LAPORAN PRAKTIKUM
LAPORAN PRAKTIKUM SIMULASI SISTEM
SMART DIMMER LED DAN INDIKATOR LEVEL 7-SEGMENT BERBASIS ARDUINO UNO PADA
SIMULATOR WOKWI
Disusun Oleh :
Ahmad Aura Syahrul Muharrom 24051204203
Jeehan Kamila Muzaky 24051204122
Yudhi D Bakkara 24051204174
Miuvanida Klandistin 24051204208
BAB I
PENDAHULUAN
1.1
Latar Belakang
Mikrokontroler
merupakan komponen inti dalam berbagai sistem elektronika modern, mulai dari
perangkat rumah tangga sederhana hingga sistem otomasi industri. Salah satu
kemampuan dasar yang wajib dikuasai dalam mempelajari mikrokontroler adalah
kemampuan mengolah sinyal Input/Output (I/O), baik yang bersifat digital maupun
analog. Sinyal digital hanya mengenal dua kondisi logika, yaitu logika tinggi
(1) dan logika rendah (0), yang secara fisik direpresentasikan oleh level
tegangan tertentu, misalnya 5 volt untuk logika 1 dan 0 volt untuk logika 0.
Dalam
penerapannya, pembacaan sinyal digital pada pin input mikrokontroler memerlukan
kepastian kondisi logika agar tidak berada pada kondisi mengambang (floating).
Oleh karena itu dikenal konsep resistor pull-up dan pull-down yang berfungsi
memastikan pin input berada pada kondisi logika tertentu ketika saklar tidak
sedang ditekan. Selain sinyal digital, mikrokontroler seperti Arduino Uno juga
dilengkapi dengan fitur Analog to Digital Converter (ADC) untuk membaca sinyal
analog dari sensor atau potensiometer, serta fitur Pulse Width Modulation (PWM)
yang memungkinkan mikrokontroler menghasilkan keluaran yang menyerupai sinyal
analog dari pin digital.
Untuk
memahami konsep-konsep tersebut secara komprehensif, dilakukan serangkaian
praktikum yang meliputi pengendalian LED (Knight Rider LED), penggunaan input
tombol untuk mengendalikan output counter pada 7-segment, pembacaan input
analog menggunakan potensiometer, serta penerapan PWM sebagai keluaran analog.
Praktikum ini disimulasikan menggunakan platform Wokwi sebagai simulator
Arduino berbasis web, sehingga rangkaian dapat diuji tanpa memerlukan perangkat
keras secara langsung.
1.2
Rumusan Masalah
1.
Bagaimana konsep tegangan digital direpresentasikan melalui
rangkaian pull-up dan pull-down resistor pada mikrokontroler?
2.
Bagaimana prinsip kerja LED sebagai output digital dan bagaimana
penerapannya pada rangkaian Knight Rider LED?
3.
Bagaimana cara mengintegrasikan input tombol dengan output berupa
counter pada tampilan 7-segment?
4.
Bagaimana proses pembacaan sinyal analog menggunakan ADC 10-bit
pada Arduino Uno melalui potensiometer?
5. Bagaimana prinsip kerja PWM dalam menghasilkan keluaran analog dari pin digital mikrokontroler?
1.3
Tujuan Praktikum
1.
Memahami konsep dasar tegangan digital, logika 1 dan 0, serta
fungsi resistor pull-up dan pull-down.
2.
Mampu merancang dan mensimulasikan rangkaian Knight Rider LED
menggunakan Arduino Uno pada platform Wokwi.
3.
Mampu membuat program input tombol yang menghasilkan output
counter pada 7-segment display.
4.
Mampu membaca dan mengolah data analog dari potensiometer
menggunakan fitur ADC 10-bit Arduino Uno.
5.
Mampu menerapkan konsep PWM sebagai metode konversi sinyal
digital menjadi analog pada output mikrokontroler.
1.4
Manfaat Praktikum
•
Mahasiswa memperoleh pemahaman praktis mengenai perbedaan
dan hubungan antara sinyal digital dan analog pada sistem mikrokontroler.
•
Mahasiswa mampu mengaplikasikan konsep input dan output
digital maupun analog pada studi kasus nyata seperti pengendalian LED, tampilan
7-segment, dan pembacaan sensor analog.
