distribusi Linux berbasis Debian/Ubuntu.
2. Mengoperasikan Cubic sebagai alat modifikasi ISO dengan lingkungan chroot virtual.
3. Menginstal dan mengkonfigurasi paket-paket rescue tool di dalam chroot.
4. Menambahkan dukungan sistem file NTFS dan exFAT agar distro dapat berinteraksi dengan partisi Windows dan media penyimpanan berkapasitas besar.
5. Memodifikasi direktori skeleton (/etc/skel/) untuk menjamin konsistensi konfigurasi desktop pada setiap sesi live.
6. Menghasilkan ISO final RescueLite dan membuatnya bootable menggunakan BalenaEtcher atau Ventoy.
BAB IILANDASAN TEORI
2.1 Teori Dasar
Remastering adalah proses memodifikasi image sistem operasi Linux yang telah ada (biasanya dalam format .iso) untuk menghasilkan distribusi baru dengan konfigurasi, aplikasi, atau tampilan yang berbeda. Prosesnya mencakup: (1) ekstraksi filesystem dari ISO sumber, (2) modifikasi konten filesystem dalam lingkungan terisolasi, dan (3) pengepakan ulang menjadi ISO baru yang bootable.
Distro berbasis Debian dan Ubuntu sangat populer sebagai basis remastering karena ekosistem paket apt yang matang dan dukungan live-boot melalui casper atau live-boot. Hasil remastering dapat berupa live CD/USB yang berjalan langsung dari media tanpa instalasi, maupun installer image yang dapat dipasang ke storage permanen.
2.2 Cubic (Custom Ubuntu ISO Creator)
Cubic adalah aplikasi GUI berbasis GTK untuk platform Ubuntu dan turunannya yang menyederhanakan proses remastering. Alat ini mengotomasi tahapan teknis yang sebelumnya harus dilakukan manual, seperti mounting ISO, mengekstrak squashfs, masuk ke lingkungan chroot, hingga mengemas ulang filesystem dan menghasilkan ISO baru yang bootable.
Antarmuka Cubic yang berbasis wizard memandu pengguna melalui setiap tahap: pemilihan ISO sumber, konfigurasi versi distro baru, sesi chroot interaktif untuk modifikasi, pemilihan kernel, dan pembuatan ISO akhir. Cubic menyimpan semua file proyek secara terstruktur sehingga modifikasi dapat dilanjutkan atau diulang tanpa harus memulai dari awal.
2.3 Konsep Izin Akses (File Permission)
Chroot (change root) adalah mekanisme sistem operasi Unix/Linux yang memindahkan root directory aktif suatu proses ke direktori lain. Dalam konteks remastering, Cubic menggunakan chroot untuk menjalankan shell di dalam file system yang diekstrak dari ISO, seolah-olah sistem sedang berjalan langsung di atas filesystem tersebut.
Di dalam lingkungan chroot, perintah apt berfungsi penuh karena manajer paket menggunakan /etc/apt/sources.list milik filesystem target, bukan milik host. Hal ini memungkinkan instalasi, penghapusan, dan konfigurasi paket secara langsung ke image yang sedang dibangun. Namun, karena chroot tidak memiliki akses ke kernel host secara penuh, beberapa operasi yang membutuhkan namespace khusus (seperti mount secara nyata) dibatasi.
2.4 Desktop Environment LXQt
LXQt adalah desktop environment yang ringan dan bersifat modular, dikembangkan sebagai penerus LXDE dengan basis Qt. Konsumsi RAM-nya berada di kisaran 250-350 MB pada kondisi idle, menjadikannya pilihan ideal untuk sistem live yang berjalan dari RAM. Pada Lubuntu 24.04, LXQt hadir sebagai DE default dengan manajemen jendela Openbox.
Untuk keperluan distro live seperti RescueLite, LXQt memberikan keseimbangan antara kemudahan penggunaan antarmuka grafis dan efisiensi sumber daya. Teknisi dapat menjalankan alat recovery berbasis GUI seperti GParted atau ClamTK tanpa overhead yang signifikan.
