LAPORAN PRAKTIKUM INTERNET OF
THINGS (IOT)
SIMULASI SISTEM MONITORING SUHU DAN
KELEMBAPAN BERBASIS ESP32 MENGGUNAKAN SENSOR DHT22 PADA WOKWI
Disusun Oleh :
Firman Nova Prayoga 24051204088
Haidar Ali Yafi 24051204111
Nita Aini Rohima 24051204217
Arsyanda Nareswari Widaryanto 24051204109
BAB I
PENDAHULUAN
1.1
Latar Belakang
Suhu
dan kelembapan merupakan dua parameter lingkungan kritis yang memengaruhi
berbagai sektor, mulai dari kenyamanan ruangan, kesehatan perangkat elektronik,
hingga stabilitas penyimpanan komoditas pada industri pangan dan pertanian.
Perubahan kondisi lingkungan yang tidak terawasi secara real-time dapat
menyebabkan kerusakan material maupun penurunan efisiensi kerja. Oleh karena
itu, diperlukan sebuah sistem monitoring lingkungan yang dapat menyajikan data
secara konstan dan akurat.
Perkembangan
teknologi Internet of Things (IoT) memungkinkan proses pemantauan
dilakukan secara otomatis dan terintegrasi. Mikrokontroler ESP32 menjadi
salah satu platform paling populer dalam implementasi IoT karena telah
dilengkapi dengan modul Wi-Fi dan Bluetooth bawaan, daya pemrosesan yang
tinggi, serta efisiensi konsumsi daya. Untuk membaca parameter lingkungan,
ESP32 dapat dihubungkan dengan sensor DHT22, yang memiliki tingkat
akurasi dan rentang pengukuran suhu maupun kelembapan lebih baik dibandingkan
pendahulunya (DHT11).
Namun,
perancangan hardware secara fisik sering kali menghadapi kendala keterbatasan
perangkat keras, risiko kerusakan komponen akibat kesalahan pengawatan, serta
biaya pengadaan. Platform simulasi Wokwi hadir sebagai solusi berbasis web-based
simulator yang memungkinkan pengujian kode program dan interaksi sirkuit
elektronik secara virtual sebelum dilakukan penataan fisik. Melalui simulasi
berbasis Wokwi ini, proses perancangan, pengujian logika program, dan
verifikasi pembacaan sensor DHT22 oleh ESP32 dapat dilakukan secara efisien,
aman, dan berbiaya nol.
1.2
Rumusan Masalah
Berdasarkan
latar belakang di atas, rumusan masalah dalam laporan ini adalah:
- Bagaimana
cara merangkai skematik sensor DHT22 dengan mikrokontroler ESP32 pada
platform simulasi Wokwi?
- Bagaimana
cara mengimplementasikan kode program (firmware) untuk membaca data
suhu dan kelembapan dari sensor DHT22 menggunakan ESP32?
- Bagaimana
performa dan tingkat keakuratan simulasi Wokwi dalam menampilkan data
perubahan suhu dan kelembapan secara real-time?
1.3
Tujuan Laporan
Tujuan
dari penyusunan laporan ini adalah:
- Memahami
konfigurasi perangkat keras:
Menjelaskan alur koneksi pin dan skematik antara sensor DHT22 dan
mikrokontroler ESP32 di dalam lingkungan virtual Wokwi.
- Mengembangkan
logika pemrograman:
Menyusun dan menguji kode program berbasis C/C++ (Arduino IDE) untuk
memproses sinyal dari sensor DHT22 menjadi nilai suhu (°C) dan kelembapan
(%).
- Menganalisis
hasil simulasi:
Memverifikasi respons dan keandalan pembacaan data sensor saat kondisi
parameter lingkungan diubah pada platform Wokwi.