•
Hasil praktikum dapat menjadi dasar pengembangan proyek
elektronika dan sistem tertanam (embedded system) yang lebih kompleks.
•
Meningkatkan kemampuan mahasiswa dalam menggunakan tools
simulasi seperti Wokwi sebagai media pembelajaran sebelum implementasi pada
perangkat keras sesungguhnya.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1
Konsep Digital dan Tegangan
Dalam
sistem digital, terdapat dua kondisi tegangan acuan, yaitu VCC yang merupakan
tegangan catu daya positif (umumnya bernilai 5 volt pada Arduino Uno, namun
dapat pula berupa 3,3 volt atau 1,8 volt pada mikrokontroler tertentu untuk
menyesuaikan level tegangan baterai isi ulang) dan GND (Ground) yang bernilai 0
volt. Kombinasi kedua tegangan acuan ini digunakan untuk merepresentasikan dua
kondisi logika biner, yaitu logika 1 (tinggi) dan logika 0 (rendah).
2.2.
Pull-Up dan Pull-Down Resisor
Pull-up
resistor adalah rangkaian yang menghubungkan pin input dengan tegangan positif
(VCC) melalui resistor pembatas, umumnya bernilai 10 kΩ, sehingga ketika saklar
dalam kondisi terbuka pin akan terbaca logika 1. Sebaliknya, pull-down resistor
menghubungkan pin input dengan ground melalui resistor pembatas yang sama,
sehingga ketika saklar terbuka pin akan terbaca logika 0. Kedua konfigurasi ini
penting untuk mencegah kondisi floating pada pin input digital, yaitu kondisi
ketika nilai logika pin tidak dapat dipastikan karena tidak terhubung secara
pasti ke VCC maupun GND.
2.3
Transistor Sebagai Saklar Digital
Transistor
dapat difungsikan sebagai saklar elektronik (digital switch) yang bekerja pada
dua kondisi, yaitu saturasi (menghantar penuh, dianggap sebagai saklar
tertutup) dan cut-off (tidak menghantar, dianggap sebagai saklar terbuka).
Konsep ini menjadi dasar dari gerbang logika elektronik, misalnya rangkaian dua
transistor yang disusun seri dapat membentuk fungsi logika AND, di mana
keluaran (Q) akan bernilai 1 hanya jika kedua input A dan B bernilai 1.
2.4
LED sebagai Representasi Biner
Light
Emitting Diode (LED) dapat dianalogikan sebagai representasi satu bit data
biner, yaitu kondisi menyala (ON, logika 1) dan padam (OFF, logika 0). Dalam
rangkaian sederhana, LED dihubungkan dengan resistor pembatas arus untuk
mencegah arus berlebih yang dapat merusak komponen, kemudian dikendalikan
melalui pin output digital mikrokontroler atau dibaca statusnya melalui pin
input yang terhubung dengan tombol (button).
2.5
Seven Segment Display
Tampilan
seven segment (7-segment) tersusun atas tujuh buah LED segmen (a sampai g)
ditambah satu titik desimal (dot point/dp), sehingga total membentuk 8 bit atau
1 byte data untuk merepresentasikan satu karakter angka. Terdapat dua jenis
konfigurasi seven segment, yaitu common cathode (katoda bersama terhubung ke
ground) dan common anode (anoda bersama terhubung ke VCC), yang menentukan
logika pengendalian tiap segmennya.
2.6
LED Matrix
LED
matrix merupakan susunan LED dalam bentuk baris (row) dan kolom (column) yang
dikendalikan secara scanning untuk membentuk pola atau karakter tertentu.
Setiap karakter dapat direpresentasikan dalam bentuk data biner untuk setiap
barisnya, misalnya karakter tertentu pada matrix 5x7 dapat dikodekan menjadi
array data seperti 0b1111110, 0b0001001, dan seterusnya, yang kemudian diproses
oleh mikrokontroler untuk ditampilkan pada LED matrix.
2.7
Arsitektur I/O Arduino Uno
Arduino
Uno menggunakan mikrokontroler ATmega328 dan memiliki beberapa jalur I/O utama,
yaitu:
•
Power input, yaitu jalur masukan daya melalui port DC
(7-12V) atau kabel USB.
•
USB to PC IDE, digunakan untuk komunikasi dan pemrograman
melalui Arduino IDE.
•
Digital I/O, pin-pin yang dapat difungsikan sebagai input
maupun output digital.