2.5 Konsep Izin Akses (File Permission)
Berikut adalah ringkasan fungsi setiap paket recovery yang diinstal ke dalam RescueLite:
BAB III
METODOLOGI dan LANGKAH KERJA
3.1 Spesifikasi Environment
Praktikum dilaksanakan dengan spesifikasi lingkungan sebagai berikut:
3.2 Persiapan Sistem Host
3.2.1 Persiapan Sistem Host
Cubic diinstal dari PPA resmi pengembang karena belum tersedia di repositori Ubuntu standar. Eksekusi perintah berikut secara berurutan di terminal host :
3.2.2 Unduh Base ISO Lubuntu 24
Unduh ISO Lubuntu 24.04 dari situs resmi Lubuntu (https://lubuntu.me/downloads/). Verifikasi integritas file menggunakan SHA256:
3.3 Memulai Proyek di Cubic
Jalankan Cubic dari menu aplikasi atau terminal dengan perintah cubic. Pada layar pembuka, tentukan direktori proyek (misalnya ~/rescuelite-project) yang akan digunakan Cubic untuk menyimpan semua file kerja. Klik Next, lalu pada layar berikutnya pilih file ISO Lubuntu yang telah diunduh.
Cubic akan mengekstrak squashfs filesystem dari ISO sumber ke direktori proyek. Proses ini membutuhkan beberapa menit tergantung kecepatan storage. Setelah ekstraksi selesai, isi field identitas distribusi baru pada form yang tersedia:
3.4 Sesi Modifikasi di dalam Chroot
Setelah konfigurasi identitas distro, Cubic secara otomatis membuka terminal virtual yang terhubung ke chroot environment filesystem target. Pengguna berhadapan langsung dengan shell di dalam sistem yang sedang dibangun. Seluruh perintah instalasi dan konfigurasi dieksekusi di dalam terminal ini, bukan di terminal host.
Indikator bahwa shell sudah berada di dalam chroot adalah prompt yang berubah menjadi root@cubic atau serupa, dan path root (/) menunjuk ke filesystem target, bukan filesystem host.
Tahapan modifikasi di dalam chroot mencakup: (1) pembaruan repository, (2) instalasi paket recovery, (3) instalasi driver filesystem, dan (4) modifikasi direktori skeleton. Detail eksekusi beserta output simulasi dipaparkan secara lengkap di Bab IV.
3.5 Pembuatan ISO Akhir
Setelah semua modifikasi di dalam chroot selesai, ketik exit untuk keluar dari lingkungan chroot kembali ke Cubic. Wizard Cubic akan menampilkan layar pemilihan kernel. Pilih kernel yang tersedia (umumnya sudah terpilih otomatis) dan klik Next.
Cubic kemudian mengkompres ulang filesystem menggunakan xz compression ke dalam squashfs, mengintegrasikan bootloader, dan menghasilkan file ISO final. Proses kompresi dapat memakan waktu 10-30 menit tergantung ukuran filesystem dan kecepatan CPU.
3.6 Flashing ke Media Bootable
3.6.1 Menggunakan BalenaEtcher
BalenaEtcher menyediakan antarmuka grafis yang sederhana untuk proses flashing. Langkah-langkahnya adalah: (1) buka BalenaEtcher, (2) klik Flash from file dan pilih ISO RescueLite yang baru dibuat, (3) klik Select target dan pilih USB drive yang dituju, lalu (4) klik Flash dan tunggu hingga proses verifikasi selesai.
3.6.2 Menggunakan Ventoy
Ventoy menawarkan pendekatan berbeda: USB drive diformat sekali menggunakan Ventoy, lalu file ISO cukup disalin ke partisi data Ventoy. Untuk menambahkan RescueLite ke USB Ventoy yang sudah ada, cukup eksekusi perintah salin berikut:
Keunggulan Ventoy adalah satu USB dapat memuat banyak ISO sekaligus dan dipilih melalui menu boot Ventoy saat startup.
