Minggu, 27 September 2026

LAPORAN PRAKTIKUM PENGENDALIAN RELAY MENGGUNAKAN ESP32 DAN POTENTIOMETER MENGGUNAKAN WOKWI

 

LAPORAN PRAKTIKUM PENGENDALIAN RELAY MENGGUNAKAN ESP32 DAN POTENTIOMETER MENGGUNAKAN WOKWI

 

Disusun Oleh:

Alen Anang Saputri                                   24051204133

Detha Gracio Anggara Palimbunga           24051204219

Larasati Dwi Ariyanti Putri                       24051204118

Pratindo Tri Akta                                       24051204189

 

 

 

BAB I
PENDAHULUAN

 

1.1 Latar Belakang

Perkembangan teknologi elektronika dan mikrokontroler telah memberikan banyak kemudahan dalam membangun berbagai sistem otomatis. Mikrokontroler dapat digunakan untuk menerima masukan dari pengguna atau sensor, mengolah data, kemudian menghasilkan keluaran sesuai dengan kondisi yang telah ditentukan dalam program. Salah satu mikrokontroler yang banyak digunakan dalam pengembangan sistem elektronika dan Internet of Things (IoT) adalah ESP32.

ESP32 merupakan mikrokontroler yang memiliki berbagai fitur input dan output, salah satunya adalah kemampuan untuk membaca sinyal analog. Kemampuan tersebut memungkinkan ESP32 digunakan untuk mengolah nilai dari komponen seperti potentiometer. Potentiometer merupakan komponen elektronik yang dapat menghasilkan nilai tegangan berbeda sesuai dengan posisi putarannya. Perubahan nilai tersebut dapat dibaca oleh ESP32 melalui pin analog dan digunakan sebagai dasar untuk menentukan suatu tindakan pada sistem.

Dalam praktikum ini dilakukan simulasi rangkaian yang terdiri dari ESP32, potentiometer, relay module, dan LED. Potentiometer berfungsi sebagai input analog yang memberikan nilai kepada ESP32. Nilai yang diperoleh kemudian diproses berdasarkan program yang telah dibuat. Hasil pemrosesan tersebut digunakan untuk mengendalikan relay. Relay berfungsi sebagai sakelar elektronik yang memungkinkan ESP32 mengatur kondisi suatu perangkat keluaran. Pada simulasi ini, LED digunakan sebagai indikator untuk menunjukkan perubahan kondisi keluaran dari relay.

 

Penggunaan relay pada rangkaian juga memberikan pemahaman mengenai konsep pengendalian perangkat eksternal menggunakan mikrokontroler. Ketika nilai potentiometer mengalami perubahan, ESP32 akan membaca perubahan tersebut dan menentukan kondisi relay sesuai dengan logika program. Dengan demikian, pengguna dapat melihat hubungan antara input analog, proses pengolahan oleh mikrokontroler, dan output digital secara langsung melalui simulasi.

Simulasi rangkaian ini penting dilakukan sebelum diterapkan pada perangkat keras secara langsung karena dapat membantu memahami hubungan antar-komponen serta cara kerja program. Selain itu, praktikum ini dapat menjadi dasar untuk mengembangkan sistem kendali otomatis yang lebih kompleks, seperti pengaturan perangkat berdasarkan nilai sensor, sistem penerangan otomatis, maupun aplikasi berbasis IoT.

Berdasarkan hal tersebut, praktikum ESP32, Relay, dan Potentiometer dilakukan untuk memahami proses pembacaan input analog, pengolahan nilai menggunakan ESP32, serta pengendalian relay sebagai output berdasarkan perubahan nilai potentiometer.

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang tersebut, rumusan masalah dalam praktikum ini adalah:

  1. Bagaimana prinsip kerja ESP32 dalam membaca nilai analog dari potentiometer?
  2. Bagaimana cara menghubungkan ESP32 dengan potentiometer, relay module, dan LED?
  3. Bagaimana cara membuat program ESP32 untuk membaca nilai potentiometer?
  4. Bagaimana cara menggunakan nilai potentiometer untuk mengendalikan relay?
  5. Bagaimana hubungan perubahan nilai potentiometer dengan kondisi relay dan LED pada simulasi?
  6. Bagaimana hasil pengujian dan simulasi rangkaian ESP32, potentiometer, relay, dan LED?