•
Analog Input, dengan resolusi ADC 10-bit (nilai 0-1023).
•
Analog Output berbasis PWM dengan resolusi 8-bit (nilai
0-255).
Selain
itu, Arduino Uno juga mendukung beberapa protokol komunikasi seperti Serial
UART (pin TX RX), I2C (pin SCL SDA), dan SPI (pin SCK, MOSI, MISO, SS) yang
memungkinkan mikrokontroler berkomunikasi dengan perangkat eksternal lainnya.
2.8
Analog to Digital Converter (ADC)
ADC
merupakan fitur yang mengubah sinyal analog (tegangan kontinu) menjadi nilai
digital yang dapat diproses oleh mikrokontroler. Pada Arduino Uno, ADC memiliki
resolusi 10-bit, sehingga mampu merepresentasikan tegangan input dalam rentang
nilai 0 hingga 1023 (2^10 - 1). Semakin tinggi resolusi ADC, semakin presisi
pula nilai tegangan analog yang dapat dibaca oleh mikrokontroler.
2.9
Pulse Width Modulation (PWM)
ADC
merupakan fitur yang mengubah sinyal analog (tegangan kontinu) menjadi nilai
digital yang dapat diproses oleh mikrokontroler. Pada Arduino Uno, ADC memiliki
resolusi 10-bit, sehingga mampu merepresentasikan tegangan input dalam rentang
nilai 0 hingga 1023 (2^10 - 1). Semakin tinggi resolusi ADC, semakin presisi
pula nilai tegangan analog yang dapat dibaca oleh mikrokontroler.
2.9
Pulse Width Modulation (PWM)
PWM
merupakan teknik untuk menghasilkan sinyal yang menyerupai keluaran analog
menggunakan sinyal digital, dengan cara mengatur lebar pulsa (duty cycle) dari
sinyal tersebut dalam satu periode. Sebagai contoh, duty cycle 0%
(analogWrite(0)) menghasilkan tegangan rata-rata 0 volt, duty cycle 50%
(analogWrite(127)) menghasilkan tegangan rata-rata setengah dari VCC, dan duty
cycle 100% (analogWrite(255)) menghasilkan tegangan rata-rata mendekati VCC
penuh. Teknik ini banyak digunakan untuk mengatur kecerahan LED, kecepatan
motor DC, maupun aplikasi breathing LED.
BAB III
METODOLOGI PRAKTIKUM
3.1
Alat dan Bahan
Rincian
komponen hardware virtual dan software yang digunakan dalam
praktikum ini ditunjukkan pada Tabel 3.1:
Tabel
3.1 Alat dan Bahan Praktikum
|
No |
Komponen / Software |
Spesifikasi |
Jumlah |
|
1 |
Arduino
Uno R3 |
ATmega328P,
16 MHz, 5V |
1
Unit |
|
2 |
Push
Button |
Tactile
Switch 2-Pin (Digital Input) |
1
Unit |
|
3 |
Resistor
Pull-Down |
10
k$\Omega$, 1/4 Watt |
1
Unit |
|
4 |
Potensiometer |
10
k$\Omega$ Linear (Analog Input) |
1
Unit |
|
5 |
LED
Merah |
Standard
5mm Red LED (PWM Output) |
1
Unit |
|
6 |
Resistor
Pembatas LED |
220
, 1/4 Watt |
1
Unit |
|
7 |
7-Segment
Display |
1-Digit
Common Cathode |
1
Unit |
|
8 |
Simulator
Wokwi |
Cloud-based
Embedded Simulator |
1
Environment |
3.2
Rangkaian dan Perkabelan (Pin Mapping)
Pemetaan
koneksi fisik antar komponen dengan papan Arduino Uno disajikan dalam Tabel
3.2:
Tabel
3.2 Pemetaan Pin Rangkaian (Pin Mapping)
|
Komponen |
Pin Komponen |
Pin Arduino Uno |
Keterangan Fungsi |
|
Push
Button |
Pin
1.A |
5V |
Jalur
Catu Daya Positif |
|
Push
Button |
Pin
2.A |
Pin
Digital 10 |
Sinyal
Masukan Saklar Digital |
|
Resistor
10 k$\Omega$ |
Kaki
1 & Kaki 2 |
Pin
Digital 10 & GND |
Resistor
