Minggu, 27 September 2026

SIMULASI SISTEM MONITORING SUHU DAN KELEMBAPAN BERBASIS ESP32 MENGGUNAKAN SENSOR DHT22 PADA WOKWI

 

LAPORAN PRAKTIKUM INTERNET OF THINGS (IOT)

SIMULASI SISTEM MONITORING SUHU DAN KELEMBAPAN BERBASIS ESP32 MENGGUNAKAN SENSOR DHT22 PADA WOKWI



Disusun Oleh :

Firman Nova Prayoga                                     24051204088

Haidar Ali Yafi                                                24051204111

Nita Aini Rohima                                            24051204217

Arsyanda Nareswari Widaryanto                    24051204109


BAB I

PENDAHULUAN

 

1.1 Latar Belakang

Suhu dan kelembapan merupakan dua parameter lingkungan kritis yang memengaruhi berbagai sektor, mulai dari kenyamanan ruangan, kesehatan perangkat elektronik, hingga stabilitas penyimpanan komoditas pada industri pangan dan pertanian. Perubahan kondisi lingkungan yang tidak terawasi secara real-time dapat menyebabkan kerusakan material maupun penurunan efisiensi kerja. Oleh karena itu, diperlukan sebuah sistem monitoring lingkungan yang dapat menyajikan data secara konstan dan akurat.

Perkembangan teknologi Internet of Things (IoT) memungkinkan proses pemantauan dilakukan secara otomatis dan terintegrasi. Mikrokontroler ESP32 menjadi salah satu platform paling populer dalam implementasi IoT karena telah dilengkapi dengan modul Wi-Fi dan Bluetooth bawaan, daya pemrosesan yang tinggi, serta efisiensi konsumsi daya. Untuk membaca parameter lingkungan, ESP32 dapat dihubungkan dengan sensor DHT22, yang memiliki tingkat akurasi dan rentang pengukuran suhu maupun kelembapan lebih baik dibandingkan pendahulunya (DHT11).

Namun, perancangan hardware secara fisik sering kali menghadapi kendala keterbatasan perangkat keras, risiko kerusakan komponen akibat kesalahan pengawatan, serta biaya pengadaan. Platform simulasi Wokwi hadir sebagai solusi berbasis web-based simulator yang memungkinkan pengujian kode program dan interaksi sirkuit elektronik secara virtual sebelum dilakukan penataan fisik. Melalui simulasi berbasis Wokwi ini, proses perancangan, pengujian logika program, dan verifikasi pembacaan sensor DHT22 oleh ESP32 dapat dilakukan secara efisien, aman, dan berbiaya nol.

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas, rumusan masalah dalam laporan ini adalah:

  1. Bagaimana cara merangkai skematik sensor DHT22 dengan mikrokontroler ESP32 pada platform simulasi Wokwi?
  2. Bagaimana cara mengimplementasikan kode program (firmware) untuk membaca data suhu dan kelembapan dari sensor DHT22 menggunakan ESP32?
  3. Bagaimana performa dan tingkat keakuratan simulasi Wokwi dalam menampilkan data perubahan suhu dan kelembapan secara real-time?

1.3 Tujuan Laporan

Tujuan dari penyusunan laporan ini adalah:

  1. Memahami konfigurasi perangkat keras: Menjelaskan alur koneksi pin dan skematik antara sensor DHT22 dan mikrokontroler ESP32 di dalam lingkungan virtual Wokwi.
  2. Mengembangkan logika pemrograman: Menyusun dan menguji kode program berbasis C/C++ (Arduino IDE) untuk memproses sinyal dari sensor DHT22 menjadi nilai suhu (°C) dan kelembapan (%).
  3. Menganalisis hasil simulasi: Memverifikasi respons dan keandalan pembacaan data sensor saat kondisi parameter lingkungan diubah pada platform Wokwi.