1.3 Tujuan Laporan

Tujuan dari pelaksanaan praktikum dan penyusunan laporan ini adalah:

  1. Memahami fungsi dan prinsip kerja ESP32 sebagai mikrokontroler.
  2. Memahami fungsi potentiometer sebagai input analog pada rangkaian.
  3. Mengetahui cara menghubungkan potentiometer dengan ESP32 agar nilai analog dapat dibaca oleh mikrokontroler.
  4. Memahami prinsip kerja relay module sebagai sakelar yang dikendalikan oleh ESP32.
  5. Mengetahui cara mengendalikan relay berdasarkan nilai input dari potentiometer.
  6. Memahami hubungan antara input, proses, dan output dalam sebuah sistem kendali sederhana.
  7. Melakukan simulasi dan pengujian rangkaian untuk mengetahui apakah sistem dapat bekerja sesuai dengan program yang dibuat.
  8. Menganalisis perubahan kondisi LED sebagai indikator dari kerja relay berdasarkan perubahan nilai potentiometer.
  9. Menambah pengalaman dalam merancang dan menguji rangkaian elektronika berbasis mikrokontroler.

1.4 Manfaat Praktikum

  1. Meningkatkan pemahaman mengenai penggunaan ESP32 sebagai mikrokontroler.
  2. Memahami penggunaan potentiometer sebagai input analog.
  3. Mengetahui prinsip kerja relay sebagai sakelar yang dikendalikan oleh mikrokontroler.
  4. Memberikan pengalaman dalam membuat dan melakukan simulasi rangkaian elektronika berbasis ESP32.
  5. Menjadi dasar untuk mengembangkan sistem kendali otomatis yang lebih kompleks.

 

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

 

2.1 Dasar Teori

2.1.1 Mikrokontroler ESP32

Mikrokontroler ESP32 merupakan System on a Chip (SoC) terjangkau dan efisien energi yang dirancang dengan kemampuan komputasi tinggi, menggabungkan prosesor dual-core Tensilica Xtensa 32-bit LX6. Alat ini secara umum dijadikan acuan di industri dan lingkungan akademis untuk pengembangan sistem tertanam serta Internet of Things (IoT) karena sudah dilengkapi dengan modul komunikasi nirkabel terintegrasi, yaitu Wi-Fi dan Bluetooth Low Energy (BLE). Dalam desain sistem otomatisasi, ESP32 berfungsi sebagai pusat pemrosesan (CPU) yang menerima instruksi dalam bentuk kode program (umumnya ditulis dengan bahasa C++ menggunakan framework Arduino IDE), mengamati variasi sinyal listrik dari berbagai sensor di sekitar, menjalankan algoritma atau logika bersyarat secara langsung, dan akhirnya mengirimkan sinyal perintah kepada aktuator perangkat keras. Kapasitas besar dari memori flash dan kecepatan clock mencapai 240 MHz membuat mikrokontroler ini sangat efektif dalam memproses data sensor yang rumit tanpa adanya jeda yang signifikan.