Pull-Down Masukan Tombol |
|
Potensiometer |
Terminal
VCC & GND |
5V
& GND |
Jalur
Daya Potensiometer |
|
Potensiometer |
Terminal
SIG (Wiper) |
Pin
Analog A0 |
Sinyal
Masukan Analog (ADC 10-bit) |
|
LED
Merah |
Anoda
(+ via Resistor 220$\Omega$) |
Pin
Digital 9 (PWM) |
Sinyal
Keluaran Analog PWM |
|
LED
Merah |
Katoda
(-) |
GND |
Ground
Reference |
|
7-Segment
Display |
Segmen
a, b, c, d, e, f, g |
Pin
Digital 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8 |
Sinyal
Keluaran Digital Indikator Level |
|
7-Segment
Display |
Pin
COM (Katoda Bersama) |
GND |
Ground
Reference |
Gambar
3.1 Skematik
Rangkaian Sistem Kendali Dimmer LED dan 7-Segment pada Wokwi
3.3
Kode Program Arduino
Berikut
adalah listing kode program C/C++ yang digunakan untuk simulasi kendali
terintegrasi:
|
const
int SEG_A = 2; const
int SEG_B = 3; const
int SEG_C = 4; const
int SEG_D = 5; const
int SEG_E = 6; const
int SEG_F = 7; const
int SEG_G = 8; const
int LED_PWM = 9; const
int BUTTON_PIN = 10; const
int POT_PIN = A0; //
Pola angka 0-9 untuk 7-Segment Common Cathode const
byte numPatterns[10][7] = { {1,
1, 1, 1, 1, 1, 0}, // 0 {0,
1, 1, 0, 0, 0, 0}, // 1 {1,
1, 0, 1, 1, 0, 1}, // 2 {1,
1, 1, 1, 0, 0, 1}, // 3 {0,
1, 1, 0, 0, 1, 1}, // 4 {1,
0, 1, 1, 0, 1, 1}, // 5 {1,
0, 1, 1, 1, 1, 1}, // 6 {1,
1, 1, 0, 0, 0, 0}, // 7 {1,
1, 1, 1, 1, 1, 1}, // 8 {1,
1, 1, 1, 0, 1, 1} // 9 }; bool
systemActive = false; int
lastButton = LOW; void
setup() { for
(int i = 2; i <= 8; i++) { pinMode(i,
OUTPUT); } pinMode(LED_PWM,
OUTPUT); pinMode(BUTTON_PIN,
INPUT); } void
loop() { int
currentButton = digitalRead(BUTTON_PIN); //
Toggle ON/OFF saat tombol ditekan if
(currentButton == HIGH && lastButton == LOW) { systemActive
= !systemActive; delay(50); } lastButton
= currentButton; if
(systemActive) { int
potValue = analogRead(POT_PIN); int
pwmValue = map(potValue, 0, 1023, 0, 255); int
level = map(potValue, 0, 1023, 0, 9); analogWrite(LED_PWM,
pwmValue); digitalWrite(SEG_A,
numPatterns[level][0]); digitalWrite(SEG_B,
numPatterns[level][1]); digitalWrite(SEG_C,
numPatterns[level][2]); digitalWrite(SEG_D,
numPatterns[level][3]); digitalWrite(SEG_E,
numPatterns[level][4]); digitalWrite(SEG_F,
numPatterns[level][5]); digitalWrite(SEG_G,
numPatterns[level][6]); }
else { analogWrite(LED_PWM,
0); for
(int i = 2; i <= 8; i++) { digitalWrite(i,
LOW); } } } |
3.4
Cara Kerja Sistem dan Alur Eksekusi
Alur
eksekusi logika sistem dijelaskan dalam tahapan sebagai berikut:
- Inisialisasi
Mode Pin (setup()):
Perulangan for mengonfigurasi Pin Digital 2 hingga 8 sebagai OUTPUT untuk
mengendalikan segmen a–g 7-segment. Pin D9 dikonfigurasi sebagai
OUTPUT PWM, dan Pin D10 dikonfigurasi sebagai INPUT digital tombol.
- Deteksi
Transisi Sinyal Masukan Digital (loop()): Fungsi digitalRead(10)
membaca kondisi saklar. Kombinasi kondisi if (currentButton == HIGH
&& lastButton == LOW) mendeteksi penekanan tombol (edge
detection) serta memberikan jeda debouncing 50 ms untuk
mengubah status variabel systemActive (ON/OFF).