1.4 Manfaat Laporan

Manfaat dari praktikum ini antara lain : 

  1. Menambha pemahaman mengenai penggunaan ESP32
  2. Menambah pengetahuan mengenai sensor DHT22
  3. Memahami komunikasi I2C pada LCD
  4. Melatih kemampuan pemrograman mikrokontroler menggunakan MicroPython
  5. Memahami penerapan sistem monitoring suhu dan kelembapan secara otomatis
  6. Memberikan pengalaman dalam melakukan simulasi rangkaian elektronik menggunakan wokwi
  7. Menjadi dasar untuk Pengembangan sistem monitoring lingkungan berbasis IoT




BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

 

2.1 Dasar Teori

2.1.1 ESP32

ESP32 adalah keluarga sistem-on-chip (SoC) berbiaya rendah dan hemat daya yang dibuat oleh Espressif Systems. Dirancang untuk aplikasi yang membutuhkann konektivitas nirkabel dan fleksibilitas, dan merupakan penerus langsung dari ESP28266 yang terkenal. Keberhasilannya terletak pada penggabungan fungsi mikrokontroler tradisional, dengan kemampuan komunikasi dan pemrosesan digital tingkat lanjut.

ESP32 bukan sekedar chip, tetapi sebuah keluarga yang mencakup berbagai varian dan modul seperi ESP32-WROOM, ESP32-WROVER, dan ESP32-MINI. Berkat keragaman ini,, dimungkinkan untuk menemukan papan pengembangan dan modul untuk hampir semua aplikasi, mulai dari sensor sajar jauh hingga web server tertanam dan pengontrol otomatisasi rumah.

Salah satu alasan ESP32 begitu menonjol adalah daftar teknologi dan fitur mengesankan yang ditawarkannya untuk ukuran dan harganya yang kecil.

  • Prosesor yang kuatInti utamanya adalah prosesor Xtensa LX6 32-bit dual-core (meskipun versi single-core juga tersedia), yang mampu beroperasi pada frekuensi 160 atau 240 MHz dan dengan kinerja hingga 600 DMIPS. Prosesor ini juga dilengkapi koprosesor daya ultra-rendah (ULP) untuk tugas-tugas yang membutuhkan konsumsi energi maksimum.
  • Memori terintegrasiDilengkapi SRAM 520 KB untuk operasi cepat, beserta memori flash, NVRAM, dan opsi penyimpanan lain untuk data dan firmware. Opsi memori eksternal umumnya tersedia untuk ekspansi lebih lanjut.
  • Konektivitas nirkabel tingkat lanjut: Termasuk Wi-Fi 802.11 b/g/n dan Bluetooth 4.2 (mendukung BR/EDR dan BLE), yang memungkinkan ESP32 terhubung dengan mudah ke jaringan, perangkat seluler, dan pengontrol lainnya.
  • Banyaknya antarmuka periferal: ADC 12-bit dengan hingga 18 saluran, DAC 8-bit, sensor kapasitif, hingga 4 antarmuka SPI, 2 I²S, 2 I²C, 3 UART, pengontrol kartu SD, antarmuka jarak jauh inframerah, PWM untuk LED dan motor, sensor efek Hall, CAN, Ethernet MAC, dan banyak lagi.
  • Keamanan Lanjutan: : Dukungan untuk standar keamanan Wi-Fi (WPA/WPA2, WFA, WAPI), boot aman, enkripsi memori flash, kriptografi yang dipercepat perangkat keras (AES, SHA-2, RSA, ECC, pembuatan angka acak), penyimpanan OTP hingga 1024-bit, dan banyak lagi.
  • konsumsi daya rendahESP32 dapat mencapai konsumsi daya serendah 5μA dalam mode tidur nyenyak, dan memungkinkan pengaturan daya terperinci untuk memaksimalkan masa pakai baterai pada perangkat portabel.

2.1.2 Sensor DHT22

DHT22 adalah sensor suhu dan kelembaban dengan kinerja yang menyaingi model presisi tinggi . Sensor ini mudah didapatkan di toko khusus atau pengecer besar . Hal ini memungkinkan Anda untuk mengintegrasikan semuanya ke dalam satu perangkat, sehingga menghilangkan kebutuhan akan sensor suhu dan kelembaban terpisah.

