Minggu, 27 September 2026

PENGGUNAAN LIBRARY PERIPHERAL UNTUK AKUISISI DATA SENSOR DHT22 DAN OUTPUT TM1637 MENGGUNAKAN WOKWI

 

LAPORAN PRAKTIKUM

PENGGUNAAN LIBRARY PERIPHERAL UNTUK AKUISISI DATA SENSOR DHT22 DAN OUTPUT TM1637 MENGGUNAKAN WOKWI

 

Disusun Oleh:

Alen Anang Saputri                                        24051204133

Detha Gracio Anggara Palimbunga                24051204219

Larasati Dwi Ariyanti Putri                            24051204118

Pratindo Tri Akta                                            24051204189

 

BAB I

PENDAHULUAN

 

1.1 Latar Belakang

Perkembangan teknologi Internet of Things (IoT) dan sistem embedded (tertanam) mengalami akselerasi yang sangat pesat dalam berbagai sektor, khususnya dalam bidang otomasi dan pemantauan parameter lingkungan secara real-time. Parameter mikroklimat seperti suhu (temperature) dan kelembapan relatif (Relative Humidity / RH) memegang peranan krusial dalam berbagai aplikasi, mulai dari industri pertanian, laboratorium, hingga pemantauan ruangan cerdas (smart room). Untuk merealisasikan sistem akuisisi data lingkungan yang handal, dibutuhkan integrasi yang sinergis antara perangkat keras (hardware) mikrokontroler dan perangkat lunak (software) pendukung.

Dalam praktikum ini, papan mikrokontroler Arduino Uno yang berbasis pada arsitektur ATmega328P dipilih sebagai unit pengolahan pusat (central processing unit) karena fleksibilitas dan kemudahan antarmukanya. Sistem ini dikolaborasikan dengan sensor DHT22, yang dikenal memiliki akurasi tinggi dalam mendeteksi perubahan suhu dan kelembapan udara. Sebagai media diseminasi informasi hasil akuisisi data, digunakan modul display 4-digit seven-segment TM1637 yang dikendalikan melalui jalur komunikasi digital Clock (CLK) dan Digital Input/Output (DIO).

Guna mendukung efisiensi pembelajaran serta meminimalisir kendala fisik perangkat keras di awal tahap perancangan, pemanfaatan platform simulasi berbasis web seperti Wokwi menjadi solusi yang sangat efektif. Wokwi memungkinkan rekayasa rangkaian elektronika dan eksekusi kode program secara virtual dengan akurasi tinggi. Selain itu, implementasi library peripheral—seperti DHT.h untuk pengelolaan protokol komunikasi sensor dan TM1637Display.h untuk manajemen penayangan data pada display—sangat esensial dalam menyederhanakan kompleksitas pemrograman tingkat rendah (low-level programming), sehingga pengembang dapat berfokus pada logika fungsional sistem.

Berdasarkan urgensi tersebut, pelaksanaan praktikum mengenai penggunaan library peripheral untuk akuisisi data sensor DHT22 dan output TM1637 menggunakan Wokwi ini menjadi sangat penting untuk dilakukan, guna memberikan pemahaman komprehensif mengenai konsep dasar perancangan sistem akuisisi data berbasis mikrokontroler.

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas, rumusan masalah dalam laporan praktikum ini adalah sebagai berikut:

  1. Bagaimana perancangan dan konfigurasi rangkaian perangkat keras sistem monitoring suhu dan kelembapan menggunakan Arduino Uno, sensor DHT22, dan modul display TM1637 pada platform simulasi Wokwi?
  2. Bagaimana implementasi serta mekanisme kerja library peripheral (DHT.h dan TM1637Display.h) dalam melakukan proses akuisisi data sensor, validasi data, konversi tipe data, hingga penyajian informasi pada display?
  3. Bagaimana analisis unjuk kerja (performance analysis) dari sistem simulasi yang telah dibangun dalam membaca serta menampilkan parameter lingkungan secara akurat?

1.3 Tujuan Laporan

Adapun tujuan dari penyusunan laporan praktikum ini meliputi:

  1. Menjelaskan secara rinci tahapan perancangan, konfigurasi pin, dan pembangunan skematik simulasi sistem pemantauan suhu serta kelembapan menggunakan Wokwi.
  2. Menganalisis penerapan library peripheral dalam mengoptimalkan proses pembacaan data sensor secara periodik serta mengontrol perangkat output berbasis seven-segment.
  3. Mengevaluasi hasil keluaran akuisisi data dari sensor DHT22 serta proses konversi nilai desimal menjadi bilangan bulat agar dapat divisualisasikan dengan baik pada display TM1637.

