LAPORAN
HASIL PRAKTIKUM
Remastering
Arch Linux: Optimalisasi Distribusi Sistem Operasi Low-Latency untuk
Workstation Trading Finansial
DISUSUN
OLEH
Any
Aulia Putri (25051204228)
M.
Raihan Azzaidan (25051204170)
Alvito
Wahyu Dwi Nofa (25051204031)
Velanisa
Lutfiana (25051204025)
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Pendahuluan
Sistem operasi memegang peranan vital
dalam produktivitas seorang trader, terutama dalam aktivitas jual beli aset
keuangan seperti saham, forex, maupun kripto. Sebagai fondasi utama, stabilitas
sistem operasi menentukan seberapa baik platform transaksi dapat beroperasi
dalam lingkungan pasar yang dinamis.
Bagi trader yang berfokus pada keuntungan
jangka pendek dari fluktuasi pasar, profit dapat diperoleh dalam hitungan
menit, jam, hingga harian. Dalam kondisi kompetitif tersebut, selisih waktu
dalam milidetik atau latency menjadi faktor yang sangat krusial karena
dapat menentukan hasil antara keuntungan dan kerugian bagi pengguna.
Penggunaan sistem operasi yang dirancang
untuk umum seperti Windows, MacOS, dan Ubuntu sering kali dirasa terlalu berat
karena banyaknya proses latar belakang yang berjalan. Oleh karena itu,
pemilihan distro berbasis Arch yang minimalis dilakukan untuk memastikan
seluruh sumber daya CPU terfokus sepenuhnya pada aplikasi trading dan eksekusi
data secara real-time.
1.2 Tujuan Praktikum
Adapun tujuan praktikum ini adalah:
- Memahami
proses instalasi OS berbasis Arch Linux
- Memahami
proses instalasi package pada Arch Linux
- Memahami
proses set up environment pada Arch Linux
- Mampu
me-remaster Arch Linux untuk suatu keperluan trading
BAB
II
DASAR
TEORI
2.1 Analisis Teknikal dan
Fundamental
Dalam
aktivitas trading, analisis teknikal berfokus pada pergerakan harga historis
dan volume pasar menggunakan grafik, sedangkan analisis fundamental berfokus
pada nilai intrinsik aset berdasarkan data ekonomi, berita, dan laporan
keuangan. Kedua analisis ini sangat bergantung pada kecepatan arus informasi.
Untuk menyajikan data grafik (chart)
dan order book yang berubah setiap milidetik, platform trading modern
menggunakan protokol WebSocket. Berbeda dengan protokol HTTP
konvensional yang bersifat request-response (klien harus meminta data
terlebih dahulu baru server merespons), WebSocket menyediakan saluran
komunikasi dua arah secara penuh (full-duplex) di atas satu koneksi TCP
tunggal.
Setelah koneksi WebSocket terbentuk antara
platform trading di komputer trader dengan server broker, data pergerakan harga
(ticker data) akan dikirimkan secara konstan oleh server secara real-time
tanpa adanya overhead dari pembuatan header HTTP berulang-ulang.
Hal ini memangkas waktu transmisi data secara drastis, sehingga indikator
teknikal dan visualisasi grafik dapat diperbarui secara instan pada layar
trader.
2.2 Low Latency Kernel
Kernel
standar pada distribusi Linux umumnya menggunakan konfigurasi throughput-oriented,
yang artinya kernel dioptimalkan untuk menyelesaikan pekerjaan komputasi massal
sebanyak mungkin, meskipun harus mengorbankan waktu respons (responsiveness).
Bagi kebutuhan trading, jeda penjadwalan CPU (scheduling delay) sekecil
apa pun dapat menunda eksekusi tombol Buy atau Sell.
Penggunaan kernel khusus seperti Linux-Zen
atau Linux-RT (Real-Time) jauh lebih unggul dibandingkan kernel standar
karena menggunakan mekanisme Preemption Mode yang agresif (PREEMPT_RT
atau PREEMPT_DYNAMIC). Pada kernel standar, proses yang sedang berjalan di
dalam ruang kernel tidak dapat diinterupsi hingga tugasnya selesai.