- Pembacaan
Masukan Analog (ADC 10-bit):
Saat systemActive bernilai true, fungsi analogRead(A0) menyampling
tegangan potensiometer (0--5 V) menjadi nilai digital biner 0 hingga 1023.
- Pengolahan
Keluaran Analog PWM (8-bit):
Fungsi map(potValue, 0, 1023, 0, 255) mengubah skala data ADC menjadi
sinyal PWM 8-bit. Nilai ini dikirim ke Pin D9 melalui analogWrite() untuk
memodulasi duty cycle daya LED secara linier.
- Pengolahan
Keluaran Digital 7-Segment:
Nilai ADC dipetakan kembali ke skala 0 hingga 9 menggunakan map(potValue,
0, 1023, 0, 9). Nilai level tersebut digunakan sebagai indeks matriks
numPatterns untuk mengirimkan sinyal HIGH atau LOW ke Pin D2–D8 via
digitalWrite().
- Kondisi
Sistem Mati (OFF):
Jika systemActive bernilai false, program mengeksekusi
analogWrite(LED_PWM, 0) dan memadamkan seluruh pin segmen menggunakan
perulangan digitalWrite(i, LOW).
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1
Pengujian Sistem Kondisi OFF (Standby)
Pada
kondisi awal sebelum push button ditekan, Pin Digital 10 menerima sinyal
LOW dari resistor pull-down. Variabel systemActive bernilai false,
sehingga Pin D9 (PWM) bertegangan 0 V dan Pin D2–D8 berlogika LOW. LED merah
dan peraga 7-segment berada pada kondisi padam penuh.
Gambar
4.1 Hasil Simulasi
Pengujian Sistem pada Kondisi Mati / Standby
4.2
Pengujian Sistem Kondisi ON (Level Minimum)
Saat
tombol ditekan satu kali, sistem aktif. Ketika potensiometer diputar pada
posisi minimum (0 V), ADC membaca nilai 0. Fungsi map() menghasilkan
keluaran PWM bernilai 0 (duty cycle 0%) yang menyebabkan LED padam,
serta menampilkan karakter angka 0 pada 7-segment.
Gambar
4.2 Hasil Simulasi
Sistem Kondisi ON pada Level Minimum (Angka 0)
4.3
Pengujian Sistem Kondisi ON (Level Sedang)
Gambar
4.3 Hasil Simulasi
Sistem Kondisi ON pada Level Sedang (Angka 5)
4.4
Pengujian Sistem Kondisi ON (Level Maksimum)
Saat
potensiometer diputar penuh ke posisi maksimum (5 V), ADC membaca nilai 1023.
Konversi PWM menghasilkan nilai 255 (duty cycle 100%) sehingga LED
menyala terang maksimal, dan peraga 7-segment menampilkan angka 9.
Gambar
4.4 Hasil Simulasi
Sistem Kondisi ON pada Level Maksimum (Angka 9)
4.5
Analisis Sistem dan Pewaktuan (Timing Analysis)
Rincian
alokasi data masukan, konversi sinyal, dan luaran sistem untuk tiap skenario
pengujian disajikan pada Tabel 4.1:
Tabel
4.1 Data Hasil Pengujian dan Analisis Sistem Terintegrasi
|
Skenario Pengujian |
Status Button (D10) |
Tegangan Input Potensio |
Nilai ADC (A0) |
Nilai PWM (D9) |
Duty Cycle PWM |
Tampilan 7-Segment (D2–D8) |
Status Operasi LED |
|
Sistem
OFF |
LOW
(0V) |
0
V – 5 V |
Unprocessed |
0 |
0% |
Matikan
Semua Pin (LOW) |
Padam |
|
Level
Minimum |
HIGH
(5V) |
0
V |
0 |
0 |
0% |
Pola
Angka 0 (1111110) |
Padam |
|
Level
Sedang |
HIGH
(5V) |
2,5
V |
512 |
127 |
50% |
Pola
Angka 5 (1011011) |
Nyala
Sedang |
|
Level
Maksimum |
HIGH
(5V) |
5
V |
1023 |
255 |
100% |
Pola
Angka 9 (1111011) |
Nyala
Maksimal |
Berdasarkan
data pada Tabel 4.1, analisis kerja sistem dapat diuraikan sebagai
berikut:
- Peran
Resistor Pull-Down:
Penggunaan resistor 10 k$\Omega$ terbukti efektif mengikat sinyal masukan
Pin D10 pada logika LOW saat saklar terbuka, sehingga berhasil
menghilangkan potensi kebisingan induksi (floating).