1.4 Manfaat Praktikum

Manfaat yang dapat diperoleh dari pelaksanaan dan penyusunan praktikum ini antara lain:

  1. Manfaat Akademis: Memberikan pemahaman teoretis dan praktis mengenai arsitektur sistem embedded, teknik interaksi sensor digital, serta pemanfaatan protokol komunikasi serial pada mikrokontroler.
  2. Manfaat Teknis: Melatih keterampilan mahasiswa dalam memanfaatkan platform simulasi modern (Wokwi) untuk merancang, memprogram, serta melakukan debugging pada sistem IoT sebelum diimplementasikan ke perangkat fisik riil.
  3. Manfaat Pengembangan: Menjadi referensi dasar yang aplikatif bagi pengembangan sistem monitoring lingkungan berbasis mikrokontroler di masa mendatang.

 

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

 

2.1 Dasar Teori

2.1.1 Arduino Uno

Arduino Uno merupakan papan mikrokontroler yang dapat digunakan untuk mengendalikan berbagai komponen elektronika melalui program yang dibuat oleh pengguna. Arduino Uno menggunakan mikrokontroler ATmega328P sebagai pusat pengolahan data. Dalam sistem berbasis sensor, Arduino Uno dapat menerima data dari sensor, melakukan pemrosesan terhadap data tersebut, kemudian memberikan keluaran sesuai dengan program yang telah dibuat.

Penggunaan Arduino Uno untuk sistem pengukuran suhu dan kelembapan telah banyak diterapkan pada penelitian sebelumnya. Satya dan Puspasari (2019) menggunakan Arduino Uno yang terintegrasi dengan sensor DHT22 untuk merancang termohigrometer dan melakukan pengujian terhadap hasil pengukuran suhu serta kelembapan. Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa Arduino Uno dapat digunakan sebagai mikrokontroler pada sistem pengukuran suhu dan kelembapan berbasis DHT22.

Pada simulasi yang dibuat, Arduino Uno berfungsi sebagai pusat pengendalian sistem. Arduino menerima data suhu dan kelembapan dari sensor DHT22 melalui pin digital, kemudian mengolah nilai suhu dan mengirimkannya ke display TM1637 untuk ditampilkan.

2.1.2 Sensor DHT22 

DHT22 merupakan sensor yang digunakan untuk mengukur suhu dan kelembapan udara. Sensor ini dapat memberikan dua jenis data pengukuran, yaitu temperatur dan kelembapan relatif. Penggunaan DHT22 pada sistem berbasis Arduino Uno telah diterapkan pada berbagai penelitian untuk kebutuhan pemantauan kondisi lingkungan.

Satya dan Puspasari (2019) melakukan penelitian mengenai pengukuran suhu dan kelembapan udara menggunakan DHT22 berbasis Arduino Uno. Penelitian tersebut menunjukkan bahwa sensor DHT22 dapat digunakan untuk memperoleh nilai suhu dan kelembapan dengan melakukan pengujian terhadap hasil pengukuran dan nilai ketidakpastiannya.

Penelitian Islam et al. (2016) juga menggunakan sensor DHT22 yang terhubung dengan Arduino Uno untuk melakukan pengukuran suhu dan kelembapan udara ruangan. Dalam penelitian tersebut, DHT22 digunakan sebagai sensor pengukuran suhu dan kelembapan, sedangkan Arduino Uno digunakan sebagai pengendali sistem.

Pada simulasi ini, sensor DHT22 dihubungkan ke pin digital 2 Arduino Uno. Data yang diperoleh berupa nilai suhu dan kelembapan kemudian dibaca oleh program menggunakan fungsi readTemperature() dan readHumidity().

2.1.3 Suhu 

Suhu merupakan salah satu parameter lingkungan yang dapat digunakan untuk mengetahui kondisi suatu ruang atau lingkungan. Pengukuran suhu dapat dilakukan menggunakan sensor elektronik yang menghasilkan data untuk kemudian diproses oleh mikrokontroler.