2.1.2 Analog-to-Digital Converter (ADC) dan Resolusi Data

Sinyal dalam dunia fisik, seperti perubahan suhu, cahaya, atau pergeseran mekanis, pada dasarnya bersifat kontinu atau analog, di mana nilainya memiliki rentang kemungkinan yang tak terbatas. Di sisi lain, inti prosesor komputer hanya dapat memahami dan melaksanakan instruksi dalam format bilangan biner diskrit (digital). Untuk mengatasi perbedaan fase ini, mikrokontroler membutuhkan komponen Pengubah Analog ke Digital (ADC). ADC bertanggung jawab untuk melakukan pengambilan sampel (sampling) tegangan input analog secara berkala dan mengubahnya menjadi rangkaian data matriks digital. Resolusi merupakan faktor utama yang menentukan spesifikasi ADC. Sebagai perbandingan, mikrokontroler Arduino Uno standar hanya memiliki ADC dengan resolusi 10-bit yang mengonversi sinyal menjadi 1024 tingkatan nilai, sedangkan ESP32 dilengkapi dengan ADC beresolusi 12-bit. Resolusi 12-bit ini memungkinkan ESP32 untuk membagi rentang tegangan rujukannya secara linier menjadi 4096 level nilai diskrit (dari angka 0 hingga 4095). Semakin tinggi resolusi data yang disediakan, semakin akurat dan peka mikrokontroler tersebut dalam mengidentifikasi variasi tegangan yang sangat kecil dari elemen sensor analog.

2.1.3 Logika Kontrol Digital (Thresholding)

Logika digital pada mikrokontroler bekerja berdasarkan dua level tegangan yang mutlak dan saling berlawanan. Kondisi logika 1 (High) diperoleh dengan memberikan tegangan catuan positif (VCC), sementara kondisi logika 0 (Low) diperoleh dari menghubungkan ground atau 0 Volt. Agar sinyal input tidak terjebak dalam kondisi mengambang (floating) yang dapat menyebabkan pembacaan yang tidak tentu, sirkuit elektronik biasanya dilengkapi dengan konfigurasi resistor pull-up untuk menstabilkan keadaan ke logika 1, atau pull-down untuk menstabilkan keadaan ke logika 0. Dalam pelaksanaan perangkat lunak, data pembacaan sinyal (seperti angka 0-4095 dari ADC) biasanya diproses dengan memanfaatkan metode algoritma thresholding. Metode ini menggunakan struktur kendali percabangan logika (seperti fungsi if-else) untuk menetapkan nilai batas (threshold). Jika nilai pengukuran melebihi angka ambang batas, mikrokontroler akan bereaksi dengan mensaturasi pin digital output menjadi logika 1 (VCC) untuk mengaktifkan aktuator. Sebaliknya, apabila data pengukuran berada di bawah batas ambang, pin digital akan diatur kembali ke logika 0 (GND) untuk mematikan perangkat.

 

2.2 Komponen

2.2.1 ESP32 Development Board

Board Pengembangan ESP32 adalah kemasan siap guna dari chip mikrokontroler ESP32 yang sudah dilengkapi dengan berbagai sirkuit pendukung penting, seperti regulator voltase, port antarmuka USB ke Serial (misalnya IC CP2102 atau CH340), serta deretan pin header untuk mempermudah proses penyambungan kabel ke breadboard. Board pengembangan ini memungkinkan konversi tegangan dari antarmuka USB (5 Volt) menjadi 3.3 Volt, yang merupakan level tegangan kerja standar untuk chip ESP32. Pada simulasi platform seperti Wokwi, komponen ini direpresentasikan secara tepat dengan konfigurasi pin General Purpose Input/Output (GPIO) yang serupa dengan perangkat keras sebenarnya, memungkinkan pengujian kode pemrograman, inisialisasi pin analog, dan pernyataan pin digital dilakukan tanpa memerlukan papan fisik pada tahap prototyping awal.

2.2.2 Potensiometer

Potensiometer merupakan komponen elektronika pasif yang berfungsi sebagai resistor variabel secara mekanis. Penggunaan potensiometer sangat tergantung pada prinsip dasar rangkaian pembagi tegangan. Secara struktural, potensiometer terdiri dari tiga pin terminal: terminal ujung pertama terhubung ke tegangan sumber (VCC), terminal ujung kedua terhubung ke ground (GND), dan terminal tengah (dikenal sebagai wiper atau penyapu) berfungsi sebagai titik output untuk pembacaan. Saat knob atau tuas mekanis pada potensiometer diputar, panjang jalur konduktif resistif di dalamnya akan berubah secara proporsional. Perubahan posisi mekanis ini menyebabkan peningkatan atau penurunan hambatan listrik, yang berpengaruh langsung terhadap fluktuasi nilai tegangan keluaran di terminal wiper. Tegangan variabel ini selanjutnya dihubungkan ke pin GPIO mikrokontroler agar dapat dikonversi oleh ADC.

2.2.3 Modul Relay

Relay merupakan sebuah saklar elektromekanis yang dirancang khusus untuk memutuskan atau menghubungkan aliran listrik. Dalam ekosistem rekayasa mikrokontroler, relay memiliki peran penting sebagai komponen pemisah yang menghubungkan sirkuit kontrol bertegangan sangat rendah (ESP32 dengan operasional 3.3V) dengan sirkuit beban eksternal yang bertegangan tinggi (seperti peralatan listrik rumah tangga 220V AC atau motor DC berdaya besar). Modul relay beroperasi dengan prinsip elektromagnetik; saat pin kontrolnya mendapatkan sinyal diskrit logika 1 (Tinggi) dari ESP32, arus kecil ini akan mengaktifkan kumparan (coil) di dalam modul untuk menciptakan medan magnet. Gaya tarik medan magnet ini secara mekanis akan menarik tuas armatur, mengubah status saklar internal dari posisi terbuka normal (Normally Open / NO) menjadi tertutup, atau sebaliknya. Kehadiran modul relay menjamin bahwa mikrokontroler terlindungi sepenuhnya dari potensi kerusakan serius karena lonjakan tegangan balik atau kelebihan arus dari aktuator utama.



BAB III
PEMBAHASAN

 

3.1 Penjelasan Simulasi

3.1.1 Deskripsi Umum Sistem dan Lingkungan Pengujian

Pengujian dan validasi sistem kendali ini dilakukan melalui simulasi virtual berbasis komputasi menggunakan platform Wokwi Simulation Environment. Perancangan sistem ini berfokus pada mekanisme otomatisasi pensaklaran beban elektrik berbasis mikrokontroler ESP32, di mana modul relai (electromechanical relay module) diaktifkan secara dinamis berdasarkan fluktuasi sinyal analog yang diperoleh dari potensiometer.

Dalam arsitektur sistem kendali tertanam (embedded system), sinyal tegangan analog kontinu dari transduser masukan diolah menjadi representasi numerik diskret oleh konverter analog-ke-digital (Analog-to-Digital Converter / ADC). Nilai numerik hasil konversi tersebut kemudian dibandingkan dengan nilai ambang batas (threshold value) yang telah ditentukan di dalam algoritma perangkat lunak untuk menentukan kondisi pensaklaran modul relai, yang selanjutnya mengalirkan atau memutus arus listrik menuju beban akhir berupa lampu LED.

3.1.2 Karakteristik dan Spesifikasi Fungsional Komponen

Perancangan perangkat keras virtual pada sistem ini mengintegrasikan beberapa instrumen dan komponen elektronika utama sebagai berikut:

  • Mikrokontroler ESP32 NodeMCU DevKit: Berfungsi sebagai unit pemroses utama (Central Processing Unit). ESP32 memiliki unit ADC internal dengan resolusi 12-bit yang memetakan rentang tegangan masukan analog dari 0 hingga 3,3 Volt menjadi representasi data digital diskret dari rentang nilai 0 hingga 4095.
  • Potensiometer Rotary: Berfungsi sebagai transduser resistif analog pasif yang dirangkai dengan konfigurasi pembagi tegangan (voltage divider). Terminal poros putar pada potensiometer menghasilkan keluaran tegangan variabel kontinu yang berbanding lurus terhadap sudut putarannya.
  • Modul Relai 1-Kanal (1-Channel Relay Module): Berfungsi sebagai sakelar mekanis elektrik yang mengisolasi sirkuit pengendali dari sirkuit beban, sehingga melindungi pin input/output mikrokontroler dari lonjakan arus maupun beban kerja berlebih.
  • Lampu LED (Light Emitting Diode): Berperan sebagai indikator visual beban keluaran untuk mengonfirmasi keterhubungan jalur arus listrik pada terminal sakelar modul relai.

3.1.3 Konfigurasi Pengkabelan (Interconnection Wiring)

Integrasi antar subsistem perangkat keras disusun ke dalam tiga jalur fungsional utama, yaitu jalur masukan analog, jalur kendali aktuasi, dan jalur loop beban daya relai:

Nama Modul / Komponen

Terminal Komponen

Pin Antarmuka ESP32

Keterangan / Fungsi Jalur

Potensiometer

VCC

3V3

Catu daya referensi masukan (3,3 Volt)

GND

GND

Jalur referensi pembumian bersama (common ground)

SIG / Wiper

GPIO36 (ADC0 / VP)

Jalur transmisi sinyal tegangan analog variabel

Modul Relai

VCC

VIN / 5V

Catu daya operasional koil relai

GND

GND

Jalur pembumian modul relai

IN (Trigger)

GPIO22

Saluran sinyal logika kendali pensaklaran digital

Sirkuit Beban (LED)

Common (COM)

3V3

Sumber daya jalur beban

Normally Open (NO)

Anoda LED (+)

Terminal sakelar terbuka saat koil tidak aktif

Katoda LED (-)

GND

Penutup sirkuit loop tertutup ke ground

3.1.4 Analisis Prinsip Kerja dan Mekanisme Pensaklaran

Sistem beroperasi dengan metode pembacaan berkala secara kontinu (continuous polling). Alur kerja operasional rangkaian dapat dirinci ke dalam tahapan mekanisme berikut:

  • Akuisisi dan Kuantisasi Sinyal Masukan: Perubahan posisi poros potensiometer menghasilkan variasi tegangan analog yang diterima oleh pin GPIO36. Modul konverter internal ESP32 secara berkala mencuplik nilai tegangan tersebut dan menerjemahkannya ke dalam skala numerik digital proporsional antara 0 hingga 4095 sesuai dengan tegangan kerja 3,3 Volt.
  • Evaluasi Ambang Batas Logika: Algoritma pengendali mengonfigurasi batas nilai ambang pada angka 1000, yang merepresentasikan tegangan masukan analog sekitar 0,8 Volt. Nilai digital hasil pembacaan potensiometer dievaluasi secara berulang terhadap parameter batas ini.
  • Mekanisme Pengendalian Relai dan Indikator Beban:
    • Kondisi Aktif: Ketika potensiometer diputar hingga menghasilkan tegangan masukan di atas 0,8 Volt (nilai digital melampaui 1000), mikrokontroler mengirimkan sinyal berlogika tinggi (HIGH) melalui GPIO22. Tegangan ini mengaktifkan sirkuit pemicu relai, mengeksitasi koil elektromagnetik, dan menarik pelat kontak dari posisi tertutup normal (Normally Closed) menuju kontak terbuka normal (Normally Open). Hubungan kontak antara terminal COM dan NO menjadi tertutup, sehingga arus listrik mengalir menuju lampu LED dan membuatnya menyala.
    • Kondisi Non-Aktif: Ketika potensiometer diputar balik hingga nilai pembacaan digital turun di bawah atau sama dengan 1000, mikrokontroler mengubah status pin GPIO22 menjadi logika rendah (LOW). Arus pada koil relai terputus, gaya elektromagnetik hilang, dan mekanisme pegas mengembalikan kontak ke posisi semula. Sirkuit beban kembali terbuka sehingga lampu LED padam.

 

3.2 Kode Program

3.2.1 Implementasi Program

 

#define POTENTIOMETER_PIN 36  // ESP32 pin GPIO36 (ADC0) connected to Potentiometer pin

#define RELAY_PIN         22  // ESP32 pin GPIO27 connected to Relay's pin

#define ANALOG_THRESHOLD  1000

 

void setup() {

  pinMode(RELAY_PIN, OUTPUT); // set ESP32 pin to output mode

}

 

void loop() {

  int analogValue = analogRead(POTENTIOMETER_PIN); // read the input on analog pin

 

  if (analogValue > ANALOG_THRESHOLD)

    digitalWrite(RELAY_PIN, HIGH); // turn on Relay

  else

    digitalWrite(RELAY_PIN, LOW);  // turn off Relay

}

 

3.2.2 Analisis dan Pembahasan Struktur Program

Struktur kode program di atas terbagi ke dalam tiga tingkatan fungsional arsitektur perangkat lunak:

  • Tingkat Pengarah Prapemrosesan (Preprocessor Directives):
    • #define POTENTIOMETER_PIN 36: Menetapkan label simbolik pin masukan analog pada jalur GPIO36 tanpa membebani kapasitas memori dinamis mikrokontroler.
    • #define RELAY_PIN 22: Mengasosiasikan terminal keluaran pengendali sinyal modul relai dengan pin digital GPIO22.
    • #define ANALOG_THRESHOLD 1000: Menetapkan batas numerik referensi pembanding logika sebesar 1000 skala digital.
  • Tingkat Inisialisasi Perangkat Keras (setup):
    • Fungsi void setup() dijalankan tepat satu kali saat mikrokontroler pertama kali mendapatkan suplai daya.
    • Instruksi pinMode(RELAY_PIN, OUTPUT); mengonfigurasi gerbang GPIO22 ke mode keluaran (output) agar mampu mengalirkan tegangan logika kendali secara stabil ke modul relai.
  • Tingkat Siklus Eksekusi Utama (loop):
    • Fungsi void loop() bertindak sebagai perulangan utama tak terbatas (infinite loop) yang memproses instruksi secara berurutan selama sistem aktif.
    • Perintah analogRead(POTENTIOMETER_PIN) menginstruksikan modul ADC internal untuk membaca tegangan riil pada terminal potensiometer dan menyimpannya ke dalam variabel bilangan bulat analogValue.
    • Struktur percabangan logika if (analogValue > ANALOG_THRESHOLD) membandingkan nilai variabel pembacaan dengan nilai ambang batas. Jika kondisi terpenuhi, instruksi digitalWrite(RELAY_PIN, HIGH) mengalirkan tegangan 3,3 Volt ke modul relai. Sebaliknya, blok else mengeksekusi instruksi digitalWrite(RELAY_PIN, LOW) untuk memutus tegangan kendali menuju 0 Volt apabila nilai analog berada di bawah ambang batas, memastikan respon kendali beban berlangsung secara seketika dan deterministik.

BAB IV
PENUTUP

 

4.1 Kesimpulan

Berdasarkan praktikum simulasi rangkaian ESP32, potentiometer, relay module, dan LED, dapat disimpulkan bahwa ESP32 dapat digunakan sebagai pusat pengendalian dalam suatu sistem elektronika sederhana. ESP32 menerima masukan berupa nilai analog dari potentiometer, kemudian nilai tersebut dibaca dan diolah menggunakan program untuk menentukan kondisi keluaran. Hal ini menunjukkan adanya hubungan antara komponen input, proses pengolahan oleh mikrokontroler, dan komponen output dalam sebuah sistem kendali.

Potentiometer berfungsi sebagai sumber input analog yang menghasilkan perubahan nilai sesuai dengan posisi putarannya. Perubahan tersebut dapat dibaca oleh ESP32 melalui pin yang mendukung fungsi ADC. Nilai hasil pembacaan kemudian digunakan sebagai dasar untuk menjalankan logika program. Dengan adanya perubahan nilai potentiometer, kondisi output dapat berubah sesuai dengan batas atau kondisi yang telah ditentukan dalam program.

Relay module berfungsi sebagai sakelar yang dikendalikan oleh ESP32. Berdasarkan nilai yang diterima dari potentiometer, ESP32 memberikan sinyal digital kepada relay untuk mengubah kondisinya. Pada simulasi ini, LED digunakan sebagai indikator sehingga perubahan kondisi relay dapat diamati dengan lebih mudah. Dengan demikian, praktikum memberikan pemahaman mengenai penerapan input analog untuk mengendalikan output digital pada mikrokontroler.

Simulasi menggunakan Wokwi juga memberikan kemudahan dalam melakukan perancangan dan pengujian rangkaian tanpa harus menggunakan komponen fisik secara langsung. Melalui simulasi, hubungan antar-komponen, konfigurasi pin, serta program yang digunakan dapat diuji terlebih dahulu. Hal tersebut membantu mengurangi kemungkinan kesalahan ketika rangkaian nantinya diterapkan pada perangkat keras sebenarnya.

Secara keseluruhan, praktikum ini berhasil memberikan pemahaman mengenai penggunaan ESP32 sebagai mikrokontroler, potentiometer sebagai input analog, relay sebagai output yang dikendalikan, serta LED sebagai indikator kondisi output. Praktikum juga menunjukkan penerapan konsep sederhana sistem kendali, yaitu menerima input, memproses input berdasarkan logika program, dan menghasilkan output sesuai dengan kondisi yang telah ditentukan.

4.2 Saran

Pada praktikum selanjutnya, proses simulasi sebaiknya dilakukan secara bertahap, mulai dari membuat rangkaian, memeriksa kembali koneksi setiap komponen, kemudian memasukkan dan menguji program. Pemeriksaan konfigurasi pin perlu dilakukan dengan teliti karena kesalahan dalam menentukan pin input maupun output dapat menyebabkan rangkaian tidak bekerja sesuai dengan program.

Selain itu, pengujian dapat dilakukan dengan memberikan beberapa variasi posisi potentiometer untuk mengamati perubahan nilai input dan respons relay secara lebih menyeluruh. Hasil dari setiap kondisi dapat dicatat sehingga hubungan antara perubahan nilai potentiometer dengan kondisi output dapat dianalisis dengan lebih jelas.

Simulasi juga dapat dikembangkan dengan menambahkan komponen atau sensor lain sebagai input maupun perangkat keluaran. Dengan pengembangan tersebut, konsep yang telah dipelajari dapat diterapkan pada sistem kendali yang lebih kompleks, seperti sistem penerangan otomatis, pengendalian perangkat berdasarkan kondisi tertentu, atau sistem otomatisasi sederhana berbasis ESP32.

Terakhir, penggunaan Wokwi dapat terus dimanfaatkan sebagai tahap awal sebelum melakukan perakitan menggunakan komponen fisik. Dengan melakukan simulasi terlebih dahulu, kesalahan pada rangkaian dan program dapat diketahui lebih awal sehingga proses implementasi pada perangkat keras dapat dilakukan dengan lebih terarah.



DAFTAR PUSTAKA

 

Alyafi, M. A., Anifah, L., Asto B, I. G. P., & Nurhayati, N. (2021). Pengembangan trainer kit mikrokontroler NodeMCU ESP32 berbasis IoT sebagai media pembelajaran pada mata pelajaran pemrograman, mikroprosesor, dan mikrokontroler di SMK Negeri 1 Sidoarjo. Jurnal Pendidikan Teknik Elektro, 11(2), 203–212. https://doi.org/10.26740/jpte.v11n02.p203-212

Sukowati, A. I., & Rahmah, L. M. (2026). Density-optimized lookup table with piecewise linear interpolation for ESP32 ADC precision enhancement. JOURNAL ZETROEM, 8(1), 56–64. https://doi.org/10.36526/ztr.v8i1.7602 

Espressif Systems. (n.d.). ESP32 datasheet. https://documentation.espressif.com/esp32_datasheet_en.html?.com 

Espressif Systems. (n.d.). ESP32-WROOM-32 datasheet. https://documentation.espressif.com/esp32-wroom-32_datasheet_en.html?.com

Espressif Systems. (n.d.). ADC API. Arduino-ESP32 Documentation. https://docs.espressif.com/projects/arduino-esp32/en/latest/api/adc.html?.com

Espressif Systems. (n.d.). GPIO API. Arduino-ESP32 Documentation. https://github.com/espressif/arduino-esp32/blob/master/docs/en/api/gpio.rst?.com

 

LAMPIRAN

 

- https://wokwi.com/projects/475060584868066305




Tidak ada komentar:

Posting Komentar