- Presisi
Konversi ADC ke PWM:
Fitur ADC 10-bit (0--1023) mampu dipetakan secara linier ke sinyal PWM
8-bit (0--255) via perintah map(). Hal ini menghasilkan perubahan
intensitas cahaya LED yang konsisten terhadap sudut putar
potensiometer.
- Representasi
Biner 7-Segment:
Pengiriman array matriks logika 1 dan 0 ke Pin D2–D8 mampu mengendalikan
segmen Common Cathode secara akurat sesuai angka level yang
dihitung oleh mikrokontroler.
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1
Kesimpulan
Berdasarkan
hasil perancangan, pengkodean, dan simulasi sistem Smart Dimmer LED &
Display Level berbasis Arduino Uno pada platform Wokwi, dapat ditarik
kesimpulan sebagai berikut:
- Rangkaian
terintegrasi yang menggabungkan masukan digital (push button),
masukan analog (potensiometer), keluaran analog berbasis Pulse Width
Modulation / PWM (LED), dan keluaran digital (7-segment display)
berhasil dirancang dan dapat berfungsi dengan sempurna pada simulator
Wokwi.
- Penggunaan
masukan digital pada Pin D10 dengan konfigurasi resistor pull-down
10 k$\Omega$ terbukti efektif mencegah fenomena floating pin serta
mampu berfungsi sebagai saklar toggle untuk mengontrol status aktif
atau matinya sistem secara stabil.
- Fitur
Analog to Digital Converter (ADC) 10-bit pada Pin Analog A0 mampu
mengonversi masukan tegangan linier potensiometer (0--5 V) menjadi
rentang data digital biner 0 hingga 1023 secara presisi.
- Konversi
nilai ADC menggunakan fungsi map() berhasil memetakan data masukan menjadi
dua jalur keluaran, yaitu sinyal PWM 8-bit (0--255) pada Pin D9 untuk
memodulasi duty cycle kecerahan LED, serta pemetaan skala numerik 0
hingga 9 untuk dikirimkan ke peraga 7-segment.
- Peraga
7-segment tipe Common Cathode pada Pin D2 hingga D8 mampu
menampilkan indikator visual level angka 0 hingga 9 secara akurat
berdasarkan pengolahan matriks data biner segmen a hingga g.
5.2
Saran
Beberapa
saran yang dapat diberikan untuk pengembangan praktikum ini di masa mendatang
meliputi:
- Implementasi
Perangkat Keras Fisik: Mengimplementasikan hasil simulasi ini pada papan
rangkaian (hardware) riil menggunakan breadboard dan
komponen fisik guna mengamati toleransi komponen serta pengaruh gangguan (noise)
sinyal pada dunia nyata.
- Optimasi
Pemrograman Non-Blocking: Mengganti fungsi pewaktuan tunda delay(50) pada
proses debouncing tombol dengan fungsi non-blocking millis() agar
mikrokontroler dapat melakukan tugas komputasi (multitasking) tanpa
mengalami kondisi terhenti sementara (blocking).
- Pengembangan
Fitur Sistem: Menambahkan indikator suara berupa buzzer atau
antarmuka komunikasi Serial Monitor untuk memantau nilai persentase
duty cycle PWM dan tegangan ADC secara real-time.
DAFTAR PUSTAKA
· Arduino. (2023). Arduino
Uno Rev3 hardware documentation and pinout guide. Arduino Reference Manual.
https://docs.arduino.cc/hardware/uno-rev3
· Kadry, S. (2018). Microcontroller
programming and interfacing with Texas Instruments MSP430FR2433 & Arduino.
Springer Publishing.
· Kurniawan, N. Y. (2024). Modul
2: Digital & analog input output (Mengenal proses I/O pada mikrokontroler).
Unesa IF Training.
· Wokwi. (2024). Wokwi
simulator documentation: Arduino Uno & peripherals. Wokwi Documentation
Center. https://docs.wokwi.com
Tidak ada komentar:
Posting Komentar