Pada sistem berbasis Arduino Uno dan DHT22, nilai suhu dapat diperoleh secara berkala dari sensor. Penelitian Satya dan Puspasari (2019) menunjukkan penggunaan DHT22 berbasis Arduino Uno untuk melakukan pengukuran suhu udara dan menganalisis hasil pengukurannya terhadap nilai acuan.

Dalam simulasi yang dibuat, nilai suhu diperoleh dalam bentuk bilangan desimal. Nilai tersebut kemudian dikonversi menjadi bilangan bulat sebelum ditampilkan pada display TM1637. Sebagai contoh, apabila sensor menghasilkan nilai 52,8°C, program mengubahnya menjadi nilai 52 sebelum ditampilkan.

2.1.4 Kelembapan 

Kelembapan merupakan parameter yang menunjukkan kandungan uap air di udara dan umumnya dinyatakan dalam bentuk kelembapan relatif atau Relative Humidity (RH) dalam satuan persen (%). Pengukuran kelembapan dapat dilakukan secara bersamaan dengan pengukuran suhu menggunakan sensor DHT22.

Penelitian Islam et al. (2016) menggunakan DHT22 untuk melakukan pemantauan suhu dan kelembapan udara secara bersamaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa DHT22 dapat digunakan untuk memperoleh data suhu dan kelembapan pada sistem berbasis Arduino Uno.

Pada simulasi ini, nilai kelembapan tetap dibaca oleh Arduino menggunakan sensor DHT22. Namun, nilai tersebut tidak ditampilkan pada display. Data kelembapan digunakan sebagai bagian dari proses pemeriksaan keberhasilan pembacaan sensor.

2.1.5 Display 4-Digit TM1637 

merupakan modul display seven-segment yang dapat digunakan untuk menampilkan nilai numerik. Modul ini menggunakan empat digit seven-segment dan dapat dikendalikan oleh mikrokontroler melalui jalur komunikasi CLK dan DIO.

Penggunaan TM1637 sebagai media penampil pada sistem berbasis Arduino dapat ditemukan pada penelitian Vicias et al. (2024). Penelitian tersebut menggunakan Arduino Uno sebagai pengendali dan display seven-segment TM1637 untuk menampilkan nilai waktu dan kecepatan pada perangkat orbital shaker.

Pada simulasi ini, display TM1637 digunakan untuk menampilkan nilai suhu yang telah diproses oleh Arduino Uno. Pin CLK display dihubungkan ke pin digital 4 Arduino, sedangkan pin DIO dihubungkan ke pin digital 5. Program menggunakan library TM1637Display untuk mengatur tampilan angka pada display.

2.1.6 Sistem Monitoring Suhu Kelembapan

Sistem monitoring suhu dan kelembapan merupakan sistem yang digunakan untuk memperoleh dan menampilkan informasi mengenai kondisi suhu dan kelembapan suatu lingkungan. Sistem tersebut umumnya terdiri dari sensor sebagai perangkat pembaca kondisi lingkungan, mikrokontroler sebagai pengolah data, dan perangkat output sebagai media penyampaian informasi.

Penelitian Maulia et al. (2024) menunjukkan penerapan simulasi pengukuran suhu dan kelembapan menggunakan Arduino Uno dan sensor DHT22 pada platform Wokwi. Penelitian tersebut menggunakan simulasi untuk menguji fungsi perangkat dan kode program tanpa menggunakan perangkat keras secara langsung.

Pada simulasi ini, sistem bekerja dengan alur DHT22 membaca suhu dan kelembapan, kemudian Arduino Uno menerima dan memeriksa data tersebut. Apabila pembacaan valid, nilai suhu diproses dan ditampilkan melalui display TM1637. Proses pembacaan dilakukan kembali secara berkala sehingga nilai suhu dapat dipantau secara berulang.

 

2.2 Komponen

2.2.1 Arduino Uno 

Arduino Uno digunakan sebagai mikrokontroler utama dalam simulasi. Komponen ini bertugas menerima data dari sensor DHT22, melakukan pengolahan data, serta mengendalikan display TM1637. 

2.2.2 Sensor DHT22 

DHT22 digunakan sebagai sensor untuk membaca suhu dan kelembapan lingkungan. Sensor ini memberikan data suhu dan kelembapan yang kemudian diproses oleh Arduino Uno. 