BAB VIHASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Pembaruan Repository di dalam Chroot
Langkah pertama di dalam terminal chroot Cubic adalah memastikan daftar paket repository diperbarui. Ini penting karena filesystem yang diekstrak dari ISO mungkin memiliki daftar paket yang sudah kedaluwarsa.
Simulasi output terminal:
Chroot memanfaatkan koneksi internet host melalui bind mount yang dilakukan Cubic secara otomatis terhadap /etc/resolv.conf. Akibatnya, proses apt update di dalam chroot menggunakan resolusi DNS dan koneksi jaringan milik host, sehingga tidak diperlukan konfigurasi jaringan tambahan di dalam chroot itu sendiri.
4.2 Instalasi Paket Recovery Utama
4.2.1 Menggunakan BalenaEtcher
TestDisk dan PhotoRec didistribusikan dalam satu paket bernama testdisk di repositori Ubuntu.
Simulasi output terminal (ringkasan):
4.2.2 Clonezilla
Clonezilla diinstal bersama dependensinya, termasuk drbl (Diskless Remote Boot in Linux) yang menyediakan berbagai skrip pendukung operasi kloning.
4.2.3 chntpw
chntpw diinstal untuk keperluan reset password Windows dan modifikasi registry Windows secara offline.
4.2.4 ClamAV dan ClamTK
ClamAV (engine) dan ClamTK (GUI frontend) diinstal bersamaan untuk menyediakan kapabilitas pemindaian antivirus dengan dan tanpa antarmuka grafis.
Setelah instalasi, database signature ClamAV di dalam chroot perlu diperbarui agar pemindaian langsung efektif saat live boot. Namun, pembaruan penuh database (freshclam) sebaiknya ditunda hingga distro digunakan, karena database ClamAV diperbarui sangat sering. Untuk keperluan ISO, cukup pastikan layanan freshclam tidak aktif otomatis agar tidak menimbulkan error saat boot tanpa koneksi internet:
4.3 Instalasi Dukungan Sistem File
4.3.1 NTFS dengan ntfs-3g
TestDisk dan PhotoRec didistribusikan dalam satu paket bernama testdisk di repositori Ubuntu.
ntfs-3g menyediakan mount.ntfs-3g sebagai driver NTFS dengan dukungan write. Tanpa paket ini, kernel hanya dapat me-mount partisi NTFS dalam mode read-only melalui driver ntfs bawaan. Dengan ntfs-3g, teknisi dapat membaca, menulis, dan bahkan memodifikasi file di partisi Windows secara langsung, termasuk saat menggunakan chntpw untuk memodifikasi SAM registry.
4.3.2 exFAT dengan exfat-fuse
TestDisk dan PhotoRec didistribusikan dalam satu paket bernama testdisk di repositori Ubuntu.
exfat-fuse memungkinkan mount filesystem exFAT melalui mekanisme FUSE (Filesystem in Userspace). Dukungan ini krusial karena flashdisk berkapasitas 64 GB ke atas yang diformat di Windows atau macOS umumnya menggunakan exFAT. Tanpa driver ini, RescueLite tidak dapat mengakses media penyimpanan tersebut, sehingga proses transfer data hasil recovery akan terhambat.
Verifikasi seluruh instalasi driver filesystem dengan memeriksa ketersediaan binary mount yang relevan:
4.3 Modifikasi Direktori Skeleton (/etc/skel/)
4.4.1 Konsep dan Fungsi Direktori Skeleton
Direktori /etc/skel/ (dari kata skeleton, kerangka) berfungsi sebagai template home directory. Setiap kali pengguna baru dibuat di sistem Linux melalui useradd atau adduser, isi /etc/skel/ disalin ke home directory pengguna tersebut. Dalam konteks live distro, mekanisme ini dimanfaatkan casper (framework live-boot Ubuntu) untuk menginisialisasi home directory pengguna live (biasanya bernama lubuntu atau ubuntu) setiap kali sistem di-boot dari media.
Konsekuensinya, file apa pun yang ditempatkan di /etc/skel/ akan selalu hadir di home directory pengguna saat live session dimulai, tanpa perlu konfigurasi manual. Ini sangat berguna untuk menempatkan shortcut desktop (file .desktop), wallpaper, atau file konfigurasi aplikasi di posisi yang tepat secara otomatis.