1.4
Manfaat Laporan
Manfaat
dari praktikum ini antara lain :
- Menambha
pemahaman mengenai penggunaan ESP32
- Menambah
pengetahuan mengenai sensor DHT22
- Memahami
komunikasi I2C pada LCD
- Melatih
kemampuan pemrograman mikrokontroler menggunakan MicroPython
- Memahami
penerapan sistem monitoring suhu dan kelembapan secara otomatis
- Memberikan
pengalaman dalam melakukan simulasi rangkaian elektronik menggunakan wokwi
- Menjadi
dasar untuk Pengembangan sistem monitoring lingkungan berbasis IoT
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1
Dasar Teori
2.1.1
ESP32
ESP32
adalah keluarga sistem-on-chip (SoC) berbiaya rendah dan hemat daya yang dibuat
oleh Espressif Systems. Dirancang untuk aplikasi yang membutuhkann konektivitas
nirkabel dan fleksibilitas, dan merupakan penerus langsung dari ESP28266 yang
terkenal. Keberhasilannya terletak pada penggabungan fungsi mikrokontroler
tradisional, dengan kemampuan komunikasi dan pemrosesan digital tingkat lanjut.
ESP32
bukan sekedar chip, tetapi sebuah keluarga yang mencakup berbagai varian dan
modul seperi ESP32-WROOM, ESP32-WROVER, dan ESP32-MINI. Berkat keragaman ini,,
dimungkinkan untuk menemukan papan pengembangan dan modul untuk hampir semua
aplikasi, mulai dari sensor sajar jauh hingga web server tertanam dan
pengontrol otomatisasi rumah.
Salah
satu alasan ESP32 begitu menonjol adalah daftar teknologi dan fitur mengesankan
yang ditawarkannya untuk ukuran dan harganya yang kecil.
- Prosesor
yang kuatInti
utamanya adalah prosesor Xtensa LX6 32-bit dual-core (meskipun versi
single-core juga tersedia), yang mampu beroperasi pada frekuensi 160 atau
240 MHz dan dengan kinerja hingga 600 DMIPS. Prosesor ini juga dilengkapi
koprosesor daya ultra-rendah (ULP) untuk tugas-tugas yang membutuhkan
konsumsi energi maksimum.
- Memori
terintegrasiDilengkapi
SRAM 520 KB untuk operasi cepat, beserta memori flash, NVRAM, dan opsi
penyimpanan lain untuk data dan firmware. Opsi memori eksternal umumnya
tersedia untuk ekspansi lebih lanjut.
- Konektivitas
nirkabel tingkat lanjut:
Termasuk Wi-Fi 802.11 b/g/n dan Bluetooth 4.2 (mendukung BR/EDR dan BLE),
yang memungkinkan ESP32 terhubung dengan mudah ke jaringan, perangkat
seluler, dan pengontrol lainnya.
- Banyaknya
antarmuka periferal:
ADC 12-bit dengan hingga 18 saluran, DAC 8-bit, sensor kapasitif, hingga 4
antarmuka SPI, 2 I²S, 2 I²C, 3 UART, pengontrol kartu SD, antarmuka jarak
jauh inframerah, PWM untuk LED dan motor, sensor efek Hall, CAN, Ethernet
MAC, dan banyak lagi.
- Keamanan
Lanjutan: :
Dukungan untuk standar keamanan Wi-Fi (WPA/WPA2, WFA, WAPI), boot aman,
enkripsi memori flash, kriptografi yang dipercepat perangkat keras (AES,
SHA-2, RSA, ECC, pembuatan angka acak), penyimpanan OTP hingga 1024-bit,
dan banyak lagi.
- konsumsi
daya rendahESP32
dapat mencapai konsumsi daya serendah 5μA dalam mode tidur nyenyak, dan
memungkinkan pengaturan daya terperinci untuk memaksimalkan masa pakai
baterai pada perangkat portabel.
2.1.2
Sensor DHT22
DHT22
adalah sensor suhu dan kelembaban dengan kinerja yang menyaingi model presisi
tinggi . Sensor ini mudah didapatkan di toko khusus atau pengecer besar . Hal
ini memungkinkan Anda untuk mengintegrasikan semuanya ke dalam satu perangkat,
sehingga menghilangkan kebutuhan akan sensor suhu dan kelembaban terpisah.
DHT22,
atau dikenal juga dengan nama AM2302, adalah sensor digital yang digunakan
untuk mengukur suhu dan kelembapan udara. Sensor ini mampu memberikan data yang
cukup akurat dan stabil, membuatnya sangat cocok untuk digunakan dalam berbagai
sistem monitoring berbasis IoT. DHT22 memiliki spesifikasi teknis sebagai
berikut:
- Rentang
pengukuran suhu: -40 hingga +80°C dengan akurasi ±0.5°C
- Rentang
pengukuran kelembapan: 0% hingga 100% RH dengan akurasi ±2–5% RH
- Tegangan
operasi: 3.3V hingga 6V
- Frekuensi
sampling: Sekitar 0.5 Hz (pembaruan data setiap 2 detik)
- Interface:
Digital single-wire (one-wire)
Dibandingkan
dengan “saudara”-nya, DHT11, DHT22 menawarkan rentang pengukuran yang lebih
luas dan akurasi yang lebih baik, meskipun dengan harga yang sedikit lebih
mahal.