DHT22, atau dikenal juga dengan nama AM2302, adalah sensor digital yang digunakan untuk mengukur suhu dan kelembapan udara. Sensor ini mampu memberikan data yang cukup akurat dan stabil, membuatnya sangat cocok untuk digunakan dalam berbagai sistem monitoring berbasis IoT. DHT22 memiliki spesifikasi teknis sebagai berikut:

  1. Rentang pengukuran suhu: -40 hingga +80°C dengan akurasi ±0.5°C
  2. Rentang pengukuran kelembapan: 0% hingga 100% RH dengan akurasi ±2–5% RH
  3. Tegangan operasi: 3.3V hingga 6V
  4. Frekuensi sampling: Sekitar 0.5 Hz (pembaruan data setiap 2 detik)
  5. Interface: Digital single-wire (one-wire)

Dibandingkan dengan “saudara”-nya, DHT11, DHT22 menawarkan rentang pengukuran yang lebih luas dan akurasi yang lebih baik, meskipun dengan harga yang sedikit lebih mahal.

Sensor DHT22 (juga dikenal sebagai AM2302) merupakan sensor digital yang banyak digunakan dalam proyek-proyek IoT untuk mengukur suhu dan kelembapan lingkungan. Sensor ini menjadi pilihan utama karena menawarkan kombinasi antara presisi, efisiensi, kemudahan penggunaan, serta biaya yang rendah. Berikut penjabaran lengkap dari keunggulan-keunggulannya:

  1.  Akurasi Tinggi

DHT22 dirancang untuk memberikan pengukuran suhu dan kelembapan yang cukup akurat, menjadikannya andalan dalam aplikasi yang membutuhkan data lingkungan yang presisi. Sensor ini memiliki spesifikasi akurasi ±0.5°C untuk suhu dan ±2%–5% RH (Relative Humidity) untuk kelembapan. Dibandingkan dengan model pendahulunya seperti DHT11, DHT22 memiliki performa yang jauh lebih baik terutama dalam pengukuran kelembapan.

2.               Mudah Digunakan

DHT22 dirancang agar dapat digunakan oleh pengguna dari berbagai tingkat keahlian, dari pemula hingga profesional. Sensor ini memiliki antarmuka satu kabel (single-wire digital interface) yang sangat sederhana dan hemat pin, sehingga mudah dihubungkan dengan mikrokontroler atau papan pengembangan seperti Arduino dan ESP32.

Selain itu, dukungan pustaka (library) yang sangat luas untuk berbagai bahasa pemrograman—seperti C/C++ (Arduino), MicroPython, dan Python (Raspberry Pi)—membuat integrasi DHT22 menjadi sangat praktis. Pustaka ini biasanya sudah menangani seluruh proses komunikasi data, konversi, dan validasi checksum, sehingga pengguna hanya perlu memanggil fungsi sederhana untuk mendapatkan data suhu dan kelembapan.

Komunitas pengguna DHT22 juga sangat aktif, menyediakan banyak tutorial, dokumentasi, dan proyek open-source yang bisa dijadikan referensi atau bahan belajar.

3.               Konsumsi Daya Rendah

Dalam proyek IoT, terutama yang berbasis baterai atau menggunakan sumber daya alternatif seperti panel surya, efisiensi energi menjadi faktor penting. DHT22 hanya mengonsumsi daya saat mengambil pembacaan data dan akan masuk ke mode low-power ketika tidak digunakan. Ini berarti sensor hanya aktif beberapa milidetik setiap pengambilan data, lalu kembali ke keadaan diam (idle) yang menghemat energi.

4.               Harga Terjangkau

DHT22 menawarkan keseimbangan yang sangat baik antara performa dan harga. Meskipun lebih mahal dibandingkan DHT11, perbedaan harganya masih tergolong kecil, terutama jika dibandingkan dengan sensor suhu dan kelembapan kelas industri. Untuk proyek-proyek dengan anggaran terbatas—seperti eksperimen pendidikan, prototipe, atau deployment sensor dalam jumlah besar—DHT22 memberikan nilai yang sangat baik.

5.               Kompatibilitas Luas

Salah satu kekuatan utama DHT22 adalah kemampuannya untuk diintegrasikan dengan berbagai platform dan ekosistem pengembangan. Baik Anda menggunakan Arduino, ESP8266, ESP32, Raspberry Pi, STM32, NodeMCU, atau bahkan menggunakan platform seperti Wokwi untuk simulasi, DHT22 dapat digunakan dengan mudah.