Sebaliknya, pada Low Latency Kernel,
proses latar belakang yang tidak penting dapat dipaksa berhenti (preempted)
seketika saat ada paket data pasar dari WebSocket atau input perintah eksekusi
dari trader yang masuk. Penjadwal (scheduler) pada kernel ini memastikan
alokasi core CPU diprioritaskan penuh untuk memproses data finansial sensitif
secara instan, sehingga meminimalkan risiko terjadinya slippage
(perbedaan harga saat tombol diklik dengan harga saat order masuk ke pasar).
2.3 Wine Compatibility Layer
Banyak aplikasi finansial industri
terkemuka, seperti platform chariting MetaTrader 4 (MT4) atau MetaTrader
5 (MT5), dikembangkan secara eksklusif menggunakan API internal sistem operasi
Microsoft Windows. Di lingkungan Linux, aplikasi tersebut tidak dapat
dieksekusi secara langsung karena perbedaan format biner (.exe menggunakan
format PE, sedangkan Linux menggunakan format ELF).
Wine (Wine Is Not an Emulator)
bertindak sebagai compatibility layer yang memecahkan masalah
interoperabilitas ini tanpa menimbulkan beban performa layaknya sebuah mesin
virtual (Virtual Machine). Wine bekerja dengan cara menerjemahkan panggilan
sistem (system calls) Windows API yang diminta oleh aplikasi trading
secara langsung (on-the-fly) menjadi panggilan POSIX yang dipahami oleh
kernel Linux.
Karena Wine tidak melakukan emulasi
prosesor (aplikasi Windows tetap berjalan langsung di atas kecepatan arsitektur
CPU host), kehilangan performa komputasi dapat diminimalkan hingga mendekati
0%. Hal ini memungkinkan trader di sistem Arch Linux menjalankan platform
trading berbasis Windows dengan performa penuh, stabilitas tinggi, dan latensi
yang tetap terjaga rendah.
BAB
III
METODOLOGI
DAN LANGKAH KERJA
3.1 Spesifikasi Lingkungan Pengujian
- Arsitektur
Host & VM: x86_64 dengan
dukungan teknologi instruksi AMD-V / VT-x aktif.
- Alokasi
Sumber Daya VM: Memori RAM sebesar
8 GB, Ruang Penyimpanan sebesar 30 GB (tipe dinamis).
- Perangkat
Lunak Utama: Arch Linux Base ISO, Linux-Zen
Kernel (Versi Terbaru), GNOME Shell Minimal Environment, dan GDM.
- Subsistem
Pendukung: Wine Staging Framework, Yay
(AUR Helper), Fish Shell, dan Python Data Science Stack (Pandas &
Matplotlib).
3.2 Diagram Alur Pembangunan Sistem
Proses kustomisasi dan penyusunan sistem
operasi trading W3ECO Linux dijabarkan melalui alur urutan kerja berikut:
- Fase
Inisialisasi: Booting Live ISO $\rightarrow$
Pembersihan & Partisi GPT via cfdisk $\rightarrow$ Pembuatan Berkas
Sistem (FAT32 & EXT4).
- Fase
Bootstrap: Eksekusi pacstrap untuk
menyuntikkan dasar sistem beserta Linux-Zen Kernel $\rightarrow$ Pembuatan
konfigurasi fstab.
- Fase
Chroot: Pengaturan Zona Waktu $\rightarrow$
Pembuatan Akun Pengguna & Privilese Sudo $\rightarrow$ Pemasangan
Bootloader GRUB UEFI.
- Fase
Antarmuka Grafis: Pemasangan GDM
& GNOME Minimal $\rightarrow$ Penyusunan Repositori AUR Helper (yay).
- Fase
Subsistem Kompatibilitas: Aktivasi Arsitektur
[multilib] $\rightarrow$ Instalasi Wine Staging & Font Windows.
- Fase Otomasi Real-Time: Kustomisasi Shell Fish $\rightarrow$ Integrasi skrip WebSocket Python ke ekstensi Desktop Top Bar.
3.3 Tahapan Pelaksanaan Praktikum
Langkah 1: Pengondisian Partisi Media
Penyimpanan
- Lakukan boot melalui media instalasi Arch Linux, pastikan ketersediaan jaringan internet dengan menguji respon paket:
|
Bash ping -c 3 archlinux.org |
- Jalankan
pembagian partisi pada media penyimpanan /dev/sda mengacu pada standar
GPT:
|
Bash cfdisk
/dev/sda |
·
Sektor 1: /boot (Ukuran:
512 MB, Tipe: EFI System Partition)
·
Sektor 2: / (Ukuran: Sisa
Kapasitas, Tipe: Linux Root x86-64)
- Lakukan
proses pemformatan partisi dan penggabungan direktori kerja:
|
Bash
mkfs.fat
-F 32 /dev/sda1 mkfs.ext4
/dev/sda2 mount
/dev/sda2 /mnt mount
--mkdir /dev/sda1 /mnt/boot |
Langkah 2: Pemasangan Paket Inti dan
Konfigurasi Lingkungan Chroot
- Jalankan
skrip pacstrap untuk menyalin sistem operasi dasar ke /mnt. Pada tahapan
ini, ganti kernel standar dengan linux-zen:
|
Bash
pacstrap -K /mnt base base-devel
linux-zen linux-zen-headers linux-firmware nano vim git networkmanager |
- Daftarkan
struktur tabel partisi ke berkas konfigurasi sistem:
|
Bash
genfstab -U /mnt >>
/mnt/etc/fstab |
- Alihkan
kendali direktori aktif masuk ke dalam sistem replika target:
|
Bash
arch-chroot /mnt |
- Setel
preferensi penunjuk waktu lokal dan regenerasi bahasa sistem:
|
Bash
ln -sf /usr/share/zoneinfo/Asia/Jakarta
/etc/localtime hwclock --systohc echo "en_US.UTF-8 UTF-8" >
/etc/locale.gen locale-gen echo "LANG=en_US.UTF-8" >
/etc/locale.conf |
- Berikan
identitas jaringan (hostname) komputer serta atur kredensial masuk
pengelola sistem:
|
Bash
echo "w3eco-trading-os" >
/etc/hostname passwd |
- Buat
profil pengguna baru di luar root untuk operasional harian yang memiliki
hak eskalasi perintah:
|
Bash
useradd -m -g users -G
wheel,storage,power -s /bin/bash w3eco passwd w3eco |
- Modifikasi berkas hak akses dengan perintah EDITOR=nano visudo, lalu hilangkan tanda komentar pada baris %wheel ALL=(ALL:ALL) ALL.