Sensor
DHT22 (juga dikenal sebagai AM2302) merupakan sensor digital yang banyak
digunakan dalam proyek-proyek IoT untuk mengukur suhu dan kelembapan
lingkungan. Sensor ini menjadi pilihan utama karena menawarkan kombinasi antara
presisi, efisiensi, kemudahan penggunaan, serta biaya yang rendah. Berikut
penjabaran lengkap dari keunggulan-keunggulannya:
- Akurasi
Tinggi
DHT22
dirancang untuk memberikan pengukuran suhu dan kelembapan yang cukup akurat,
menjadikannya andalan dalam aplikasi yang membutuhkan data lingkungan yang
presisi. Sensor ini memiliki spesifikasi akurasi ±0.5°C untuk suhu dan ±2%–5%
RH (Relative Humidity) untuk kelembapan. Dibandingkan dengan model pendahulunya
seperti DHT11, DHT22 memiliki performa yang jauh lebih baik terutama dalam
pengukuran kelembapan.
2.
Mudah
Digunakan
DHT22
dirancang agar dapat digunakan oleh pengguna dari berbagai tingkat keahlian,
dari pemula hingga profesional. Sensor ini memiliki antarmuka satu kabel
(single-wire digital interface) yang sangat sederhana dan hemat pin, sehingga
mudah dihubungkan dengan mikrokontroler atau papan pengembangan seperti Arduino
dan ESP32.
Selain
itu, dukungan pustaka (library) yang sangat luas untuk berbagai bahasa
pemrograman—seperti C/C++ (Arduino), MicroPython, dan Python (Raspberry Pi)—membuat
integrasi DHT22 menjadi sangat praktis. Pustaka ini biasanya sudah menangani
seluruh proses komunikasi data, konversi, dan validasi checksum, sehingga
pengguna hanya perlu memanggil fungsi sederhana untuk mendapatkan data suhu dan
kelembapan.
Komunitas
pengguna DHT22 juga sangat aktif, menyediakan banyak tutorial, dokumentasi, dan
proyek open-source yang bisa dijadikan referensi atau bahan belajar.
3.
Konsumsi
Daya Rendah
Dalam
proyek IoT, terutama yang berbasis baterai atau menggunakan sumber daya
alternatif seperti panel surya, efisiensi energi menjadi faktor penting. DHT22
hanya mengonsumsi daya saat mengambil pembacaan data dan akan masuk ke mode
low-power ketika tidak digunakan. Ini berarti sensor hanya aktif beberapa
milidetik setiap pengambilan data, lalu kembali ke keadaan diam (idle) yang
menghemat energi.
4.
Harga
Terjangkau
DHT22
menawarkan keseimbangan yang sangat baik antara performa dan harga. Meskipun
lebih mahal dibandingkan DHT11, perbedaan harganya masih tergolong kecil,
terutama jika dibandingkan dengan sensor suhu dan kelembapan kelas industri.
Untuk proyek-proyek dengan anggaran terbatas—seperti eksperimen pendidikan,
prototipe, atau deployment sensor dalam jumlah besar—DHT22 memberikan nilai
yang sangat baik.
5.
Kompatibilitas
Luas
Salah
satu kekuatan utama DHT22 adalah kemampuannya untuk diintegrasikan dengan
berbagai platform dan ekosistem pengembangan. Baik Anda menggunakan Arduino,
ESP8266, ESP32, Raspberry Pi, STM32, NodeMCU, atau bahkan menggunakan platform
seperti Wokwi untuk simulasi, DHT22 dapat digunakan dengan mudah.