Kompatibilitas ini tidak hanya terbatas pada perangkat keras, tetapi juga pada ekosistem perangkat lunak. Library seperti Adafruit_DHT untuk Python dan DHT untuk Arduino sangat populer dan terus diperbarui oleh komunitas. Integrasi dengan platform IoT seperti Blynk, ThingsBoard, atau MQTT broker juga memungkinkan pengguna membangun sistem monitoring lingkungan berbasis cloud dengan sedikit usaha.

Dengan dukungan komunitas yang luas, pengguna dapat menemukan banyak contoh kode, dokumentasi teknis, dan forum diskusi untuk memecahkan berbagai permasalahan integrasi atau penggunaan.

6.               Rentang Pengukuran Luas

DHT22 dapat bekerja dalam rentang suhu dari -40°C hingga +80°C dan rentang kelembapan dari 0% hingga 100% RH, yang jauh lebih luas dibandingkan dengan sensor DHT11 yang hanya mendukung -0°C hingga +50°C. Rentang ini memungkinkan DHT22 untuk digunakan dalam kondisi lingkungan ekstrem, baik di daerah bersuhu sangat rendah (seperti ruang dingin) maupun bersuhu tinggi (seperti area industri ringan).

Rentang kelembapan yang mencakup seluruh spektrum 0% hingga 100% RH menjadikannya sangat fleksibel untuk memantau lingkungan tertutup dan terbuka. DHT22 juga memiliki kemampuan untuk menghindari kondensasi, sehingga cocok digunakan di area dengan fluktuasi kelembapan yang tinggi.

7.               Stabilitas dan Umur Panjang

DHT22 memiliki desain yang solid dan komponen internal yang telah dikalibrasi secara digital dari pabrik, sehingga menghasilkan stabilitas pengukuran yang tinggi dari waktu ke waktu. Sensor ini juga relatif tahan terhadap debu dan gangguan elektromagnetik ringan, menjadikannya andal dalam penggunaan jangka panjang di berbagai kondisi lingkungan.

Umur pemakaian yang panjang dan minimnya kebutuhan kalibrasi ulang menjadikannya pilihan yang tepat untuk sistem monitoring permanen yang membutuhkan perawatan minimal. Bahkan dalam kondisi yang cukup menantang, DHT22 masih mampu memberikan pembacaan yang stabil tanpa penurunan kualitas data secara signifikan.

2.1.3 LCD I2C

LCD digunakan sebagai media untuk menampilkan informasi hasil pembacaan sensor. Pada proyek ini digunakan LCD dengan antarmuka I2C.

Komunikasi I2C memungkinkan perangkat berkomunikasi menggunakan jalur SDA dan SCL. Pada proyek, pin SDA menggunakan GPIO 21 dan SCL menggunakan GPIO 22. LCD menggunakan alamat I2C 0x27.

2.1.4 LED

LED digunakan sebagai indikator visual kondisi sistem. Pada rangkaian terdapat dua LED, yaitu LED hijau dan LED merah.

LED hijau menyala ketika kondisi suhu masih normal. LED merah menyala ketika suhu mencapai atau melebihi batas yang telah ditentukan.

2.1.5 Buzzer

Buzzer merupakan komponen yang menghasilkan suara sebagai indikator atau alarm. Pada sistem ini buzzer digunakan sebagai peringatan ketika kondisi suhu berada pada kategori tinggi.

Buzzer terhubung ke GPIO 5 ESP32. Ketika suhu mencapai batas 30°C, buzzer diaktifkan bersama dengan LED merah.

2.1.6 MicroPython

Micro Python, varian dari bahasa pemrograman Python 3 yang dapat berjalan di mikrokontroller. Python selama ini dikenal sebagai bahasa pemrograman populer yang mudah dipelajari dengan penulisan sintaks yang sederhana. Dengan Micro Python Kamu bisa bikin proyek robotika Kamu dengan lebih mudah dan cepat. 

Damien George pembuat Micro Python membuat varian Python tersebut dengan menulis ulang dari nol menggunakan bahasa C dengan mengimplementasikan sintaks gramatikal Python, mencakup parser, compiler, vitrual machine, runtime system, garbage collector, dan support library agar dapat berjalan pada mikroprosessor. 