4.4.2 Membuat Direktori Pendukung di Skeleton
Gambar 4.4.2.1
Direktori Desktop adalah lokasi standar LXQt untuk ikon yang tampil di desktop. Direktori .config/pcmanfm-qt/lxqt adalah lokasi konfigurasi file manager PCManFM-Qt yang juga mengelola tampilan desktop LXQt. Direktori Pictures/Wallpapers menyimpan wallpaper RescueLite yang akan digunakan sebagai background default.
4.4.3 Membuat File .desktop untuk Shortcut Recovery Tools
File .desktop mengikuti spesifikasi XDG Desktop Entry dan mendefinisikan entri aplikasi atau aksi yang dapat diklik di desktop. Setiap shortcut recovery tool dibuat sebagai file .desktop tersendiri di dalam /etc/skel/Desktop/.
4.4.4 Menetapkan Izin Eksekusi pada File .desktop
File .desktop memerlukan bit eksekusi agar dikenali sebagai shortcut yang dapat diluncurkan oleh file manager, bukan sekadar file teks biasa.
4.4.5 Konfigurasi Wallpaper RescueLite
Wallpaper ditempatkan di /etc/skel/Pictures/Wallpapers/. Untuk keperluan praktikum, diasumsikan file wallpaper telah disiapkan di host dan disalin ke dalam chroot melalui mekanisme path proyek Cubic. Dari sisi chroot, wallpaper dapat diunduh langsung atau dibuat sederhana dengan utilitas yang tersedia:
Nilai path wallpaper menggunakan /home/lubuntu/ (home directory pengguna live Lubuntu) karena pada saat live session berjalan, /etc/skel/ sudah disalin ke sana. Path ini tidak merujuk ke /etc/skel/ itu sendiri karena file konfigurasi dibaca oleh DE setelah sesi pengguna dimulai.
4.4.6 Verifikasi Struktur Direktori Skeleton
Wallpaper ditempatkan di /etc/skel/Pictures/Wallpapers/. Untuk keperluan praktikum, diasumsikan file wallpaper telah disiapkan di host dan disalin ke dalam chroot melalui mekanisme path proyek Cubic. Dari sisi chroot, wallpaper dapat diunduh langsung atau dibuat sederhana dengan utilitas yang tersedia:
Gambar 4.4.6.1
4.5 Keluar dari Chroot dan Pembuatan ISO
Setelah exit, Cubic kembali menampilkan antarmuka grafisnya. Pada layar Package Manifest, Cubic otomatis memperbarui daftar paket yang akan ditampilkan di installer. Klik Next, pilih kernel (linux-image-generic), klik Next kembali, dan Cubic mulai mengompresi filesystem dan membangun ISO.
Gambar 4.5.2
4.6 Analisis Teknis Hasil Modifikasi
Modifikasi yang dilakukan di dalam chroot menghasilkan perubahan permanen pada squashfs filesystem, yang merupakan lapisan read-only dari live distro. Setiap file dan paket yang diinstal tersimpan langsung dalam layer ini, sehingga tersedia secara instan saat ISO di-boot tanpa proses instalasi tambahan.
Strategi /etc/skel/ memiliki keunggulan penting dibandingkan memodifikasi langsung home directory pengguna tertentu. Pada live distro berbasis casper, home directory dibuat ulang dari /etc/skel/ setiap sesi boot. Jika modifikasi dilakukan langsung di home directory pengguna live di dalam chroot, perubahan tersebut akan tertimpa oleh casper saat boot. Dengan menempatkan konfigurasi di /etc/skel/, kepersistanan antarsesi terjamin secara sistemik.
Paket ntfs-3g dan exfat-fuse memperluas kompatibilitas RescueLite secara signifikan. Teknisi dapat langsung me-mount partisi Windows target menggunakan perintah mount - t ntfs-3g /dev/sda2 /mnt/windows, lalu mengoperasikan chntpw atau menyalin file recovery ke partisi tersebut tanpa hambatan filesystem.