Kompatibilitas
ini tidak hanya terbatas pada perangkat keras, tetapi juga pada ekosistem
perangkat lunak. Library seperti Adafruit_DHT untuk Python dan DHT untuk
Arduino sangat populer dan terus diperbarui oleh komunitas. Integrasi dengan
platform IoT seperti Blynk, ThingsBoard, atau MQTT broker juga memungkinkan
pengguna membangun sistem monitoring lingkungan berbasis cloud dengan sedikit
usaha.
Dengan
dukungan komunitas yang luas, pengguna dapat menemukan banyak contoh kode,
dokumentasi teknis, dan forum diskusi untuk memecahkan berbagai permasalahan
integrasi atau penggunaan.
6.
Rentang
Pengukuran Luas
DHT22
dapat bekerja dalam rentang suhu dari -40°C hingga +80°C dan rentang kelembapan
dari 0% hingga 100% RH, yang jauh lebih luas dibandingkan dengan sensor DHT11
yang hanya mendukung -0°C hingga +50°C. Rentang ini memungkinkan DHT22 untuk
digunakan dalam kondisi lingkungan ekstrem, baik di daerah bersuhu sangat
rendah (seperti ruang dingin) maupun bersuhu tinggi (seperti area industri
ringan).
Rentang
kelembapan yang mencakup seluruh spektrum 0% hingga 100% RH menjadikannya
sangat fleksibel untuk memantau lingkungan tertutup dan terbuka. DHT22 juga
memiliki kemampuan untuk menghindari kondensasi, sehingga cocok digunakan di
area dengan fluktuasi kelembapan yang tinggi.
7.
Stabilitas
dan Umur Panjang
DHT22
memiliki desain yang solid dan komponen internal yang telah dikalibrasi secara
digital dari pabrik, sehingga menghasilkan stabilitas pengukuran yang tinggi
dari waktu ke waktu. Sensor ini juga relatif tahan terhadap debu dan gangguan
elektromagnetik ringan, menjadikannya andal dalam penggunaan jangka panjang di
berbagai kondisi lingkungan.
Umur
pemakaian yang panjang dan minimnya kebutuhan kalibrasi ulang menjadikannya
pilihan yang tepat untuk sistem monitoring permanen yang membutuhkan perawatan
minimal. Bahkan dalam kondisi yang cukup menantang, DHT22 masih mampu
memberikan pembacaan yang stabil tanpa penurunan kualitas data secara
signifikan.
2.1.3
LCD I2C
LCD
digunakan sebagai media untuk menampilkan informasi hasil pembacaan sensor.
Pada proyek ini digunakan LCD dengan antarmuka I2C.
Komunikasi
I2C memungkinkan perangkat berkomunikasi menggunakan jalur SDA dan SCL. Pada
proyek, pin SDA menggunakan GPIO 21 dan SCL menggunakan GPIO 22. LCD
menggunakan alamat I2C 0x27.
2.1.4
LED
LED
digunakan sebagai indikator visual kondisi sistem. Pada rangkaian terdapat dua
LED, yaitu LED hijau dan LED merah.
LED
hijau menyala ketika kondisi suhu masih normal. LED merah menyala ketika suhu
mencapai atau melebihi batas yang telah ditentukan.
2.1.5
Buzzer
Buzzer
merupakan komponen yang menghasilkan suara sebagai indikator atau alarm. Pada
sistem ini buzzer digunakan sebagai peringatan ketika kondisi suhu berada pada
kategori tinggi.
Buzzer
terhubung ke GPIO 5 ESP32. Ketika suhu mencapai batas 30°C, buzzer diaktifkan
bersama dengan LED merah.
2.1.6
MicroPython
Micro
Python, varian dari bahasa pemrograman Python 3 yang dapat berjalan di
mikrokontroller. Python selama ini dikenal sebagai bahasa pemrograman populer
yang mudah dipelajari dengan penulisan sintaks yang sederhana. Dengan Micro
Python Kamu bisa bikin proyek robotika Kamu dengan lebih mudah dan cepat.
Damien
George pembuat Micro Python membuat varian Python tersebut dengan menulis ulang
dari nol menggunakan bahasa C dengan mengimplementasikan sintaks gramatikal
Python, mencakup parser, compiler, vitrual machine, runtime system, garbage
collector, dan support library agar dapat berjalan pada mikroprosessor.
Kelebihan
Micro Python ini, selain fiturnya yang beragam dengan ukuran yang kecil (4 cm x
3,3 cm), kode program ditulis dalam file berekstensi .py dan dapat langsung
disimpan di dalam flash memory pada Python board. Proses compiling dilakukan
langsung di dalam microprocessor sehingga tidak diperlukan software downloader
pada PC. Hal ini sangat memudahkan proses pembuatan dan uji coba program.
Selain itu, Micro Python juga dilengkapi dengan REPL (Read Evaluate Print Loop)
atau interactive prompt yang memungkinkan kita untuk mengakses langsung Python
board, mencoba-coba kode program dan melihat hasilnya saat itu juga.
2.1.7
Wokwi
Wokwi
merupakan simulator elektronik yang dapat digunakan untuk melakukan simulasi
berbagai mikrokontroler, sensor, display, dan komponen elektronik. Wokwi
mendukung keluarga ESP32 dan berbagai komponen sensor.
Penggunaan
Wokwi dalam praktikum memungkinkan proses perancangan dan pengujian dilakukan
secara virtual sebelum rangkaian diterapkan pada perangkat keras sebenarnya.
2.2
Komponen
|
No |
Komponen |
Fungsi |
|
1 |
ESP32 |
Mikrokontroler
utama dan pengendali sistem |
|
2 |
DHT22 |
Mengukur
suhu dan kelembapan |
|
3 |
LCD
I2C |
Menampilkan
hasil pengukuran dan status sistem |
|
4 |
LED
Hijau |
Indikator
kondisi suhu normal |
|
5 |
LED
Merah |
Indikator
kondisi suhu tinggi |
|
6 |
Buzzer |
Memberikan
peringatan suara |
|
7 |
Wokwi |
Simulator
rangkaian dan mikrokontroler |
Berdasarkan
konfigurasi pada proyek wokwi, DHT22 terhubung dengan GPIO 15, LED hijau pada
GPIO 2, LED merah pada GPIO , buzzer pada GPIO 5, sedangkan komunikasi I2C
menggunakan GPIO 21 sebagai SDA dan GPIO 22 sebagai SCL.
BAB III
HASIL DAN PEMBAHASAN
3.1
Alat dan Bahan
Dalam
perancangan sistem monitoring suhu dan kelembapan berbasis mikrokontroler ini,
dibutuhkan beberapa perangkat keras (hardware) dan perangkat lunak (software)
pendukung. Berikut adalah daftar alat dan bahan yang digunakan:
- ESP32
DevKit V4:
Berfungsi sebagai mikrokontroler utama yang memproses data dari sensor dan
mengatur logika keluaran perangkat.
- Sensor
DHT22:
Digunakan untuk mengukur suhu lingkungan (dalam derajat Celsius) dan
kelembapan udara (dalam persen) dengan akurasi tinggi.
- LCD
16x2 (dengan modul I2C):
Berfungsi sebagai media display visual untuk menampilkan informasi suhu,
kelembapan, serta status sistem secara real-time.
- LED
Hijau:
Sebagai indikator visual bahwa kondisi suhu berada dalam batas normal.
- LED
Merah:
Sebagai indikator visual peringatan jika suhu melewati batas ambang
(overheat).
- Buzzer: Berfungsi sebagai alarm
suara darurat saat status sistem mendeteksi suhu tinggi.
- Resistor
220 Ohm (2 buah):
Digunakan sebagai pembatas arus untuk komponen LED agar tidak cepat rusak.
- Breadboard
dan Kabel Jumper:
Sebagai media penghubung antar komponen elektronika.
- Platform
Wokwi Simulator & MicroPython:
Digunakan sebagai lingkungan simulasi rangkaian elektronik dan penulisan
kode program.
3.2
Langkah - Langkah
Tahapan
perancangan, perakitan, hingga pengujian sistem pada simulator Wokwi dilakukan
melalui langkah-langkah sistematis berikut:
- Persiapan
Proyek di Wokwi:
a.
Membuka
platform simulator Wokwi dan memilih board ESP32 DevKit V4 sebagai basis
mikrokontroler.
b.
Menambahkan
komponen pendukung ke lembar kerja simulasi, yaitu sensor DHT22, LCD 16x2 I2C,
LED Hijau, LED Merah, Resistor, dan Buzzer.
- Perakitan
Rangkaian (Wiring):
a.