2.2.3 Display 4-Digit TM1637 

Display TM1637 digunakan sebagai media keluaran untuk menampilkan nilai suhu yang telah diproses oleh Arduino Uno. Display terdiri dari empat digit seven-segment sehingga dapat menampilkan nilai numerik.

2.2.4 Kabel Penghubung 

Kabel penghubung digunakan untuk menghubungkan Arduino Uno dengan sensor DHT22 dan display TM1637. Kabel menghubungkan jalur daya dan jalur komunikasi antar komponen sesuai dengan rangkaian simulasi. 



BAB III

PEMBAHASAN

 

3.1 Penjelasan Simulasi

Pada praktikum ini dibuat sebuah simulasi sistem untuk membaca suhu dan kelembapan menggunakan sensor DHT22 serta menampilkan hasil pembacaan suhu menggunakan display 4-digit TM1637. Sistem dikendalikan oleh Arduino Uno yang berfungsi sebagai mikrokontroler untuk menerima, mengolah, dan menampilkan data dari sensor.

Komponen yang digunakan dalam simulasi adalah:

  1. Arduino Uno sebagai mikrokontroler.
  2. Sensor DHT22 sebagai sensor suhu dan kelembapan.
  3. Display 4-digit TM1637 sebagai media untuk menampilkan nilai suhu.
  4. Kabel penghubung untuk menghubungkan setiap komponen.

3.1.1 Rangkaian Simulasi 

Sensor DHT22 dihubungkan ke Arduino Uno dengan pin DATA pada digital pin 2. Pin VCC sensor dihubungkan ke 5V Arduino, sedangkan pin GND dihubungkan ke GND Arduino.
            Display TM1637 memiliki empat koneksi, yaitu VCC, GND, CLK, dan DIO. Pin CLK dihubungkan ke digital pin 4, sedangkan pin DIO dihubungkan ke digital pin 5. VCC dan GND digunakan sebagai sumber tegangan dan ground.

Konfigurasi pin tersebut sesuai dengan program yang digunakan:

#define DHTPIN 2

#define DHTTYPE DHT22

#define CLK 4

#define DIO 5

 

3.1.2 Gambar Rangkaian Simulasi 

3.1.3 Cara Kerja Simulasi  

Cara kerja sistem dimulai ketika Arduino Uno menjalankan program. Pada saat pertama kali dijalankan, Arduino melakukan inisialisasi terhadap sensor DHT22 dan display TM1637.

Sensor DHT22 kemudian melakukan pembacaan terhadap kondisi lingkungan dan menghasilkan dua data, yaitu suhu dan kelembapan. Data suhu disimpan dalam variabel temperature, sedangkan data kelembapan disimpan dalam variabel humidity.

Setelah data diperoleh, program melakukan pengecekan untuk memastikan hasil pembacaan sensor valid. Jika data berhasil dibaca, nilai suhu akan diproses untuk ditampilkan pada display TM1637.

Nilai suhu dari DHT22 dapat berupa angka desimal. Sebagai contoh, pada simulasi diperoleh suhu 52,8°C. Program kemudian mengubah nilai tersebut menjadi bilangan bulat:

int temp = (int)temperature;

 

Sehingga nilai:
52,8°C → 52
Nilai 52 kemudian ditampilkan pada display TM1637.

Sementara itu, nilai kelembapan juga dibaca oleh Arduino, tetapi pada program ini nilai kelembapan tidak ditampilkan pada display. Nilai tersebut digunakan dalam proses pengecekan keberhasilan pembacaan sensor. Apabila terjadi kesalahan dalam pembacaan suhu atau kelembapan, program akan menampilkan angka 9999 pada display sebagai indikator bahwa data sensor tidak valid.

Setelah proses pembacaan selesai, program memberikan jeda selama 2 detik. Setelah itu, Arduino kembali membaca data dari sensor. Proses tersebut berlangsung secara berulang selama sistem dijalankan.

Secara sederhana, alur kerja sistem dapat dijelaskan sebagai berikut:
Sensor DHT22 → Arduino Uno → Membaca suhu & kelembapan → Memeriksa data → Mengolah suhu → TM1637 menampilkan suhu → Delay 2 detik → Pembacaan kembali

3.1.4 Hasil Simulasi  

Berdasarkan simulasi yang dilakukan, sensor DHT22 berhasil membaca kondisi lingkungan dengan hasil:

  • Suhu: 52,8°C
  • Kelembapan: 55,0%

Nilai suhu sebesar 52,8°C kemudian dikonversi menjadi bilangan bulat oleh program sehingga display TM1637 menampilkan angka 52.
Hal tersebut menunjukkan bahwa rangkaian dan program dapat bekerja sesuai dengan konfigurasi yang telah dibuat.