BAB VKESIMPULAN
5.1 Kesimpulan
Praktikum ini berhasil menghasilkan distribusi Linux khusus bernama RescueLite 1.0 melalui proses remastering menggunakan Cubic berbasis Lubuntu 24.04 LTS amd64. Distro yang dihasilkan memiliki karakteristik dan fungsionalitas sebagai berikut:
1. RescueLite berbasis squashfs live filesystem dengan desktop environment LXQt yang ringan (footprint memori sekitar 300 MB pada kondisi idle), menjadikannya dapat berjalan pada perangkat dengan RAM terbatas.
2. Distro memuat empat alat recovery utama yang siap pakai: TestDisk/PhotoRec untuk pemulihan partisi dan file berdasarkan signature, Clonezilla untuk operasi kloning disk, chntpw untuk reset password Windows secara offline, serta ClamAV/ClamTK untuk pemindaian malware.
3. Dukungan sistem file NTFS melalui ntfs-3g dan exFAT melalui exfat-fuse memungkinkan interoperabilitas penuh dengan partisi Windows dan media penyimpanan modern, yang merupakan prasyarat teknis untuk sebagian besar skenario pemulihan di lingkungan campuran Windows-Linux.
4. Modifikasi /etc/skel/ menjamin bahwa shortcut desktop untuk seluruh recovery tools dan wallpaper branding RescueLite tersedia secara konsisten di setiap sesi live boot, tanpa konfigurasi manual oleh pengguna akhir.
5. Proses remastering menggunakan Cubic terbukti efisien dan repeatabel. Proyek Cubic yang tersimpan memungkinkan iterasi pengembangan selanjutnya, seperti penambahan alat baru atau pembaruan paket, tanpa harus memulai dari ISO sumber dari awal.
5.2 Saran
1. Pengembangan Skrip Otomatisasi Post-Remastering: Proses instalasi paket recovery (Bab 4.2) dapat diotomatisasi sepenuhnya menggunakan skrip Bash atau Python. Skrip ini harus mencakup instalasi cubic (jika diperlukan), instalasi semua paket rescue dan driver filesystem, serta eksekusi freshclam untuk memperbarui database ClamAV segera setelah instalasi, sehingga meminimalkan intervensi manual di dalam sesi chroot.
2. Integrasi Alat Forensik Digital Lanjut: Selain alat pemulihan data umum, disarankan untuk mengintegrasikan alat forensik digital yang lebih spesifik, seperti: Bulk Extractor: Untuk ekstraksi data terstruktur (email, URL, kartu kredit) dari media yang rusak. Autopsy: Sebagai frontend grafis untuk analisis forensik berbasis The Sleuth Kit (TSK). Menambahkan dukungan untuk mounting partisi LVM (Logical Volume Manager) dan RAID.
3. Optimasi Ukuran ISO dan Kernel: Lakukan pembersihan sistem file secara lebih agresif di dalam chroot (misalnya menghapus cache paket apt clean dan file dokumentasi yang tidak perlu) untuk mengurangi ukuran file ISO akhir. Pertimbangkan untuk menggunakan kernel yang dioptimalkan untuk performa live USB, bukan kernel generic, untuk mengurangi konsumsi memori dan mempercepat waktu booting.
4. Uji Kompatibilitas Boot UEFI/Legacy Lintas Platform: Lakukan pengujian flashing dan booting yang lebih ekstensif pada berbagai merek perangkat keras (laptop/desktop) dengan mode BIOS Legacy dan UEFI yang ketat untuk memastikan kompatibilitas bootloader yang dihasilkan Cubic benar-benar universal.
Secara keseluruhan, RescueLite memenuhi tujuan perancangan sebagai live distro yang spesifik, ringan, dan siap pakai untuk keperluan penyelamatan data, pemulihan sistem, dan perbaikan perangkat di lapangan.


























Tidak ada komentar:
Posting Komentar