Menghubungkan
pin VCC dan GND sensor DHT22 ke sumber daya 3.3V dan Ground pada
ESP32, serta menghubungkan pin data (SDA) ke Pin 15 ESP32.
b.
Menghubungkan
modul I2C pada LCD 16x2 ke pin GPIO 21 (SDA) dan GPIO 22 (SCL)
ESP32, serta menyambungkan jalur daya 5V dan GND.
c.
Menghubungkan
anoda LED Hijau melalui resistor 220 Ohm ke Pin 2 ESP32, dan katodanya
ke Ground.
d.
Menghubungkan
anoda LED Merah melalui resistor 220 Ohm ke Pin 4 ESP32, dan katodanya
ke Ground.
e.
Menghubungkan
kutub positif Buzzer ke Pin 5 ESP32 dan kutub negatif ke Ground.
- Pemrograman
Sistem (main.py):
a.
Menuliskan
pustaka kelas mandiri (standalone driver) untuk mengatur komunikasi I2C
LCD agar teks dapat dicetak dengan mudah pada layar 16x2.
b.
Menginisialisasi
pin input untuk sensor DHT22 serta pin output untuk LED Hijau, LED Merah, dan
Buzzer.
c.
Menetapkan
batas ambang suhu (threshold) sebesar $30.0^\circ\text{C}$ (BATAS_SUHU =
30.0).
d.
Membuat
looping utama (while True) agar sensor secara kontinu membaca suhu dan
kelembapan setiap 2 detik sekali.
- Pengujian
dan Analisis Logika:
a.
Kondisi
Normal ($< 30.0^\circ\text{C}$):
Jika suhu terbaca di bawah batas ambang, program akan menyalakan LED Hijau,
mematikan LED Merah dan Buzzer, serta menampilkan status Status: Normal pada
baris kedua LCD.
b.
Kondisi
Peringatan / Overheat ($\ge 30.0^\circ\text{C}$): Jika suhu mencapai atau melebihi
$30.0^\circ\text{C}$, program akan mematikan LED Hijau, menyalakan LED Merah
serta Buzzer, dan menampilkan teks Status: OVERHEAT! pada LCD guna
memperingatkan pengguna secara visual maupun audio.
3.3
Hasil Simulasi
Berdasarkan
hasil simulasi, sistem pengawas suhu berhasil dirancang menggunakan ESP32
sebagai mikrokontroler, sensor DHT22 sebagai pembaca suhu dan kelembaban, LCD
I2C sebagai media untuk menampilkan informasi, serta LED dan buzzer sebagai
indikator kondisi suhu.
Pada
saat sistem pertama kali dijalankan, LCD menampilkan pesan “Sistem Pengawas”
dan “Suhu Ready...” selama beberapa detik. Setelah proses inisialisasi selesai,
sistem mulai membaca data dari sensor DHT22 secara berkala setiap 2 detik.
Data
suhu dan kelembaban yang diperoleh dari sensor ditampilkan pada LCD dengan
format suhu dan kelembaban. Data tersebut juga ditampilkan melalui Serial
Monitor sehingga kondisi sensor dapat dipantau secara langsung.
Sistem
memiliki batas suhu sebesar 30°C. Apabila suhu yang terbaca kurang dari 30°C,
sistem akan berada dalam kondisi normal. Pada kondisi tersebut, LED hijau
menyala, LED merah dan buzzer dalam keadaan mati, serta LCD menampilkan
“Status: Normal”.
Sebaliknya,
apabila suhu mencapai atau melebihi 30°C, sistem akan mendeteksi kondisi suhu
tinggi. LED merah akan menyala, LED hijau mati, buzzer aktif, dan LCD
menampilkan “Status: OVERHEAT!” sebagai peringatan.
Hasil
simulasi berdasarkan logika program dapat dirangkum pada tabel berikut.
|
Kondisi Suhu |
LED Hijau |
LED Merah |
Buzzer |
Status LCD |
|
Suhu
< 30 C |
Menyala |
Mati |
Mati |
Status
: Normal |
|
Suhu
> 30 C |
Mati |
Menyala |
Menyala |
Status
: OVERHEAT! |
Rangkaian
simulasi terdiri dari beberapa komponen utama. Sensor DHT22 terhubung ke GPIO
15 ESP32 untuk membaca data suhu dan kelembapan. LED hijau terhubung ke GPIO 2,
LED merah terhubung ke GPIO 4, dan buzzer terhubung ke GPIO 5. LCD menggunakan
komunikasi I2C dengan pin SDA pada GPIO 21 dan SCL pada GPIO 22.
Dengan
demikian, hasil simulasi menunjukkan bahwa program telah menerapkan mekanisme
pemantauan suhu dan pemberian peringatan berdasarkan nilai ambang yang telah
ditentukan. Sistem dapat memberikan informasi kondisi lingkungan melalui LCD
serta memberikan indikator visual dan suara ketika suhu mencapai kondisi yang
dianggap tinggi.
BAB IV
KESIMPULAN DAN SARAN
4.1
Kesimpulan
Berdasarkan
perancangan dan hasil simulasi sistem pengawas suhu menggunakan ESP32 dan
sensor DHT22, dapat disimpulkan bahwa:
- Sistem
berhasil dirancang untuk membaca suhu dan kelembaban menggunakan sensor
DHT22 yang terhubung dengan ESP32.
- Data
hasil pembacaan sensor dapat ditampilkan pada LCD I2C dan Serial Monitor
sehingga kondisi lingkungan dapat dipantau secara langsung.
- Sistem
menggunakan batas suhu 30°C sebagai acuan untuk menentukan kondisi normal
atau suhu tinggi.
- Pada
kondisi suhu normal, LED hijau menyala, sedangkan LED merah dan buzzer
dalam keadaan mati.
- Pada
kondisi suhu mencapai atau melebihi 30°C, LED merah dan buzzer aktif serta
LCD memberikan informasi “Status: OVERHEAT!”.
- Sistem
juga memiliki penanganan ketika sensor gagal dibaca dengan menampilkan
pesan “Error Sensor!” pada LCD dan memberikan informasi kesalahan melalui
Serial Monitor.
- Secara
keseluruhan, simulasi menunjukkan bahwa ESP32 dapat digunakan untuk
membangun sistem monitoring suhu sederhana dengan indikator visual dan
suara berdasarkan kondisi yang telah ditentukan.
4.2
Saran
Beberapa
pengembangan yang dapat dilakukan pada sistem ini adalah:
- Menambahkan
penyimpanan data suhu dan kelembaban sehingga riwayat hasil pengukuran
dapat digunakan untuk analisis.
- Mengembangkan
sistem agar data sensor dapat dipantau melalui website atau aplikasi
secara real-time menggunakan koneksi Wi-Fi ESP32.
- Menambahkan
pengaturan batas suhu yang dapat diubah oleh pengguna, sehingga sistem
dapat digunakan untuk berbagai kebutuhan.
- Menambahkan
sensor atau perangkat lain agar sistem dapat melakukan tindakan otomatis,
misalnya menyalakan kipas ketika suhu melebihi batas tertentu.
- Mengembangkan
mekanisme notifikasi melalui internet sehingga pengguna dapat menerima
peringatan ketika terjadi kondisi overheat meskipun tidak berada di dekat
perangkat.
- Pada
pengembangan perangkat keras, rangkaian dapat dibuat lebih rapi dan
permanen menggunakan PCB atau breadboard yang tertata agar sistem lebih
mudah digunakan dan dikembangkan.
DAFTAR PUSTAKA
Codepolitan.
(2014, September 9). Micro Python, bahasa Python untuk pemrograman
mikrokontroller.
https://www.codepolitan.com/blog/micropython-bahasa-python-untuk-memprogram-microcontroller
D3
Teknologi Telekomunikasi. (2025). Peran sensor DHT22 dalam monitoring
lingkungan berbasis IoT. Telkom University.
https://dte.telkomuniversity.ac.id/peran-sensor-dht22-dalam-monitoring-lingkungan-berbasis-iot/
HWLibre.
(2020). DHT22 - sensor suhu dan kelembaban presisi. https://id.hwlibre.com/dht22/
Tecnoloblog.
(2025). Apa itu ESP32: Mikrokontroler WiFi dan Bluetooth paling populer. https://www.tecnoloblog.com/id/apa-itu-esp32/
Wokwi.
(n.d.). Smart AirSense ESP32. Wokwi ESP32, STM32, Arduino Simulator. https://wokwi.com/projects/475685454233162753
Tidak ada komentar:
Posting Komentar