Langkah 3: Konfigurasi Bootloader GRUB dan
Transisi Sistem
- Pasang
paket aplikasi pembaca bootloader UEFI di dalam lingkungan chroot:
|
Bash
pacman -S grub efibootmgr grub-install --target=x86_64-efi
--efi-directory=/boot --bootloader-id=W3ECO_ZEN grub-mkconfig -o /boot/grub/grub.cfg |
- Aktifkan
modul manager jaringan agar otomatis menyala saat komputer dinyalakan
kembali:
|
Bash
systemctl enable NetworkManager exit umount -R /mnt reboot |
Langkah 4: Penyusunan Antarmuka Grafis dan
Pengontrol Repositori AUR
- Masuk
ke dalam sistem menggunakan akun w3eco yang telah dibuat, kemudian pasang
subsistem grafis beserta GNOME Desktop Environment:
|
Bash
sudo pacman -S xorg-server gnome-shell
gdm alacritty nautilus sudo
systemctl enable gdm |
- Buat
direktori kompilasi untuk membangun utilitas AUR Helper bernama yay
guna mengakses paket komunitas pihak ketiga secara instan:
|
Bash
git clone
https://aur.archlinux.org/yay-bin.git cd
yay-bin makepkg -si --noconfirm cd
.. && rm -rf yay-bin |
Langkah 5: Integrasi Subsistem Wine
Staging
- Buka
berkas konfigurasi manajer paket menggunakan akses root:
|
Bash
sudo nano /etc/pacman.conf |
Hilangkan tanda komentar pada baris repositori arsitektur 32-bit berikut agar sistem mendukung aplikasi Windows:
|
Plaintext
[multilib]
Include = /etc/pacman.d/mirrorlist |
- Jalankan
sinkronisasi repositori dan pasang pustaka Wine beserta font bawaan
Microsoft:
|
Bash
sudo pacman -Syu sudo pacman -S wine-staging wine-mono
winetricks yay
-S ttf-ms-fonts --noconfirm |
- Lakukan
konfigurasi awal lingkungan biner Wine agar berjalan pada profil Windows
10:
|
Bash
WINEARCH=win64 winecfg |
Langkah 6: Konstruksi Pipeline Data Pasar
Real-Time
- Pasang
shell interaktif fish beserta framework prompt starship, kemudian ganti
shell bawaan sistem:
|
Bash
sudo pacman -S fish starship
python-pandas python-matplotlib chsh
-s /usr/bin/fish |
- Susun
skrip otomasi Python memanfaatkan pustaka client WebSocket untuk melakukan
penarikan data fluktuasi harga instrumen keuangan dari API publik secara
berkala.
- Hubungkan
keluaran teks skrip Python tersebut ke dalam ekstensi GNOME Shell (seperti
Argos) agar indikator harga instrumen (misalnya BTC atau indeks
pasar) tampil secara konstan pada bilah menu (top bar) desktop.
BAB
IV
HASIL
DAN PEMBAHASAN
4.1 Fase Instalasi CLI dan Lingkungan Chroot
Gambar 4.1: Konfigurasi Bahasa (Locale Generation)
Penjelasan : Pada Gambar 4.1, dilakukan proses pembangkitan lokalisasi bahasa (locale generation) di dalam lingkungan chroot. Proses ini dipicu setelah menghapus tanda komentar pada baris en_US.UTF-8 UTF-8 di dalam file /etc/locale.gen. Pembangkitan bahasa ini penting untuk memastikan sistem operasi memiliki standar rendering karakter dan format waktu universal berbasis UTF-8.
Penjelasan : Gambar 4.2 menunjukkan proses administrasi identitas sistem dan manajemen pengguna. Pada tahap ini, hostname ditetapkan menjadi archlinux, dilanjutkan dengan pembuatan kata sandi untuk akun administrator (root). Guna memenuhi aspek keamanan operasional harian, dibuat sebuah pengguna non-root bernama w3eco menggunakan perintah useradd -m beserta penetapan kata sandinya.
Gambar 4.3: Konfigurasi Hak Eskalasi Sudo (Sudoers Privilege
Penjelasan : Untuk memberikan hak eskalasi perintah kepada pengguna w3eco, berkas konfigurasi /etc/sudoers dimodifikasi menggunakan utilitas visudo seperti terlihat pada Gambar 4.3. Modifikasi dilakukan dengan mengaktifkan baris %wheel ALL=(ALL:ALL) ALL. Hal ini mengizinkan setiap pengguna yang terdaftar di dalam grup wheel untuk mengeksekusi perintah administratif menggunakan prefiks sudo.Gambar 4.4: Instalasi dan Kompilasi Bootloader GRUB
Penjelasan : Tahap akhir pada lingkungan CLI adalah inisialisasi bootloader GRUB untuk arsitektur UEFI yang ditunjukkan pada Gambar 4.4. Perintah grub-install berhasil mendaftarkan ID bootloader ke partisi EFI target (/boot), diikuti dengan perintah grub-mkconfig yang berfungsi mengompilasi dan mengenerate berkas konfigurasi grub.cfg secara otomatis berdasarkan kernel Linux-Zen yang aktif.4.2 Fase Pasca-Instalasi dan Tampilan
Lingkungan Desktop (GUI)
Bagian ini memuat hasil setelah sistem
di-reboot dan masuk ke dalam lingkungan antarmuka grafis (GNOME) yang telah
dikustomisasi untuk kebutuhan trading.