Kelebihan Micro Python ini, selain fiturnya yang beragam dengan ukuran yang kecil (4 cm x 3,3 cm), kode program ditulis dalam file berekstensi .py dan dapat langsung disimpan di dalam flash memory pada Python board. Proses compiling dilakukan langsung di dalam microprocessor sehingga tidak diperlukan software downloader pada PC. Hal ini sangat memudahkan proses pembuatan dan uji coba program. Selain itu, Micro Python juga dilengkapi dengan REPL (Read Evaluate Print Loop) atau interactive prompt yang memungkinkan kita untuk mengakses langsung Python board, mencoba-coba kode program dan melihat hasilnya saat itu juga. 

2.1.7 Wokwi

Wokwi merupakan simulator elektronik yang dapat digunakan untuk melakukan simulasi berbagai mikrokontroler, sensor, display, dan komponen elektronik. Wokwi mendukung keluarga ESP32 dan berbagai komponen sensor.

Penggunaan Wokwi dalam praktikum memungkinkan proses perancangan dan pengujian dilakukan secara virtual sebelum rangkaian diterapkan pada perangkat keras sebenarnya.

2.2 Komponen

No

Komponen 

Fungsi

1

ESP32

Mikrokontroler utama dan pengendali sistem

2

DHT22

Mengukur suhu dan kelembapan

3

LCD I2C

Menampilkan hasil pengukuran dan status sistem

4

LED Hijau

Indikator kondisi suhu normal

5

LED Merah

Indikator kondisi suhu tinggi

6

Buzzer

Memberikan peringatan suara

7

Wokwi

Simulator rangkaian dan mikrokontroler

 

Berdasarkan konfigurasi pada proyek wokwi, DHT22 terhubung dengan GPIO 15, LED hijau pada GPIO 2, LED merah pada GPIO , buzzer pada GPIO 5, sedangkan komunikasi I2C menggunakan GPIO 21 sebagai SDA dan GPIO 22 sebagai SCL.

 

BAB III

HASIL DAN PEMBAHASAN

 

3.1 Alat dan Bahan   

          Dalam perancangan sistem monitoring suhu dan kelembapan berbasis mikrokontroler ini, dibutuhkan beberapa perangkat keras (hardware) dan perangkat lunak (software) pendukung. Berikut adalah daftar alat dan bahan yang digunakan:

  1. ESP32 DevKit V4: Berfungsi sebagai mikrokontroler utama yang memproses data dari sensor dan mengatur logika keluaran perangkat.
  2. Sensor DHT22: Digunakan untuk mengukur suhu lingkungan (dalam derajat Celsius) dan kelembapan udara (dalam persen) dengan akurasi tinggi.
  3. LCD 16x2 (dengan modul I2C): Berfungsi sebagai media display visual untuk menampilkan informasi suhu, kelembapan, serta status sistem secara real-time.
  4. LED Hijau: Sebagai indikator visual bahwa kondisi suhu berada dalam batas normal.
  5. LED Merah: Sebagai indikator visual peringatan jika suhu melewati batas ambang (overheat).
  6. Buzzer: Berfungsi sebagai alarm suara darurat saat status sistem mendeteksi suhu tinggi.
  7. Resistor 220 Ohm (2 buah): Digunakan sebagai pembatas arus untuk komponen LED agar tidak cepat rusak.
  8. Breadboard dan Kabel Jumper: Sebagai media penghubung antar komponen elektronika.
  9. Platform Wokwi Simulator & MicroPython: Digunakan sebagai lingkungan simulasi rangkaian elektronik dan penulisan kode program.

 

3.2  Langkah - Langkah

          Tahapan perancangan, perakitan, hingga pengujian sistem pada simulator Wokwi dilakukan melalui langkah-langkah sistematis berikut:

  1. Persiapan Proyek di Wokwi:

a.                Membuka platform simulator Wokwi dan memilih board ESP32 DevKit V4 sebagai basis mikrokontroler.

b.               Menambahkan komponen pendukung ke lembar kerja simulasi, yaitu sensor DHT22, LCD 16x2 I2C, LED Hijau, LED Merah, Resistor, dan Buzzer.