3.1.5 Screenshot Hasil Simulasi 

3.2 Kode Program

Program dibuat menggunakan bahasa pemrograman C/C++ pada Arduino. Program membutuhkan dua library, yaitu DHT.h untuk mengoperasikan sensor DHT22 dan TM1637Display.h untuk mengoperasikan display TM1637. 

3.2.1 Source code

#include <TM1637Display.h>

#include <DHT.h>

 

// Define the DHT22 sensor and TM1637 pins

#define DHTPIN 2        // DHT22 sensor data pin connected to digital pin 2

#define DHTTYPE DHT22   // Define the type of DHT sensor

#define CLK 4           // TM1637 clock pin connected to digital pin 4

#define DIO 5           // TM1637 data pin connected to digital pin 5

 

DHT dht(DHTPIN, DHTTYPE);        // Initialize the DHT22 sensor

TM1637Display display(CLK, DIO); // Initialize the TM1637 display

 

void setup() {

  dht.begin();                   // Start the DHT sensor

  display.setBrightness(0x0f);   // Set the brightness of the display

}

 

void loop() {

  float humidity = dht.readHumidity();

  float temperature = dht.readTemperature();

 

  // Check if readings are valid

  if (isnan(humidity) || isnan(temperature)) {

    display.showNumberDec(9999); // Show error if reading fails

  } else {

    // Display temperature on TM1637

    int temp = (int)temperature;

    display.showNumberDec(temp);

  }

 

  delay(2000); // Wait 2 seconds before reading again

}

 

3.2.2 Analisis dan Pembahasan Struktur Program 

Program simulasi terdiri dari beberapa bagian utama yang saling berhubungan. Struktur program dibuat untuk membaca data dari sensor DHT22 dan menampilkan nilai suhu pada display TM1637.

  1. Pemanggilan Library

#include <TM1637Display.h>

#include <DHT.h>

 

Library DHT.h digunakan untuk mengakses sensor DHT22, sedangkan TM1637Display.h digunakan untuk mengontrol display TM1637. 

2.               Pendefinisian Pin 

#define DHTPIN 2

#define DHTTYPE DHT22

#define CLK 4

#define DIO 5

 

Sensor DHT22 menggunakan pin digital 2. Display TM1637 menggunakan pin 4 untuk CLK dan pin 5 untuk DIO.

3.               Inisialisasi Komponen 

DHT dht(DHTPIN, DHTTYPE);

TM1637Display display(CLK, DIO);

 

Bagian ini membuat objek untuk sensor DHT22 dan display TM1637 agar dapat digunakan dalam program. 

4.               Fungsi setup() 

void setup() {

  dht.begin();

  display.setBrightness(0x0f);

}

 

Fungsi setup() dijalankan sekali saat Arduino mulai. Sensor diaktifkan dan tingkat kecerahan display diatur. 

5.               Fungsi loop()  

float humidity = dht.readHumidity();

float temperature = dht.readTemperature();

 

Arduino membaca nilai kelembapan dan suhu dari sensor DHT22 secara berulang. 

6.               Pengecekan dan Penampilan Data 

if (isnan(humidity) || isnan(temperature)) {

  display.showNumberDec(9999);

} else {

  int temp = (int)temperature;

  display.showNumberDec(temp);

}

Program memeriksa apakah data sensor valid. Jika terjadi kesalahan, display menampilkan 9999. Jika pembacaan berhasil, nilai suhu diubah menjadi bilangan bulat dan ditampilkan pada TM1637. 

7.               Jeda Program  

delay(2000);

Program berhenti selama 2 detik sebelum melakukan pembacaan sensor berikutnya. Secara keseluruhan, struktur program sudah sesuai dengan rangkaian simulasi. Arduino menerima data dari DHT22, memproses nilai suhu, kemudian menampilkan hasilnya pada TM1637 secara berulang.

 

BAB IV

PENUTUP

 

4.1 Kesimpulan

Berdasarkan hasil desain, penulisan program, dan pengujian simulasi "Tampilan Suhu dan Kelembaban Real-Time" menggunakan platform Wokwi, dapat ditarik beberapa kesimpulan sebagai berikut:

  • Abstraksi Kompleksitas Perangkat Keras: Penggunaan pustaka open source pihak ketiga, khususnya DHT.h dan TM1637Display.h, terbukti secara signifikan mengurangi kerumitan dalam pemrograman tingkat rendah. Sistem komputasi pada mikrokontroler dapat secara otomatis mengelola kalkulasi rentang waktu (timing) pulsa dari jalur komunikasi 1-wire sensor DHT22 tanpa mengharuskan pengembang untuk secara manual mendefinisikan sinyal berdasarkan datasheet perangkat keras. Ini menjadikan struktur kode program lebih ringkas, bersih (clean code), dan mengurangi risiko syntax error, sehingga pengembang dapat lebih memusatkan efisiensi pada desain logika bisnis dan alur program utama.
  • Keandalan Pengolahan I/O Terkoneksi: Mikrokontroler ESP32 menampilkan kinerja komputasi yang stabil saat melaksanakan dua protokol komunikasi periferal yang berbeda secara bersamaan. ESP32 dapat memperoleh data mentah beresolusi 16-bit dari sensor lingkungan (suhu dan kelembapan), memeriksanya untuk mencegah kesalahan (Not a Number / NaN), dan mengubahnya menjadi format desimal yang tepat. Data tersebut lalu diarahkan melalui pin transmisi khusus (CLK dan DIO) ke tampilan TM1637 secara langsung. Seluruh proses akuisisi dan visualisasi informasi ini berlangsung lancar tanpa menyebabkan penumpukan proses (bottleneck) komputasi di loop utama mikrokontroler.

4.2 Saran

Meskipun prototipe simulasi ini telah berjalan dengan baik untuk menunjukkan parameter lingkungan secara langsung di layar lokal, sistem ini tetap beroperasi terbatas sebagai perangkat yang berdiri sendiri (standalone device). Untuk pengembangan di masa yang akan datang, disarankan agar memanfaatkan kemampuan modul Wi-Fi internal pada chip ESP32 untuk mentransmisikan muatan data sensor secara terus-menerus ke server pusat, sehingga mengubahnya menjadi ekosistem Internet of Things (IoT). Backend infrastructure ini bisa dibuat menggunakan framework Laravel (PHP) dengan database MySQL untuk tujuan pencatatan riwayat metrik (data logging) yang ditampilkan melalui dasbor web. Di samping itu, agar sistem tidak sekadar berfungsi sebagai alat pemantau, perancangan ini sebaiknya ditingkatkan menjadi sistem otomatisasi dengan menambahkan komponen aktuator seperti Relay atau Buzzer, yang diaktifkan oleh algoritma thresholding sehingga mikrokontroler dapat mengambil keputusan secara mandiri untuk memutuskan arus atau membunyikan alarm ketika suhu melebihi batas yang ditentukan.


DAFTAR PUSTAKA

 

Hidayat, D., & Sari, I. (2021). Monitoring suhu dan kelembaban berbasis Internet of Things (IoT). Jurnal Penelitian Teknik Informatika, 4(1), 525-530. https://www.researchgate.net/publication/378673090_MONITORING_SUHU_DAN_KELEMBABAN_BERBASIS_INTERNET_of_THINGS_IoT

Satya & Puspasari (2019), Kajian Ketidakpastian Pengukuran Suhu dan Kelembaban Udara pada Sensor DHT22 Berbasis Arduino Uno. https://doi.org/10.25077/jif.11.2.102-110.2019 

Islam et al. (2016), Sistem Kendali Suhu dan Pemantauan Kelembaban Udara Ruangan Berbasis Arduino Uno dengan Menggunakan Sensor DHT22 dan Passive Infrared (PIR). https://doi.org/10.21009/0305020123 

Maulia et al. (2024), Simulasi Pengukuran Suhu dan Kelembaban Ruangan Menggunakan Arduino Uno dan DHT22 pada Wokwi. https://doi.org/10.55606/jtmei.v3i4.4544 

Vicias et al. (2024), Production of an Orbital Shaker Device with Time and Rotational Speed Control Using Potentiometer Based on Arduino Uno. https://doi.org/10.23960/jemit.v5i1.219 



LAMPIRAN

 

- https://wokwi.com/projects/475583126601300993






Tidak ada komentar:

Posting Komentar