Gambar 4.5: Terminal Emulator Alacritty dengan Shell Fish
Penjelasan : Setelah sistem berhasil dialihkan ke lingkungan grafis, Gambar 4.5 menampilkan terminal emulator Alacritty yang berjalan di atas shell Fish. Terminal ini menggunakan framework prompt Starship dan telah dikonfigurasi menggunakan tema gelap (dark palette). Penggunaan shell Fish memberikan fitur auto-suggestion yang interaktif, membantu trader mempercepat pengetikan instruksi skrip operasional.Gambar 4.6: Pengujian Pustaka Python Data Science
Penjelasan : Gambar 4.6 menunjukkan pengujian lingkungan pemrograman Python yang ditujukan untuk analisis kuantitatif (quantitative research). Melalui terminal, dipastikan bahwa pustaka pengolah data numerik dan grafik seperti pandas (v2.2.2) dan matplotlib (v3.9.0) telah terinstal dengan sempurna di dalam sistem W3ECO Linux, siap digunakan untuk pemrosesan data historis pasar.Gambar 4.7: Dasbor Sistem dan Spesifikasi Perangkat (Fastfetch)
Penjelasan Laporan:Pada Gambar 4.7, utilitas fastfetch dijalankan untuk menampilkan ringkasan arsitektur sistem kustom. Terlihat informasi bahwa sistem berjalan di atas kernel Linux-Zen, menggunakan desktop environment GNOME 46.2, serta konsumsi memori RAM yang sangat efisien saat kondisi idle (sekitar 1.12 GB). Tampilan ini juga mengonfirmasi penerapan skema warna dan ikon kustom pada jendela aplikasi."Gambar 4.8: Lingkungan Kerja Desktop Trading W3ECO Linux
Penjelasan : Gambar 4.8 memvisualisasikan hasil akhir dari proses kustomisasi lingkungan kerja (workspace) pada W3ECO Linux. Sistem operasi ini dilengkapi dengan widget pemantau performa perangkat keras di sisi kanan, dock aplikasi minimalis di sisi kiri, serta integrasi skrip ticker data keuangan pada bilah menu atas (top bar) yang menampilkan pergerakan harga aset secara real-time memanfaatkan transmisi data WebSocket."BAB
V
KESIMPULAN
DAN SARAN
5.1 Kesimpulan
Berdasarkan rangkaian eksperimen,
instalasi, dan penyesuaian (remastering) sistem operasi kustom W3ECO
Linux berbasis Arch Linux yang telah dilaksanakan, diperoleh beberapa
kesimpulan sebagai berikut:
- Keberhasilan
Fase Sistem Dasar (CLI): Proses inisialisasi
awal sistem berbasis arsitektur tingkat rendah pada Arch Linux berhasil
diselesaikan di dalam lingkungan chroot. Hal ini dibuktikan dengan
suksesnya pembangkitan konfigurasi lokalisasi sistem (locale-gen),
manajemen hak akses eskalasi administratif melalui penyusunan file
/etc/sudoers pada grup wheel, serta kompilasi bootloader GRUB yang
mampu mengenali kernel khusus secara akurat.
- Efisiensi
Kernel Low-Latency: Integrasi Linux-Zen
kernel pada W3ECO Linux memberikan fondasi performa sistem yang sangat
responsif. Melalui optimasi preemption tingkat tinggi pada kernel
ini, alokasi sumber daya CPU mampu diprioritaskan untuk mengolah antrean
pemrosesan biner terminal dan modul jaringan, yang sangat krusial dalam
mereduksi waktu tunggu (latency) penyerapan data.
- Kestabilan
Subsistem dan Analisis Data: Lingkungan
pemrograman Python beserta pustaka analisis data kuantitatif (pandas dan
matplotlib) berhasil terpasang dan siap digunakan tanpa malafungsi versi.
Pengaktifan repositori arsitektur biner campuran ([multilib]) juga
menjamin ketersediaan subsistem Wine untuk mengeksekusi platform trading
Windows secara native.
- Optimalisasi
Lingkungan Kerja (GUI): Implementasi
Desktop Environment GNOME 46.2 yang dipadukan dengan terminal emulator Alacritty
dan shell Fish sukses menghadirkan ruang kerja yang ramah bagi
pengguna (user-friendly). Konsumsi memori RAM yang stabil di angka
1.12 GB saat kondisi idle membuktikan bahwa sistem kustom ini jauh lebih
ringan dan efisien dibandingkan sistem operasi generik siap pakai lainnya
di pasaran.
5.2 Saran
Beberapa poin saran yang dapat diajukan
demi pengembangan dan penyempurnaan sistem operasi W3ECO Linux pada masa
mendatang adalah:
- Penerapan
Skrip Otomasi Penuh (Deployment Script):
Proses konfigurasi lingkungan kerja dan instalasi paket-paket dari
terminal chroot yang awalnya dilakukan secara manual sebaiknya
dikonversikan menjadi satu berkas skrip otomasi shell (.sh atau .fish).
Hal ini ditujukan untuk memangkas waktu penyebaran sistem (deployment
time) dan meminimalkan risiko kesalahan manusia (human-error)
di lapangan.
- Penambahan
Fitur Cadangan Mandiri (Backup Plan):
Mengingat Arch Linux menganut metode pembaruan sistem secara bergulir (rolling
release), sistem ini sangat rentan mengalami breakage setelah
pembaruan paket massal. Oleh karena itu, disarankan untuk mengintegrasikan
alat pencadangan partisi otomatis seperti Timeshift yang
dikonfigurasi dengan sistem file Btrfs agar teknisi dapat melakukan
pemulihan (rollback) instan jika terjadi kegagalan sistem.
- Penguatan
Sektor Enkripsi dan Keamanan Data: Karena
ditargetkan untuk aktivitas transaksi finansial sensitif, pengembangan
selanjutnya wajib menambahkan enkripsi penuh pada media penyimpanan (Full
Disk Encryption) memanfaatkan modul LUKS (Linux Unified Key Setup)
pada fase partisi awal, serta pengaktifan pembatasan port koneksi lewat Uncomplicated
Firewall (UFW).
DAFTAR PUSTAKA
Nemeth,
E., Snyder, G., Hein, T. R., Whaley, B., & Mackin, D. (2018). UNIX and
Linux System Administration Handbook (5th ed.). Boston: Addison-Wesley
Professional.
Shotts,
W. (2019). The Linux Command Line: A Complete Introduction (2nd ed.).
San Francisco: No Starch Press.
Arch
Linux Wiki Community. (2026). Arch Installation Guide and Localization
Configuration. Diambil dari https://wiki.archlinux.org/title/Installation_guide.
WineHQ
Project Development Team. (2026). Wine Staging Components and Multilib
Architecture Support. Diambil dari https://wiki.winehq.org/FAQ.
McKinney,
W. (2022). Python for Data Analysis: Data Wrangling with Pandas, NumPy, and
Jupyter (3rd ed.). Sebastopol: O'Reilly Media.
Fette,
I., & Melnikov, A. (2011). The WebSocket Protocol (Request for Comments:
6455). Internet Engineering Task Force (IETF). Diambil dari https://datatracker.ietf.org/doc/html/rfc6455.
GNOME
Release Team. (2024). GNOME 46 Release Notes and Core Shell Architecture.
Diambil dari https://release.gnome.org/46/.
Love,
R. (2010). Linux Kernel Development (3rd ed.). Upper Saddle River:
Developer's Library.







Tidak ada komentar:
Posting Komentar