  1. Perakitan Rangkaian (Wiring):

a.                Menghubungkan pin VCC dan GND sensor DHT22 ke sumber daya 3.3V dan Ground pada ESP32, serta menghubungkan pin data (SDA) ke Pin 15 ESP32.

b.               Menghubungkan modul I2C pada LCD 16x2 ke pin GPIO 21 (SDA) dan GPIO 22 (SCL) ESP32, serta menyambungkan jalur daya 5V dan GND.

c.                Menghubungkan anoda LED Hijau melalui resistor 220 Ohm ke Pin 2 ESP32, dan katodanya ke Ground.

d.               Menghubungkan anoda LED Merah melalui resistor 220 Ohm ke Pin 4 ESP32, dan katodanya ke Ground.

e.                Menghubungkan kutub positif Buzzer ke Pin 5 ESP32 dan kutub negatif ke Ground.

  1. Pemrograman Sistem (main.py):

a.                Menuliskan pustaka kelas mandiri (standalone driver) untuk mengatur komunikasi I2C LCD agar teks dapat dicetak dengan mudah pada layar 16x2.

b.               Menginisialisasi pin input untuk sensor DHT22 serta pin output untuk LED Hijau, LED Merah, dan Buzzer.

c.                Menetapkan batas ambang suhu (threshold) sebesar $30.0^\circ\text{C}$ (BATAS_SUHU = 30.0).

d.               Membuat looping utama (while True) agar sensor secara kontinu membaca suhu dan kelembapan setiap 2 detik sekali.

  1. Pengujian dan Analisis Logika:

a.                Kondisi Normal ($< 30.0^\circ\text{C}$): Jika suhu terbaca di bawah batas ambang, program akan menyalakan LED Hijau, mematikan LED Merah dan Buzzer, serta menampilkan status Status: Normal pada baris kedua LCD.

b.               Kondisi Peringatan / Overheat ($\ge 30.0^\circ\text{C}$): Jika suhu mencapai atau melebihi $30.0^\circ\text{C}$, program akan mematikan LED Hijau, menyalakan LED Merah serta Buzzer, dan menampilkan teks Status: OVERHEAT! pada LCD guna memperingatkan pengguna secara visual maupun audio.

 

3.3 Hasil Simulasi

Berdasarkan hasil simulasi, sistem pengawas suhu berhasil dirancang menggunakan ESP32 sebagai mikrokontroler, sensor DHT22 sebagai pembaca suhu dan kelembaban, LCD I2C sebagai media untuk menampilkan informasi, serta LED dan buzzer sebagai indikator kondisi suhu.

Pada saat sistem pertama kali dijalankan, LCD menampilkan pesan “Sistem Pengawas” dan “Suhu Ready...” selama beberapa detik. Setelah proses inisialisasi selesai, sistem mulai membaca data dari sensor DHT22 secara berkala setiap 2 detik.

Data suhu dan kelembaban yang diperoleh dari sensor ditampilkan pada LCD dengan format suhu dan kelembaban. Data tersebut juga ditampilkan melalui Serial Monitor sehingga kondisi sensor dapat dipantau secara langsung.

Sistem memiliki batas suhu sebesar 30°C. Apabila suhu yang terbaca kurang dari 30°C, sistem akan berada dalam kondisi normal. Pada kondisi tersebut, LED hijau menyala, LED merah dan buzzer dalam keadaan mati, serta LCD menampilkan “Status: Normal”.

Sebaliknya, apabila suhu mencapai atau melebihi 30°C, sistem akan mendeteksi kondisi suhu tinggi. LED merah akan menyala, LED hijau mati, buzzer aktif, dan LCD menampilkan “Status: OVERHEAT!” sebagai peringatan.

Hasil simulasi berdasarkan logika program dapat dirangkum pada tabel berikut.

Kondisi Suhu

LED Hijau

LED Merah

Buzzer

Status LCD

Suhu < 30 C

Menyala

Mati

Mati

Status : Normal

Suhu > 30 C

Mati

Menyala

Menyala

Status : OVERHEAT!

Rangkaian simulasi terdiri dari beberapa komponen utama. Sensor DHT22 terhubung ke GPIO 15 ESP32 untuk membaca data suhu dan kelembapan. LED hijau terhubung ke GPIO 2, LED merah terhubung ke GPIO 4, dan buzzer terhubung ke GPIO 5. LCD menggunakan komunikasi I2C dengan pin SDA pada GPIO 21 dan SCL pada GPIO 22.

Dengan demikian, hasil simulasi menunjukkan bahwa program telah menerapkan mekanisme pemantauan suhu dan pemberian peringatan berdasarkan nilai ambang yang telah ditentukan. Sistem dapat memberikan informasi kondisi lingkungan melalui LCD serta memberikan indikator visual dan suara ketika suhu mencapai kondisi yang dianggap tinggi.

 

BAB IV

KESIMPULAN DAN SARAN

4.1 Kesimpulan

Berdasarkan perancangan dan hasil simulasi sistem pengawas suhu menggunakan ESP32 dan sensor DHT22, dapat disimpulkan bahwa:

  1. Sistem berhasil dirancang untuk membaca suhu dan kelembaban menggunakan sensor DHT22 yang terhubung dengan ESP32.
  2. Data hasil pembacaan sensor dapat ditampilkan pada LCD I2C dan Serial Monitor sehingga kondisi lingkungan dapat dipantau secara langsung.
  3. Sistem menggunakan batas suhu 30°C sebagai acuan untuk menentukan kondisi normal atau suhu tinggi.
  4. Pada kondisi suhu normal, LED hijau menyala, sedangkan LED merah dan buzzer dalam keadaan mati.
  5. Pada kondisi suhu mencapai atau melebihi 30°C, LED merah dan buzzer aktif serta LCD memberikan informasi “Status: OVERHEAT!”.
  6. Sistem juga memiliki penanganan ketika sensor gagal dibaca dengan menampilkan pesan “Error Sensor!” pada LCD dan memberikan informasi kesalahan melalui Serial Monitor.
  7. Secara keseluruhan, simulasi menunjukkan bahwa ESP32 dapat digunakan untuk membangun sistem monitoring suhu sederhana dengan indikator visual dan suara berdasarkan kondisi yang telah ditentukan.

 

4.2 Saran

Beberapa pengembangan yang dapat dilakukan pada sistem ini adalah:

  1. Menambahkan penyimpanan data suhu dan kelembaban sehingga riwayat hasil pengukuran dapat digunakan untuk analisis.
  2. Mengembangkan sistem agar data sensor dapat dipantau melalui website atau aplikasi secara real-time menggunakan koneksi Wi-Fi ESP32.
  3. Menambahkan pengaturan batas suhu yang dapat diubah oleh pengguna, sehingga sistem dapat digunakan untuk berbagai kebutuhan.
  4. Menambahkan sensor atau perangkat lain agar sistem dapat melakukan tindakan otomatis, misalnya menyalakan kipas ketika suhu melebihi batas tertentu.
  5. Mengembangkan mekanisme notifikasi melalui internet sehingga pengguna dapat menerima peringatan ketika terjadi kondisi overheat meskipun tidak berada di dekat perangkat.
  6. Pada pengembangan perangkat keras, rangkaian dapat dibuat lebih rapi dan permanen menggunakan PCB atau breadboard yang tertata agar sistem lebih mudah digunakan dan dikembangkan.

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Codepolitan. (2014, September 9). Micro Python, bahasa Python untuk pemrograman mikrokontroller. https://www.codepolitan.com/blog/micropython-bahasa-python-untuk-memprogram-microcontroller

 

D3 Teknologi Telekomunikasi. (2025). Peran sensor DHT22 dalam monitoring lingkungan berbasis IoT. Telkom University. https://dte.telkomuniversity.ac.id/peran-sensor-dht22-dalam-monitoring-lingkungan-berbasis-iot/

 

HWLibre. (2020). DHT22 - sensor suhu dan kelembaban presisi. https://id.hwlibre.com/dht22/

 

Tecnoloblog. (2025). Apa itu ESP32: Mikrokontroler WiFi dan Bluetooth paling populer. https://www.tecnoloblog.com/id/apa-itu-esp32/

 

Wokwi. (n.d.). Smart AirSense ESP32. Wokwi ESP32, STM32, Arduino Simulator. https://wokwi.com/projects/475685454233162753

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar